70. JENAROIFE (EPILOG)

4.1K 230 254
                                        

Bacain sebagian komen kalian di part ending ngebuat aku ngerasa bersalah banget. Maaf buat endingnya ya.
Dan part ini baru banget siap aku tulis di saat aku sibuk revisi naskah plus skripsian. Hargai ya temen-temen dengan tinggalkan jejak berupa vote dan komen. Terima kasih🙏

Ah, ya, jangan hapus cerita JENARO dari perpustakaan kalian ya🙏

Terkejut gak liat notif update lagi?

Dah ah, luv yu!💙

➖➖➖

70. JENAROIFE (EPILOG)

Jenaro menarik dan membuang napasnya berulang kali guna menetralkan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.

Di hadapannya, air laut terlihat begitu tenang. Jenaro memejamkan matanya sesaat sebelum kembali membukanya. Mereka ulang memori indahnya bersama Oife kala itu.

Di dermaga ini, kali pertama Jenaro memberanikan diri memeluk Oife dari belakang. Jenaro kala itu juga sedang menyimpan kesedihan yang mungkin tidak sepenuhnya Oife sadari.

Jenaro kangen Oife.

Jenaro masih menginginkannya.

Jenaro berharap Oife pulang ke pelukannya.

Jenaro menunggunya.

Jenaro sangat mencintainya.

Jenaro dengan terpaksa mengikhlaskannya.

Jenaro tidak sanggup mengambil keputusan itu. Jenaro tidak sanggup menampik kenyataan bahwa Oife telah pergi dari sisinya. Jenaro tidak sanggup hidup tanpa Oife. Tapi Jenaro tidak mau bersikap egois karena Oife berhak menentukan pilihannya.

Pilihan Oife mungkin yang terbaik, namun tidak untuk dirinya.

Dua hari berlalu tetap saja berkabung dalam kesedihan. Jenaro enggan keluar dari zona itu. Jenaro betah, bahkan sudah terbiasa menyingkir dari keramaian. Jenaro butuh waktu untuk menata hatinya yang hancur berkeping-keping.

Mungkin ini adalah hari terakhirnya memikirkan Oife.

Ya, bukan mungkin lagi. Memang sudah seharusnya seperti itu sejak kemarin.

Hembusan napasnya perlahan teratur. Jenaro berbalik, memasuki mobil, bergegas ke basecamp. Cowok itu menyetir dalam diam. Sekitar sejam lebih dia sampai.

Menemukan motor Narain juga Rainer terparkir rapi di halaman basecamp. Jenaro pun turun untuk menyapa temannya sebentar sebelum dia bertolak ke distro miliknya. Jenaro akan menginap di sana hanya untuk malam ini saja.

"Mana dua curut? Tumbenan banget gak ke sini." Jenaro duduk di sebelah Narain yang tengah menyetel senar gitar kepunyaan Rainer. Sementara sang empunya gitar asik makan kripik buatan Tante Geisha alias Mamanya Narain.

"Katanya Saguna lagi nyari cewek di perempatan jalan biasa." Rainer menjawab.

"Nyari banci apa cewek tulen?"

"Banci mungkin. Tau sendiri ini udah setengah dua belas malam cuy!"

Jenaro tergelak, "Buru lah lo cariin cewek tulen buat dia. Takutnya beneran dapet banci kan gak lucu, Jun."

"Temen-temen gue di agensi pada cakep plus waras, Ro. Yakali mau sama Saguna yang rada-rada gitu." Rainer terkekeh.

"Kalo lo berdua lupa, yang lo pada nistain ini temen deket sendiri. Keselek jakun ntar tuh anak di sana," sahut Narain membuat Jenaro dan Rainer lagi-lagi tergelak.

JENARO Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang