Sakit.
SAKIT. SAKIT. SAKIT. SAKIT. SAKIT!
Kenapa selalu dia saja yang merasa sakit? Padahal aku juga sama! Aku menderita karena tidak bisa lepas dari sini, mengikuti segala kemauan dan titahnya. Lalu, dia merasa dirinya lah yang paling kasihan di dunia ini? Jangan bercanda! Dia membuatku sangat muak, sesak, dan mati!
Kalau berkali-kali kutikam bilah besi yang tipis di dadanya itu, apakah aku akan merasa lega? Tidak berguna, semuanya tidak berguna! Baik aku maupun dia, seharusnya kita semua mati saja! Dunia ini bajingan, aku membencinya.
Aku benci melihat mereka yang bahagia, sementara aku harus tertatih-tatih penuh kesakitan di sini. Dirantai olehnya, namun tak kunjung mendapatkan rasa senang. Bagaimana agar bisa seperti mereka? Aku iri, aku benci, aku ingin!
Jikalau kuledakkan rumah ini dan pergi ke alam sana, apakah rasa muakku akan reda? Atau dia saja yang perlu mati?
Oh, terlambat.
Aku sudah terlebih dahulu mendorongnya ke tepi jurang di mana kami berlibur. Senyum di wajahku nampak lebar, membentuk ekspresi yang tak tertahankan. Dia menghilang... tidak begitu mengejutkan tapi rasa sakit ini hilang.
AH, SUDAH KUDUGA!
DIALAH SUMBER DARI MALAPETAKA YANG SAKIT INI.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putaverunt
Short Story"Putaverunt, yang artinya pikiran. Di mana buku ini hanya berisi cerita pendek yang berasal dari pikiranku." Goresan pena penuh kegelapan mulai menghantuiku. Tak ingin sia-sia, segera kutuai dalam sebuah kertas putih bersih, membagikannya ke pada si...
