Aku berjalan―ah ralat, aku terbang mengelilingi kota. Tentu saja, tubuhku kan sedang melayang. Berbalut kain putih yang membungkus kulit pucatku, iris biruku terpaku, menatap sekumpulan sosok yang berasal bukan dari duniaku.
Pemandangan yang biasa, tak menarik, tak ada yang khusus untuk diperhatikan.
Hingga ...
Perjalananku terhenti ketika mendengar suara yang sangat ribut.
"Kau ini! Daritadi kerjanya seperti ini mulu. Ga becus, katanya mau dapat uang." Sang pemilik suara berseru dengan angkuh, melipat kedua tangannya, menatap rendah seorang gadis dengan perawakan kusam bagai tak pernah dibersihkan.
Gadis itu, memeluk kaki wanita yang terlihat seperti 30 tahun―sang pemilik suara tersebut―berusaha meminta maaf.
Tatapan kasian banyak dilayangkan oleh orang-orang yang lewat. Begitu pula diriku yang merupakan makhluk tak kasat mata ini. Namun, mau diapa. Jika kekuasaan dan kekayaan dapat mengatur segalanya, maka para saksi hanya bisa diam menutup mulut.
Wanita itu kaya, maka tidak ada yang berani menegur sikapnya yang kurang ajar ditambah keterlaluan.
"Maafkan aku, apa ada yang salah disini?" tanya sebuah suara pemuda yang menginterupsi kedua kaum hawa itu.
Gadis itu menengadah, dengan mata sembabnya menatap bingung pemuda pemilik senyum secerah matahari tersebut.
Wanita itu diam lalu memamerkan senyum yang amat sangat ramah. Haha, mungkin saja terpukau dengan ketampanan anak Adam itu. Dasar manusia.
"Ga ada apa-apa, kok. Gadis ini hanya melakukan kesalahan. Jadi yah, sudah sepantasnya dia seperti ini."
Pemuda bersurai hitam legam itu menatapnya dengan tidak terima. Sepertinya berusaha protes dengan sosok yang―sepertinya lebih tua di hadapannya itu, melihat dari tampangnya yang mulai dipenuhi dengan keriput.
"Bagaimana kalau aku membawanya? Agar nona tidak perlu kesusahan lagi."
Oh, budak kah? Tapi, wanita itu tadi bilang bekerja, batinku sembari menautkan alis berusaha mencerna alur cerita di hadapanku.
Wanita itu terdiam sejenak, memikirkan dengan keras agar mendapat jawaban yang membuat hatinya puas. Senyum ramah yang tadi terulas dengan baik, berganti menjadi tatapan sinis.
"Baiklah, tapi kau harus membelinya. Dia bekerja menjadi budakku sangat ga becus," ketusnya.
Heh, benar dugaanku.
Lantas, pemuda itu mengeluarkan sebuah kertas miliknya, memberikannya dengan cuma-cuma. Mungkin saja itu secarik rekening atau sejenisnya? Yah, aku tidak tau karena mati saat belum mempunyainya. Pemuda itu pun menarik tangan gadis itu, mengajaknya untuk pergi. Di balik sana, wanita itu mendecih pelan. Nampaknya iris dengan gadis itu. "Lihat saja nanti, aku pasti bisa."
Ah, ending yang bahagia 'kah?
Hish, padahal aku inginnya ending yang buruk. Biar lebih menghiburku. Aku bosan dengan segala kelembutan romansa yang biasanya aku lewati di taman.
Dan sekarang, aku harus melihatnya lagi? Hah ... Aku menghela napas, memutuskan untuk kembali berkeliling kota. Siapa tau menemukan hal yang bagus dan menarik perhatianku.
Dan tepat saja, keesokan harinya, aku terpaku menatap layar televisi.
Layar itu menampilkan sebuah berita tentang kasus pembunuhan. Dan lebih ngerinya lagi―walau untuk ukuran hantu sepertiku itu biasa saja―yang menjadi korban adalah gadis yang kulihat kemarin.
"Pa, kenapa pembunuhan sekarang makin mengerikan, yah. Kasian gadis itu, masih muda tapi harus meregang nyawa dengan cara yang tidak lazim." Ibu bersurai hitam legam itu menatap kasian ke arah televisi sembari mengurus anak lelakinya yang masih berumur belasan tahun.
Papa, yang dipanggil tersebut adalah seorang pria paruh baya yang merupakan suami dari wanita tersebut mengangguk pelan.
"Yah, kepala dan badannya dipisah. Sungguh kejam..."
Kemudian, pria itu menoleh, menatap dengan seksama wajah istrinya. "Ngomong-ngomong ma, dimana kakak? Pergi keluar lagi?"
Sang Ibu hanya mengangguk mengiyakan. "Iya pa, kemarin juga dia keluar."
Aku yang ikut duduk di depan layar televisi―sosokku tentu saja tak dilihat mereka―hanya bisa tersenyum senang.
Sungguh, ternyata yang kemarin bukanlah ending-nya melainkan saat ini adalah ending dari gadis itu. Tapi yang mengherankan, siapa yang membunuhnya? Kalau wanita itu sih, masih ada kemungkinan ... tapi untuk pria itu―?
Oh, atau jangan-jangan dia dibunuh oleh orang lain?
Hei! Jangan tuduh aku seperti itu! Walaupun aku tidak suka ending yang bahagia, tapi tetap saja aku tidak ingin berurusan dengan para manusia. Tidak, aku tidak suka ikut andil dalam kehidupan mereka. Merepotkan jika harus turun tangan.
Jadi, siapakah yang membunuh gadis itu, wahai para manusia yang membaca ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Putaverunt
Kort verhaal"Putaverunt, yang artinya pikiran. Di mana buku ini hanya berisi cerita pendek yang berasal dari pikiranku." Goresan pena penuh kegelapan mulai menghantuiku. Tak ingin sia-sia, segera kutuai dalam sebuah kertas putih bersih, membagikannya ke pada si...
