Cuaca tampaknya terlalu cerah, jika dibandingkan dengan suasana hati Adit saat ini. Hatinya gundah gulana karena bel sudah berbunyi tapi Rina sama sekali tak terlihat. Ditambah lagi, sejak kemarin tak sekalipun pacarnya itu menjawab telpon dan pesan-pesannya.
Adit takut terjadi apa-apa pada Rina. Betapa dia menyesal tak masuk saja dan melindungi Rina kemarin. Dia terlalu berhati-hati dan tampaknya itu malah menyulitkan Rina, pikirnya.
Semua murid tampaknya sudah masuk ke dalam kelas dan hanya Adit saja yang tertinggal sendirian di lapangan. Bapak satpam sudah menyuruhnya masuk berkali-kali dengan nada kesal. Akhirnya Adit pun menurut, sambil terus berusaha menghubungi Rina.
Saat itulah tiba-tiba gerbang sekolah kembali terbuka. Sebuah mobil mewah masuk dan berhenti tepat di sebelah Adit berdiri. Tidak pernah satu pun mobil yang berani memarkirkan mobilnya di area lapangan sekolah. Parkir mobil sudah disediakan di sebelah sekolah. Semua guru dan murid, baik kepala sekolah pun hanya boleh memarkirkan mobil mereka di sana. Namun, entah karena tak tahu di mana parkiran sekolah, atau memang berniat melanggar peraturan, sopir mobil mewah ini dengan angkuhnya melakukan hal yang seharusnya dilarang.
Namun betapa tak disangka Adit bahwa Rina dan papanyalah yang keluar dari mobil tersebut. Adit melihat mereka berdua dengan heran dan perlahan-lahan berusaha mendekati Rina. Tanpa diduganya, cewek itu malah menjauh.
"Kamu jangan deket-deket anak saya. Minggir kamu! Mending kamu ikut saya ke kantor kepala sekolah sekarang!" semprot Sigit seraya mendorong Adit menjauh.
Papa Rina yang bertubuh tinggi besar itu berhasil mencengkram lengan Adit yang badannya jauh lebih kecil darinya, dan menyeret Adit ke dalam ruang kepala sekolah. Adit semakin bingung dan terus menatap ke arah Rina untuk mencari jawaban, tapi sayangnya cewek itu selalu menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Kepala sekolah dan guru wali kelas pun mempersilahkan mereka masuk. Adit pun masuk dan berusaha mencerna baik-baik apa yang sedang dikatakan oleh papa Rina.
"Gini lho pak, saya datang kesini untuk melaporkan masalah penting yang sangat merugikan anak saya. Sebenarnya ini dimulai dari waktu anak saya tiba-tiba ditempatkan di kelas yang isinya kebanyakan anak-anak nakal. Istri saya beberapa kali sudah protes pak, tapi ibu wali kelas ini nggak pernah mau mendengarkan protes kita."
"Kalau masalah itu pak, memang sudah tradisi di sekolah ini kalau semua anak akan ditempatkan di kelas yang berbeda setiap tahunnya, supaya mereka bisa bergaul dengan berbagai macam jenis murid," seru ibu wali kelas menjelaskan.
"Ya ampun bu... itu juga liat-liat kali bu. Anak saya ini termasuk siswa teladan lho! Masak disatukan sama anak-anak yang bermasalah?! Biar bapak sama ibu tahu ya... gara-gara itu, anak saya jadi terpengaruh. Yang awalnya suka belajar dan selalu ada di rumah, akhir-akhir ini malah keluyuran terus. Satu lagi bu, karna pergantian kelas itu, nih anak berandal satu ini berani-beraninya mendekati anak saya!" protes papa Rina sambil menunjuk ke arah Adit.
Adit yang merasa disinggung mulai mengerti apa yang sedang terjadi di depannya.
"Lho kapan itu saya tanya, Rina sendiri yang bilang kalau Adit itu pacarnya, pak!"
"Ya nggak masuk di akal lah bu. Ibu kan kenal anak saya. Mana mau dia dengan anak kayak Adit ini. Saya tanyain kemarin katanya dipaksa dia, makanya dia mau nggak mau nurut aja. Masak anak saya sudah diancam-ancam, dilecehkan dan dipermalukan, pihak sekolah malah membiarkan?! Tanya saja sama anaknya sendiri. Ayo Rin ceritakan ke bu guru dan bapak kepala sekolah yang kamu bilang sama papa kemaren!"
Rina meremas-remas tangannya di tempat duduk sambil masih terus menerus menunduk. Adit mengawasi Rina terus. Dia sangat yakin pacarnya itu akan membela dan membantah semuanya.
"Y-ya bu saya memang dipaksa. Katanya kalau saya nggak nurut, saya akan dibully dan dilukai sama Adit dan genknya."
"Lho enggak bu! Saya nggak pernah sekalipun mengamcam untuk melukai atau membully Rina. Saya memang pernah membuat dia mengaku kalau kita jadian, tapi sungguh saya nggak bermaksud jahat. Saya cuma pengen deket dengan Rina. Tapi nggak sedikitpun saya mencelakai dia. Kita palingan cuma hang out di cafe sambil belajar dan ngobrol aja... sungguh bu!" jawab Adit dengan meledak-ledak karena kesal saat mendengar dirinya difitnah oleh pacarnya sendiri.
"Adit seringkali menyentuh dan mencium saya sesuka hatinya di depan banyak orang. Saya berkali-kali bilang saya tidak suka, tapi dia nggak peduli. Saya tidak pernah ada sedikitpun rasa suka pada dia, tapi dia terus saja memaksa. Saya takut diapa-apain bu, jadi saya diam saja. Walaupun sebenarnya saya benar-benar tertekan tiap harinya, bu!" Rina menggigit bibir bagian dalamnya setelah begitu lihainya dia berbohong.
"Bener itu dit? Kamu itu sudah sering bolos, pake mau ngerusak anak orang lain lagi. Gimana ini pertanggung-jawabanmu? Pakai bilang enggak-enggak lagi kamu tadi! Ayo minta maaf sana sama Rina dan papanya!" gertak Sang kepala sekolah, lebih untuk mencari muka di depan papa Adit yang notabene penyumbang terbesar sekolah mereka.
Adit menatap Rina tajam dengan pandangan tak percaya. Baru kali ini dia melihat cewek yang pandai sekali berbohong dan luar biasa lihai hingga bisa menipu dia selama ini. "Buat apa saya minta maaf?! Rina tau kok kalau yang sedang berbohong itu dirinya sendiri!"
Plak!
Jawaban sinis Adit itu dihadiahi tamparan keras di kepalanya oleh papa Rina. Dengan garang, Sigit mencengkram kerah depan Adit untuk memukulnya sekali lagi. Adit yang mengetahui konsekuensi dari perkataannya diam saja dan tak membalas pukulan papa Rina.
Untung saja sang kepala sekolah dan wali murid segera melerai dan membujuk papa Adit untuk berhenti dan melepaskan Adit. Namun tidak dengan Rina. Dia terlihat diam saja di tempat duduknya tanpa sedikitpun terlihat peduli akan apa yang terjadi di depannya.
"Gini aja pak... kita akan pindahkan Rina ke kelas 2a nanti, biar nggak terganggu lagi dengan Adit. Saya nanti yang pastikan sendiri biar Adit nggak bisa menemui Rina lagi. Kalau nanti bapak pukulin Adit ntar masalah jadi bisa tambah parah, pak!" bujuk sang kepala sekolah untuk menenangkan papa adit.
"Tolong aturlah pak! Masak saya sudah bayar mahal-mahal tapi anak saya malah jadi kayak gini. Atau kalau bisa dikeluarkan saja anak ini pak! Takutnya nanti anak saya jadi digangguin lagi."
Adit yang tak kuat lagi mendengar perkataan papa Rina, langsung keluar tanpa permisi. Ingin sekali dia menendang pria tua itu saking marahnya. Adit langsung menuju ke parkiran, memanjat pagar di belakang parkiran dan kabur begitu saja dengan meninggalkan motornya disana.
Dia merasa seperti sedang ditipu dan dipermainkan. Bagaimana mungkin orang yang paling dia percaya, tega mengkhianatinya begitu saja. Dia sebenarnya sudah mempersiapkan diri kalau-kalau hari itu Rina mengatakan bahwa dia tak ada perasaan padanya. Tapi sungguh tak disangkanya, wanita itu malah mengatakan kebohongan demi kebohongan untuk menyakitinya.
Bagaimana bisa dia tak pernah melihat wajah kepura-puraan wanita itu selama ini. Dia benar-benar mengira perempuan itu memang suka berada bersamanya. Tidak hanya hatinya yang kali ini dihancurkan wanita itu, tapi juga harga dirinya.
Dia harusnya membenci wanita itu karena apa yang telah dia perbuat, tapi entah kenapa hatinya justru tak mau kompromi. Dia tetap berharap ini semua hanya mimpi. Dia sungguh-sungguh berharap kalau Rina melakukannya karena dipaksa. Mungkin jika mereka bisa bertemu berdua saja, Adit bisa mengetahui yang sebenarnya.
Dia harus membuat rencana supaya bisa menemuinya. Dia harus mendengar dari mulut Rina sendiri kebenarannya.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomanceApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...