Gelap. Ini sungguh gelap.
Aku pun tidak dapat bergerak sedikit pun. Tidak ada kah yang bisa menolongku? Ah, aku tau apa yang sedang terjadi dan kalian pasti sudah tau.
Tidak dapat bergerak, tidak dapat berbicara dalam keadaan tidur. Apalagi kalau bukan ketindihan. Beruntunglah, karena kamar yang kutempati bersama adikku ini gelap jadi tidak terlihat apapun yang menakutkan.
Kecuali satu, bayang-bayang di dekat jendela itu mendekatiku. Tangannya mencoba menggapaiku. Aku tidak bisa bergerak, astaga, aku takut sekali. Siapa saja, tolong aku.
Tak butuh waktu lama, aku tersentak kaget. Tersadar dan bersyukur karena bisa bangun dan selamat dari ketindihan itu. Sontak saja, aku berlari menuju kamar ibu dan mengadu.
"Bu, aku mimpi buruk!" ujarku.
"Ya sudah, tidur saja sini." Ibu membalas.
Namun, betapa terkejutnya diriku saat pagi ketika mendapati kamarku yang penuh bercak darah. Ternyata itu bukan hantu yang ada saat ketindihan. Aku terbujur kaku karena ketakutan, bukan karena ketindihan.
Dan sosok bayang itu ternyata adalah perampok yang membunuh adikku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putaverunt
Short Story"Putaverunt, yang artinya pikiran. Di mana buku ini hanya berisi cerita pendek yang berasal dari pikiranku." Goresan pena penuh kegelapan mulai menghantuiku. Tak ingin sia-sia, segera kutuai dalam sebuah kertas putih bersih, membagikannya ke pada si...
