Ini part terakhir sebelum ending. Itu artinya JENARO tamat di part 68😭
Udah siap pisah kan?😭
Udah pada rela belum?
Sehari setelah JENARO tamat, cerita baru akan rilis di akun wattpadku. Pantengin yaa, palingan aku publishnya sore kalo gak habis maghrib.
Sebelum itu hayu follow dulu akun wattpadku dan tambahkan cerita JENARO ke perpustakaan kalian biar dapet notif cerita barunya yang gak kalah heboh dari kisah Jenaroife!❤
Yuk ramein part ini ya!
➖➖➖
67. GIVE ME A HUG
Ini gila!
Sangat gila!
Gila yang membuat Oife tidak bisa memejamkan matanya barang sebentar saja dan berakhir terjaga semalaman. Bersama sepuluh boneka kelinci hitam yang semuanya dia beri nama Bala, senyumnya terus mengembang indah mengalahkan hamparan bintang di malam yang cerah.
Memeluk, mencium juga menimang-nimang boneka Bala seolah itu anak kandungnya. Oife sadar akan tingkah anehnya, tapi berkat itu pula kebahagiaannya telah kembali sedikit demi sedikit. Menantikannya utuh sepertinya perlu waktu yang lama. Setidaknya Oife tidak sesedih kemarin.
Sebelum bergegas mandi, Oife membariskan satu persatu boneka Bala di atas ranjang besarnya dengan sprei bermotif polkadot. Kesepuluhnya sudah berjajar rapi menghadap dirinya. Di matanya boneka-boneka itu hidup. Silahkan sebut Oife tidak waras. Toh, yang tahu soal ini hanya dirinya seorang.
Mengenai Jessica, cewek itu sedang tidak ada di rumahnya. Jadinya aman sentosa. Oife belum bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika Jessica melihat boneka-boneka ini. Terlempar ke peristiwa siang itu sungguh menyakiti hatinya. Meskipun Oife sudah memaafkan Jessica, ingatannya jelas membekas.
"Kalian aku tinggal dulu ya. Baik-baik di kamar. Kakakmu ini lagi pingin hidup sehat. Gak lama kok, mau jogging keliling komplek doang."
Setelah menitipkan pesan yang sama sekali tidak mendapat balasan, buru-buru Oife mengambil handuk untuk menjalankan ritual paginya. Hanya mandi bebek alias mandi tiga jari atau sebut saja mencuci muka. Mengenakan kaos hitam polos bawahan celana training putih dengan sepatu olahraga sebagai pelengkapnya, Oife menuruni tangga tanpa memeriksa wajahnya yang tidak menggunakan bedak maupun liptint. Natural lebih bagus menurutnya.
Bahkan kalau Oife berpapasan sama cowok-cowok tampan di taman sana, dia akan cuek dan berusaha membangun dunianya sendiri.
Tak lupa mengunci pintu lalu memasukkan benda kecil berbahan besi itu di kantong celananya. Oife berjalan menyusuri jalanan yang terlihat masih sepi. Ya iyalah orang Oife keluar jam setengah 6 pagi. Satupun kendaraan belum ada lewat. Oife mah mana takut.
Sesekali cewek itu menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding lanjut lagu naik-naik ke puncak gunung sampai tidak menyadari sosok tampan di belakangnya. Dari Oife menutup gerbang, dia sudah diikuti.
"Anjrit! Ponsel gue ketinggalan!" Oife menepuk keningnya, "Gue kan niatnya mau selfie di sono. Apa gue balik lagi aja? Mumpung belum jauh."
"Sumpah, gue males banget. Napa sih gue gak bisa teleportasi kayak di film-film? Kan seru yak. Sebut nama tempatnya dalam hati, nyampe deh." Oife bermonolog yang mana sangat menggelikan bagi Jenaro. Bisa-bisanya Oife mengoceh sendirian. Untung saja tidak ada orang yang berlalu lalang. Kalaupun sampai ada yang menertawakan Oife, stok kemarahannya cukup mampu untuk membungkam beberapa mulut.
KAMU SEDANG MEMBACA
JENARO
RomansaOife yang dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh cowok tak dikenal akhirnya memendam dendam. Hingga tujuan hidupnya hanya satu, membuat cowok itu berada di posisinya. Namun, siapa sangka bahwa tidak semudah itu pembalasan yang dia rencanakan. Malah Oi...
