.
Di sini, tergeletak kenangan memori yang dingin. Sesuatu yang terasa familiar sekaligus asing. Berandai-andai, mengapa bisa memilikinya? Padahal tubuh ini usang, termakan oleh waktu dan sekitarnya. Ekspektasi dihancurkan oleh realita, menuntun diriku untuk melepas segalanya, tak mampu lagi berpegangan pada sesuatu, bahkan seutas tali pun.
Di sini, tersisa cahaya dengan rona kebiruan, memancarkan sensasi kelamnya. Tak ada yang tahu, asal cahaya tersebut dari mana. Hanya saja, aku bisa menerka, bahwa itu ditenggelamkan oleh yang punya. Memaksa aliran hangat dan cerah itu menjadi sirna, ditekan oleh dunia yang kejam.
Di sini, penuh akan harapan orang lain, namun kosong akan harapanku sendiri. Didorong, tertekan, dan penuh, hingga terasa tak mampu lagi bernapas. Ingin lari, tetapi tidak bisa. Beban semakin berat, seolah menguliti kulit punggung yang menjadi topangan.
Di sini, hanya ada aku dengan diriku sendiri.
Menatap diri beberapa waktu silam yang penuh canda tawa. Lantunan nada membuncahkan energi, menghibur kala patah semangat. Berbagai warna membuka potensi membayangkan masa depan yang tak akan pernah terjadi. Sungguh mengecewakan.
Bisakah aku melompat saja?
Dengan begitu, aku akan terlepas dari sini, dari dunia yang membelengguku, dan dari diriku sendiri yang sudah putus asa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putaverunt
Conto"Putaverunt, yang artinya pikiran. Di mana buku ini hanya berisi cerita pendek yang berasal dari pikiranku." Goresan pena penuh kegelapan mulai menghantuiku. Tak ingin sia-sia, segera kutuai dalam sebuah kertas putih bersih, membagikannya ke pada si...
