Yang pertama menarik bibirnya dan melepaskan pelukan adalah Rina. Dia mengalihkan pandangannya begitu dia menyudahi kecupan itu. Adit memperhatikan perubahan ekspresi cewek itu dari terlihat bingung hingga berubah menjadi malu dan kesal. Tanpa disangka, Rina menjauh dan berjalan keluar dari sungai itu, meninggalkan Adit begitu saja.
Adit bingung dan tak habis pikir, bagaimana bisa emosi cewek itu berubah secepat itu. Jelas-jelas tadi Rina membalas ciumannya dan juga tak kalah bersemangatnya saat menyambut ciumannya tadi. Lalu kenapa hanya beberapa detik saja sikapnya tiba-tiba berubah. Adit sama sekali tak merasa dia ada melakukan kesalahan apapun.
"Jangan-jangan dia merasa jijik padaku, gara-gara apa yang barusan terjadi tadi!" pikir Adit dalam hati. Tak ayal dia merasa sedih saat menyadari kemungkinan itu.
Meninggalkan apa yang ada di pikirannya, dia berusaha mengejar Rina. Mau tak mau mereka harus pulang hari ini dan masalah mereka berdua bisa menunggu sampai besok.
Saat mereka berdua sampai ke rumah Bibi Adit untuk berganti pakaian dan membereskan barang-barang mereka, tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut mereka untuk bicara satu sama lain. Melihat itu sang bibi menggoda mereka dan berkata, "Ati-ati di jalan. Jangan bertengkar ya nanti. Fokus kalau lagi berkendara. Bibi nggak mau kalian ditilang di jalan cuma gara-gara pertengkaran kecil."
Setelah mengatakan itu sang bibi tertawa, walaupun keponakannya sudah meliriknya kesal, tapi dia tetap merasa geli melihat percintaan kedua remaja di depannya ini.
Setelah berpamitan, mereka berkendara menuju Surabaya selama dua jam dengan masih saja membisu. Adit masih saja larut dalam pikirannya tadi. Betapa menyesalnya dia tadi mencium Rina, jika itu malah membuat cewek itu jadi menjauh dan diam saja seperti ini.
Namun, yang dia tak tahu adalah saat ini Rina sama sekali tak menyesali ciuman itu. Yang membuatnya malu dan kesal adalah dirinya sendiri. Jelas-jelas dia membalas ciuman Adit tadi, tapi entah kenapa dia belum yakin seratus persen tentang perasaannya sendiri. Dan yang paling mengganggunya adalah fakta bahwa sebenarnya dia tak sepenuhnya yakin apa dia mampu bersama cowok ini dalam waktu yang lama dan menetapkan komitmennya. Rina tahu dia sudah menerima begitu banyak dari Adit dan melihat kesungguhannya. Namun, di lain sisi dia juga malu jika terlihat bersama Adit di depan orang-orang yang dia kenal.
Identitas Adit yang berandalan dan rankingnya yang buruk sangat mempengaruhi Rina lebih dari semua perhatian yang diberikan cowok itu padanya. Apalagi, Adit belum membuktikan kalau dia bisa memperbaiki nilainya walaupun mereka sudah dua bulan bersama. setiap kali ada tes atau PR, Adit menolak untuk memperlihatkan hasilnya pada Rina. "Tunggu sampai penerimaan raport," katanya.
Rina yakin sekali itu karena nilai-nilai cowok itu sama sekali tak membaik. Saat-saat seperti itulah, Rina begitu malu dan ingin sekali menjauhi cowok itu. Bahkan saat ciuman tadi, ingatan akan hal itu membuatnya jadi illfeel tiba-tiba. Seperti diguyur air es, gairahnya lenyap seketika.
Itulah makanya, dia menutup mulutnya rapat-rapat setelah itu. Dia tak mau menyakiti perasaan Adit, jika dia sampai tak sengaja mengatakan isi hatinya dan membuatnya sedih. Dengan erat, dia memegang belakang baju Adit dan berdoa agar mereka cepat sampai, sehingga dia bisa menghindar dari Adit, walau hanya sehari saja.
.
Adit memutuskan menurunkan Rina di depan rumahnya. Sebenarnya selama ini saat mengantarkan Rina pulang, Adit hanya berani menurunkan Rina beberapa meter sebelum rumah ceweknya itu. Tapi kali ini karna melihat cewek itu capek karena perjalanan jauh mereka, dia merasa kasihan kalau ceweknya itu harus berjalan juga menuju rumahnya.
Sayangnya, Adit tak menyadari siapa yang telah menunggu mereka di depan rumah Rina. Seakan-akan sudah direncanakan sebelumnya, papa Rina dan temannya, langsung keluar saat melihat Rina sampai di depan rumah. Belum lagi Rina turun dari sepeda motor, papanya tiba-tiba menarik Rina turun dan langsung menyeretnya masuk ke dalam rumah.
Adit yang terkejut, kontan langsung turun juga dari motornya untuk melindungi Rina. Namun kedua teman papa Rina, yang ternyata adalah bodyguard karaoke milik papanya, menghalangi Adit dan mendorongnya beberapa kali sampai membuat Adit terjerembab di samping motornya. Para bodyguard itu juga menendang motor Adit dan mengancam akan menghancurkan motornya jika dia tak segera pulang.
Tanpa bisa memberi perlawanan, Adit memutuskan untuk pergi. Dia tak mau membuat perkara jadi lebih parah, jika dia memaksa untuk masuk dan melawan teman-teman papanya Rina. Walaupun begitu, dia sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada wanita itu. Dia berharap pacarnya itu tak kena marah dan mendapat masalah gara-gara hal ini. Ingin sekali dia masuk dan menemani Rina menghadapi semuanya, tapi dia tahu betul papa Rina yang tampaknya sedang emosi itu, malah akan melampiaskan kemarahannya pada Rina, jika dia melakukan itu.
"Apaan sih, pa? Ngapain pakai narik-narik segala? Malu tau dilihat orang!" Begitu sampai ke dalam rumah, Rina langsung memberondong papanya dengan protes.
"Kamu itu yang harusnya malu. Masih kelas 2 SMA, beraninya nginap bersama cowok! Bikin malu. Kayak perempuan murahan aja kamu!"
Rina tak menyangka kata-kata 'perempuan murahan' itu berani disematkan papanya padanya, setelah apa yang dilakukannya dengan perempuan-perempuan yang lebih pantas menerima gelar itu.
"Ngaca dulu pa! Entah sudah berapa banyak perempuan murahan yang sudah papa kencani dan tiduri! Dibanding aku, papa yang jauh lebih murahan menurutku!"
Plak!
Telapak tangan Sigit mendarat keras pada wajah anaknya. Saking kerasnya sampai kepala Rina terhuyung ke samping dan hidungnya mulai mengeluarkan darah.
Melihat hidung anaknya yang berdarah, sebenarnya Sigit cukup terkejut. Emosi membuatnya tak bisa mengurangi kekuatan tamparannya. Lidah anaknya terlalu tajam dan begitu mengusik egonya. Dia tak pernah direndahkan seseorang. Tapi anaknya ini berani melakukan itu padanya beberapa kali sudah.
Memang benar rupanya peribahasa bahwa 'buah nggak akan jatuh jauh dari pokoknya'. karena semakin dewasa, putri semata wayangnya itu, semakin mirip pula dengannya.
Dari ambisi, ego dan caranya merendahkan orang lain, benar-benar mirip dengannya. Jika Rina melakukannya pada orang lain, Sigit tak peduli. Tapi anaknya itu berani menunjukkan egonya di hadapan papanya dan melawan balik. Itulah yang memicu emosinya dan membuatnya menampar keras wajah anaknya.
"Makanya kalau papa lagi nasehatin, kamu jangan ngelawan! Nih pakai tisu, taruh ke hidungmu!"
Rina menyambar tisu itu tanpa melihat ke arah papanya dan segera menyobeknya menjadi dua, menggulungnya kecil dan memasukkannya ke hidungnya yang mimisan.
"Besok kamu papa yang antar. Papa sambil mau ngomong dulu sama wali kelasmu."
"Ngapain? Nggak ada yang perlu diomongin kok!" jawab Rina dengan ketus.
"Kok bisa nggak ada itu lho?! Kamu pikir papa biarkan saja kamu bergaul terus sama berandalan itu. Biar papa minta dulu wakil kelasmu memindahkan kamu ke kelas lain!"
"Hah? Emangnya Adit salah apa? Lagian dia nggak seberandalan yang papa kira!" Rina benar-benar marah saat papanya memanggil Adit degan sebutan berandalan.
"Dari penampilannya aja sudah kelihatan kok kalau bukan anak baik-baik. Bergaul dengan anak kayak gitu bisa-bisa ikut nakal kamu nanti! Belum-belum aja kamu uda berani main kabur-kaburan kan? Pasti ya karna berandalan itu!" cerocos papanya panjang lebar
"Ngawur! Itu aku yang nyuruh kok! Adit malah bolak-balik nyuruh aku pulang, tapi akunya nggak mau," sahut Rina membela Adit.
"Alasan! Gini aja... kalau kamu nggak mau dengar perkataan papa, nggak apa-apa, tapi jangan harap kamu bisa jadi pewaris papa nantinya. Terserah kamu mau jadi apa, tapi semua biaya yang dikeluarkan untuk kamu langsung papa stop begitu kamu bertemu dengan berandalan itu lagi!" ancam papa Rina yang langsung membuat Rina terdiam.
Papa Rina tau betul apa yang paling ditakuti anaknya. Orang boleh bilang dia tak memperhatikan anaknya, tapi untuk yang satu itu, papanya tahu betul. Sehari pun anaknya itu tak bisa hidup susah. Walaupun anaknya tak mau mengakui, tapi dia memang sangat mencintai uang dan mampu menghabiskan puluhan juta, hanya untuk kebutuhannya dalam sebulan. Itulah yang membuat ancaman papanya benar-benar tepat sasaran.
Sigit yakin sekali dibandingkan memilih berandalan itu, anaknya akan lebih memilih untuk mempertahankan uangnya. Dia tak ragu sedikitpun, besok pasti anaknya itu akan dengan mudahnya memalingkan hatinya dari Adit dan meninggalkannya begitu saja.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomanceApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...