“ADITYA HARSONO… TERKUTUKLAH KAU DAN SEMUA KETURUNANMU… JIKA KAU BERANI MELECEHKANKU! BURUNG-BURUNG AKAN MEMAKAN OTAKMU DAN MENUSUK BOLA MATAMU JIKA ITU TERJADI… AKU BERSUMPAH… KAU AKAN KEHILANGAN KEMAMPUANMU SEBAGAI LAKI-LAKI DAN KAU AKAN DIBUANG BERSAMA SAMPAH-SAMPAH TAK BERGUNA DI LAUTAN LUAS! MEMBUSUKLAH KAU DI NERAKA… DAN JANGAN PERNAH TERLAHIR KEMBALI… JIKA SAMPAI AKU KELUAR DARI KAMARMU INI DALAM KEADAAN TAK PERAWAN!”Rina mengucapkan kutukan yang disertai dengan sumpah serapah itu layaknya merapalkan mantra. Mulutnya sampai berbusa dan hampir robek saking cepatnya dan kerasnya dia merapalkan kutukan-kutukan itu.
Bagaikan dukun yang sedang kerasukan Roh… mata wanita itu membelalak dan badannya bergetar kesana kemari. Jika saja Adit tak mengenal wanita ini sebelumnya, dia pasti mengira wanita ini benar-benar sedang kemasukan ‘sesuatu’. Jujur saja saat melihat wajah wanita di bawahnya, yang tiba-tiba saja berubah menakutkan, dia sempat ingin mengambil bawang putih dari dapur untuk mengusir setan-setan yang barangkali bersarang di tubuh wanita itu.
Tapi Adit tau betul bahwa semua kegilaan yang dilakukan wanita ini hanyalah bagian dari triknya belaka. Walaupun sebenarnya Adit tak menyangka, Rina akan bersikap seperti orang gila supaya bisa lepas darinya. Anehnya justru pilihan wanita itu untuk bereaksi di luar dugaan Adit itulah yang membuatnya geli.
Dengan gemas… Adit memeluk Rina sambil tertawa geli. Dia memastikan wanita itu tepat berada di tengah-tengah pelukannya dan menghadiahi wanita itu dengan puluhan kecupan ringan di seluruh wajah wanita itu. Sudah sejak lama sebenarnya, dia tinggal dalam kebosanan. Bertemu dengan orang yang sama setiap harinya. Berkencan dengan wanita-wanita dengan jenis yang sama setiap kalinya… dan melakukan rutinitas yang selalu saja bisa ditebak dan tak ada gregetnya lagi baginya.
Karena itulah hari ini dia menjadi begitu girang dan bersemangat. Wanita yang berada satu atap dengannya ini berhasil menghidupkan gairah yang lama redup sejak sepuluh tahun yang lalu. Lidahnya yang tajam, otaknya yang cemerlang dan trik-triknya yang unik dan berbeda berhasil menarik perhatian Adit dan membuatnya penasaran.
“Kalau kamu aku lepaskan… kamu memang bisa kasih saya apa?!” Kali ini gantian Adit yang akan menjalankan triknya untuk menjebak wanita dalam pelukannya ini. Dia benar-benar mau tau apa jawaban wanita ini selanjutnya.
“Ha? Kok ngancam-ngancam terus to pak! Saya nggak punya apa-apa untuk ditawarkan. Cuma… ada sih beberapa uang di dompet saya… nggak banyak tapi… cuma sekitar dua ratus ribu saja untuk berjaga-jaga. Atau jangan-jangan anda sedang mengincar laptop saya ya?! Nggak bisa kalau yang itu… cicilannya aja belum lunas pak!!!”“Ngapain juga aku ngincar laptopmu! Emang nggak ada yang lain yang bisa kau beri?!” goda Adit dengan wajah yang masih bertengger di leher Rina.
Nafas Rina menjadi tak beraturan dan jantungnya pun berdetak cepat. Semakin lama dipeluk seperti ini, Rina yakin dia bisa segera di panggil Tuhan yang Maha Esa karenanya. Dia harus memberi pria hidung belang ini sesuatu atau kalau tidak dia bisa kehilangan masa depannya.
Dia tak bisa membayangkan menjadi seperti salah satu dari wanita yang kehilangan keperawanannya dan harus hidup menjadi budak cinta dari laki-laki yang telah menodai mereka. Sudah banyak korban yang pernah dilihatnya berjatuhan gara-gara pria hidung belang seperti ini. Bodohnya, perempuan yang menjadi korban justru menyalahkan dirinya sendiri saat pria hidung belang itu pada akhirnya pergi dan tak mau bertanggung jawab, hanya karena tiba-tiba saja mereka merasa bosan dan ingin ganti suasana. Rina bersumpah tidak akan jadi salah satu dari WANITA-WANITA itu.
“Kalau begitu bapak mau apa dari saya?!” tanya Rina dengan wajah penuh dengan rasa kesal. Manalagi sedari tadi dia harus beberapa kali menahan nafas. Pasalnya bibir bosnya itu terlalu dekat dengan bibirnya dan itu membuatnya tegang dan tanpa sadar menahan nafasnya.
“Emmm… gimana kalau aku memberimu misi rahasia. Misi yang hanya kau dan aku saja yang tau.” Suara Adit sarat dengan kegirangan seakan-akan menyiratkan kalau misi yang akan diberikannya adalah misi yang paling menyenangkan bagi mereka berdua.
“Misi? Misi apa pak?”
“Kau akan diberi kehormatan untuk memberi kecupan padaku setiap harinya. Ingat satu kali saja setiap hari. Aku peringatkan… kau tidak boleh mengecupku lebih dari sekali. Ini misi penting dan aku harap kau tidak melanggar aturannya!”
“ORANG GILA! Kau pikir aku murahan apa?! Bodohnya aku… mengira pria hidung belang sepertimu mungkin saja mulai melembek dan mau memberiku jalan untuk terbebas dari ini! Kalau itu misi yang kau maksud, aku nggak tertarik!” jawab Rina kesal.
“Oke kalau gitu! Jangan bilang aku tidak memperingatimu!” Adit menurunkan resleting rok wanita itu dan berusaha menarik roknya dengan paksa.
“Tunggu… tunggu… apa-apaan ini!!! Pak Adit… sadar dong! Anda bisa dipenjara gara-gara hal ini! Stopppp!!!” teriak Rina meronta-ronta sambil tangannya masih berusaha menarik roknya kembali ke atas.
Namun dengan satu kali hentakan, Adit merebut rok itu dari pegangan Rina dan menurunkannya begitu saja dengan kasar. Tangannya mulai menyusuri bagian paha Rina dan meraba perlahan ke atas, mengincar pakaian dalam wanita itu.
Menyadari sedikit lagi bosnya itu bisa menodainya saat itu juga, Rina merasa dia harus melakukan sesuatu. Saat ini ‘misi terkutuk’ bosnya itu terdengar jauh lebih mudah dan bermoral daripada yang akan dialaminya sebentar lagi.
“OKE… OKE SAYA MAU! LEPASKAN DULU TANGANMU DARI CELANA SAYA DAN SAYA AKAN MELAKUKAN MISI SIALAN ITU OKE!” jerit Rina hampir frustasi.
“Sayang sekali… padahal sedikit saja… kau sudah bisa menikmati menjadi wanita sejati di tanganku! Oke baiklah… kalau itu pilihanmu. Tapi ingat… saya mau itu dilakukan tiap hari dan… saya tidak mau ada yang tahu atau melihatmu melakukan misi rahasia itu, ngerti!” tegas Adit seraya melepaskan pelukannya dari badan pengasuhnya itu.
Melihat Adit berdiri, Rina segera mengambil roknya dari lantai dan segera memakai rok itu dengan tergesa-gesa. Itu karena mata bosnya yang masih mengawasinya dan memperhatikan setiap gerakan yang dia buat. Rina sungguh tak mengerti jalan pikiran bosnya itu. Bukannya dia sudah berjanji untuk melakukan misi terkutuk dari bosnya, tapi kenapa pria hidung belang ini tak mau meninggalkannya sendirian.
“Kok masih disini to pak! Saya kan sudah berjanji! Tolong biarkan saya sendiri. Saya nggak suka dipelototin kayak barang di pameran aja!” Rina membalas Adit dengan lidahnya yang tajam.
“Lho ini kan kamar saya! Suka saya dong melakukan apa saja!”
Rina terhenyak dan melihat ke arah sekelilingnya. Bisa-bisanya dia lupa dimana dia sekarang. Padahal dia sendiri yang masuk ke kamar ini tadi dan menggali kuburannya sendiri. Sekarang dia malah lupa dan seenaknya saja mengusir si pemilik kamar ini.
Maka setelah merapikan bajunya dan memeriksa tidak ada lagi yang tertinggal di kamar bosnya, Rina melewati Adit dan bersiap-siap untuk keluar dari ruangan itu. Dia ingin segera menuju kamarnya dan menyembunyikan dirinya dari berbagai hal memalukan yang telah dilakukannya hari ini.
Sayangnya… Adit tampak masih belum mau melepaskan wanita itu. Dengan kasar, dia menarik tangan Rina dan memeluk pinggang wanita itu lagi.
“Kau lupa misimu? Harusnya kau memulai misimu dari malam ini kan?!” Setelah mengatakan itu, Adit mendekatkan bibir mereka dan mencumbu wanita itu, tanpa memberi peringatan sebelumnya.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomanceApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...