Dengan geram, Adit meloncat dari tempat tidurnya dan segera menghidupkan lampu kamarnya. Cahaya terang kamarnya dengan jelas menyoroti wajah si pengasuh yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
Tidak pernah ada yang sekurang ajar seperti ini sebelumnya! Tidak pernah ada yang sampai berani masuk ke dalam kamarnya dan terang-terangan bertindak di luar batas seperti ini!
Adit sungguh tak mengerti dengan perubahan sikap si pengasuh akhir-akhir ini. Sebelum kecelakan di dapur terakhir itu, wanita ini terlihat normal-normal saja. Tidak ada terlihat tanda-tanda penyakit mental bersarang di otaknya. Dia bahkan memilih wanita itu menjadi pengasuh dan tinggal serumah dengannya karna menilai pembawaan wanita itu yang pandai, lugu dan tau betul cara mengatur anaknya. Dia bahkan sempat mengira wanita itu layaknya seperti salah satu wanita yang biasanya keluar dari majalah IBU DAN ANAK, yang begitu pandai menangani anak jenis apapun. Hal yang bahkan dia tidak bisapun dapat dilakukan dengan mudah oleh wanita itu.
Betapa dia tidak menyangka… kaca yang menusuk wanita itu dapat merusak mental wanita itu juga. Padahal seingatnya, kaca itu tak menancap pada otaknya, melainkan kakinya. Tapi bagaimana bisa pengaruhnya jadi sebesar ini. Wanita yang terlihat lugu dan sangat pandai menjaga sikapnya, tiba-tiba menjelma jadi perempuan ‘gatel’ dalam seketika.
Atau mungkinkah dokter telah salah memasukkan obat ke dalam resep wanita itu? Obat yang jika dikosumsi bisa merubah kebiasaan orang begitu saja?! Karna kalau tidak… satu-satunya penjelasan dari ini semua adalah bahwa wanita ini memang sudah gila dari awal… cuman entah bagaimana, tidak begitu kelihatan di awal. Barulah akhir-akhir ini penyakit mentalnya itu muncul kembali.
“HALooo… bapak tidur sambil berdirikah?! HAloooo…” Adit tak sadar dia sudah termenung begitu lama, hingga lupa bahwa dia harus segera membereskan wanita gila di depannya ini dengan segera.
“Saya NGGAK tidur! Saya hanya berpikir bagaimana bisa saya memasukkan perempuan murahan kurang ajar ke dalam rumah saya!”
“Kurang ajar? Saya maksudnya?” tanya Rina dengan wajah bingung.
Adit memutar bola matanya dengan kesal dan menjawab, “Kalau bukan sampeyan trus siapa? Moza? Pembantu? Atau bapak sopir?!”
“Lho saya nggak kurang ajar kok! Saya bersikap normal-normal saja! Bahkan tidak ada yang lebih normal di dunia ini, selain saya pak! PERCAYALAH!” seru wanita itu ringan sambil dengan enaknya duduk di tepi ranjang Adit.Kesabaran Adit sebenarnya terusik melihat itu, tapi dia sadar dia perlu membahas kejadian kecup-mengecup itu dulu. Baru nanti dia bisa menarik wanita itu menjauh dari ranjangnya.
“Normal? Emangnya mengecup bos sendri itu SOPAN ya Miss?!”
“OUww… itu! Salah paham sampeyan pak!” jawab wanita itu seakan-akan mengulur waktu. Entah apa yang dituju wanita itu. Tapi tampaknya dia sengaja berlama-lama menjawab pertanyaan bosnya.
“Aduh Miss… nggak usah berbelit-belitlah! Sampeyan kan jelas-jelas sengaja datang ke kamar saya dan meraba wajah saya trus main kecap-kecup seenaknya!”
“Salah paham lho padahal! Saya kan cuma terpeleset, pak! Kayak bapak waktu itu lho…. CUMA TERPELESET… CUMA SALAH PAHAM!” Rina menyudahi kata-katanya dengan senyuman kemenangan.
Mendengar jawaban itu, Adit merasa seperti ditampar. Kini dia tahu apa yang sedang wanita itu berusaha sampaikan padanya. Wanita cerdik ini berusaha membalasnya dengan cara atau kebohongan yang sama, yang pernah digunakannya pada wanita ini.
Terlihat jelas bahwa wanita yang tiba-tiba terlihat menakutkan ini memegang teguh prinsip ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’. Dilihat dari caranya meniru persis seperti apa yang dilakukan Adit malam sebelumnya pada wanita itu. Tak pernah seumur hidup pun dia bertemu dengan wanita berjenis seperti pengasuhnya ini.
Ehmmm… pernah sekali sebelumnya… namun dia sudah mengubur wanita itu di masa lalunya dan tak akan mau mengingatnya kembali. Wanita itu menghilang dan pindah ke luar negeri dan tak akan pernah kembali, menurut cerita dari orang-orang terdekatnya.
Lain halnya dengan wanita ini. Dia begitu dekat, begitu cerdik dan begitu membuatnya… bergejolak! Berurusan dengan wanita ini mengundang ‘gairah ingin menaklukkannya’ kembali lagi. Bagi Adit wanita yang penurut tidaklah begitu menarik. Yang keras kepala, suka mendebat dan susah ditundukkan adalah yang paling nikmat untuk diburu.
“ Oh… jadi tadi cuma terpleset to! Heran ya… kok bisa sama persis dengan kejadian di kamar Miss waktu itu ya!” jawab Adit dengan suara mendayu-dayu seraya mendatangi tepi ranjang, tempat dimana wanita buruannya sedang duduk dengan menyilangkan kaki.
“I-iya… hehehe… kok bisa kebetulan gitu ya?!” seru Rina dengan suara penuh ketidakpercayadirian. Dia tak suka melihat wajah bosnya yang tiba-tiba berubah tersenyum dan cara jalan bosnya yang mendominasi itu ke arahnya.
Namun saat dia mulai berusaha untuk bangkit, Adit mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas tempat tidur bosnya. Ketakutan yang mencengkam menyergapnya seketika. Bukan seperti ini jalan cerita yang direncanakan sebelumnya. Dia hanya berencana membalas perbuatan bosnya. Setelah mendengar pengakuan dari pria itu dan juga permintaan maafnya, sebenarnya Rina akan segera mengakhiri permainannya dan meninggalkan kamar bosnya. Reaksi bosnya yang tiba-tiba menyerangnya kini, sama sekali tidak termasuk bagian dari rencananya.
“Pak… pak… sampeyan ngapain! Saya mau bangun pak! Tolong berhenti menghimpit badan saya!” protes Rina ketakutan seraya mendorong kuat badan bosnya menggunakan kedua tangannya dan lututnya. Namun badan bosnya yang dua kali lebih besar darinya itu sama sekali tak bergeming.
“Lho… jangan gerak-gerak Miss. Sebentar aja kok dan setelah itu sampeyan boleh pergi. Ini makanya wanita tidak seharusnya datang dengan gampangnya ke kamar pria dan mengira dia bisa keluar dari sana dengan keadaan baik-baik saja! Lain kali kalau mau mengerjai saya, sampeyan harusnya membawa tali tambang dan isolasi yang paling kuat untuk mengikat saya. Itu gunanya supaya saya tidak bisa membalas sampeyan setelah itu. Sayangnya sampeyan datang sendiri ke SARANG SAYA tanpa membawa persiapan apa-apa!” Adit menatap wajah wanita itu dengan laparnya dan meraba lengan sampai pinggul wanita itu dengan gerakan perlahan.
“Argghhhh… sialan! Berani menyentuhku, KAU akan kulaporkan dengan tuduhan pelecehan!” ancam Rina sambil menendang-nendang dengan kedua kakinya. Bahkan kakinya yang sakitpun sudah tak dihiraukannya.
“Emangnya sampeyan punya bukti?! Kan sudah saya ajari Miss. Kalau asal tuduh saja tanpa bukti, apalagi saksi… hanya akan jadi sia-sia saja. Salah-salah nanti Miss bisa saya tuduh balik lho… dengan pasal pencemaran nama baik. Pengacara mana yang tak mau membela saya, jika saya membayar mereka dengan harga tinggi. Trus sampeyan… bisakah sampeyan menang melawan saya, dengan keuangan sampeyan yang jauh lebih kecil di bawah saya!”
Menyadari kebenaran kata-kata bosnya, Rina membeku dalam pelukan bosnya. Dia menyesal telah merencanakan dan melakukan hal yang bodoh seperti ini. Bagaimana bisa dia begitu beraninya masuk ke kamar bosnya tanpa memikirkan hal ini dengan matang. Semua karna sifatnya yang terlalu keras kepala dan terlalu percaya diri.
Akankah dia dilepaskan begitu saja setelah ini? Ataukah malah dia akan kehilangan semuanya termasuk keperawanannya sendiri!!!
Adit memeluknya lebih erat dan mulai memajukan wajahnya… Saat itulah Rina yakin pilihan kedualah yang akan dilakukan bosnya itu padanya. Dengan pahit dia menyadari bahwa beberapa jam lagi… dia hanya akan keluar dari tempat ini dengan keadaan… SUDAH TIDAK PERAWAN.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomansaApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...