Otak Rina sebenarnya tidak bisa mengerti kenapa dia bisa-bisanya mau disuruh-suruh buat kue coklat segala oleh si Adit. Bukankah harusnya dia lebih melawan dan menolak permintaan Adit? Lagipula memang kenapa kalau gara-gara itu Adit terus-terusan ngambek dan tak mau bicara lagi dengannya? Bukankah ini seharusnya bagus mengingat dia tak suka tingkah Adit yang selalu saja menguntitnya kemanapun dia pergi?
Bukannya malah mengambil kesempatan emas ini, Rina malah memilih menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuat sebuah kue coklat untuk Adit. Alhasil dia membuat Mbok Sa pun jadi ketambahan kerjaan karena harus membantu dia di dapur. Manalagi kuenya berkali-kali gagal dan membuat meja dapur semakin berantakan dengan bekas alat-alat masak yang dia pakai dan semua loyang yang berisi kue gagal miliknya.
Setelah hampir delapan jam kue tersebut akhirnya jadi juga. Bentuknya memang tak seindah kue-kue buatan toko-toko terkenal yang pernah dikunjunginya, tapi jika dibandingkan dengan kue-kue sebelumnya yang sudah dibuangnya ke tempat sampah, yang terakhir ini kelihatan jauh lebih baik.
Sepulang sekolah, Rina langsung memberikannya pada Adit sebagai bukti bahwa dia menepati janjinya.
Adit melihat sekilas bingkisan yang dimasukkan ke tas belanja cantik warna ungu itu dan dengan tanpa berkata apa-apa, dia menggantungkannya di setang sepeda motornya dan hendak pergi begitu saja.
"Gitu tok? Nggak ada komentar sedikitpun?" protes Rina geram dan mencegah Adit pergi.
"Naik!" katanya singkat.
Walaupun masih geram, Rina menuruti saja perintah pacarnya.
Mereka berkendara sampai hampir setengah jam dan sampai ke cafe langganan Adit waktu itu.
Rina sebenarnya tak suka cafe dengan design retro itu, tapi tampaknya pacarnya itu tak tahu tempat lain untuk menghabiskan waktu bersama.
Setelah memesan minum mereka, Adit meminta dua sendok dan piring untuk mencoba kue buatan Rina.
Dengan antusias Adit menyendok kue itu dan memasukkan ke mulutnya. Namun baru saja sesuap, Adit sudah mengernyit.
"Kenapa? Nggak enak?" tanya Rina penasaran
"Pahit!"
"Masa sih?" seru Rina tak percaya dan menyendokkan kue itu juga ke mulutnya.
Benar saja... dia juga mengernyit saat rasa pahit dari kue itu menyerang indera perasanya.
"Jangan-jangan kamu lupa kasih gula di coklatnya. Memang nggak kamu cobain dulu sebelum kamu oleskan coklatnya ke kue?"
"Entahlah... lupa mungkin aku. Gimana nggak lupa coba... aku berdiri dan mondar-mandir di dapur selama delapan jam. Makan saja aku nggak sempat.
Kamu harus liat betapa berantakannya dapurku, akibat permintaanmu ini. Tanganku sampai pegal semua karna harus membuat adonan kue berkali-kali," cerocos Rina seraya menunjukkan area tangannya yang sakit.Adit tersenyum melihat wajah pacarnya yang kesal dan segera mengenggam tangannya yang sakit itu. Seketika itu juga Adit melihat rona merah muda mewarnai pipi tembam ceweknya.
Rina yang kaget, langsung menarik tangannya, Namun tangan Adit menariknya lagi dan terus menggenggamnya erat.
Rina merasa ada sesuatu yang berbeda kali ini. Entah kenapa dia malah merasa nyaman dan tidak jijik lagi dengan sentuhan Adit.
.
Seperti itulah selama sebulan lebih mereka menghabiskan waktu bersama-sama terus hampir setiap hari.
Setiap mereka berdua pulang sekolah, mereka membantu penjaga perpustakaan membersihkan perpustakaan dan setelah itu menghabiskan waktu dengan belajar bersama atau hanya hang out santai berdua di cafe langganan Adit yang bernama Cafe Bezt Drips itu.
Rina memang masih tak mengetahui perasaannya. Tapi dia tahu dia nyaman bersama Adit dan mulai menikmati kebersamaan mereka.
Rina juga jadi bisa merasakan rasanya punya seorang sahabat. Seseorang yang siap mendengarkan keluh kesahnya dan selalu ada saat dia butuh seorang teman di tengah kehidupannya yang terbiasa sendiri.
Berkali-kali memang, mamanya curiga dan memarahinya karena kerap kali pulang malam. Menurutnya anaknya itu terlihat berbeda dan tidak selalu menghabiskan waktu belajar seperti biasanya. Tapi dengan santainya Rina menjawab, "Main ke rumah teman!"
Mengira anaknya mengalami kemajuan karena sudah mulai punya teman, mamanya pun akhirnya membiarkan.
Sampai pada suatu hari, sepulang sekolah, Rina mengajak Adit untuk menemaninya ke Mall karena Rina harus membeli peralatan tulis dan kamus bahasa Inggris buat persiapan tes semester nanti. Namun tanpa disangka-sangka, mereka berpapasan dengan papa Rina yang tampak baru saja keluar dari sebuah toko baju di sana.
Namun yang paling mengagetkan Rina adalah saat melihat seorang wanita, yang jelas-jelas bukan mamanya, bergelayut mesra di lengan papanya. Di tangan papanya terlihat banyak tas belanjaan yang tampaknya milik wanita itu.
"Lho kok kamu di sini?" tanya papanya dengan ekspresi terkejut seraya berusaha melepaskan genggaman wanita di sampingnya dari lengannya.
Rina tak menghiraukan pertanyaan papanya itu dan malah balik bertanya. "Kencan lagi, pa? Cewek ke berapa ini? Yang terakhir memangnya uda putus?"
"Kamu salah paham. Ini karyawan-"
"Oooo... karyawan... Dibayar berapa mbak nemanin papaku kencan?!" potong Rina dengan mata melotot ke arah wanita di samping papanya.
Wanita itu terlihat seperti masih berumur awal 20an. Tidak seperti papa Rina yang sudah berumur 45 tahun, wanita itu sungguh tampak seperti anaknya daripada teman kencan.
Hal ini membuatnya malu dan luar biasa marah. Apalagi, Adit harus menyaksikkan kejadian yang memalukan ini. Ingin sekali dia menampar dan menjambak rambut selingkuhan papanya itu. Tapi dia tahu percuma saja melakukan itu, toh ini bukan pertama kalinya papanya mempunyai wanita simpanan.
"Kamu ini nggak usah ikut campur urusan orang tua! Mamamu saja nggak secerewet kamu, kok kamu malah sok nyindir-nyindir disini! Minggir papa mau lewat!" Tanpa mau mendengar perkataan anaknya lagi, Sigit Wibowo berjalan melewati anaknya sambil kembali menggandeng wanita selingkuhannya.
Kesal dengan tingkah papanya, Rina menjegal kaki selingkuhan papanya yang sedang berjalan melewatinya. Dengan menggelikan wanita itu terjatuh dan meringis kesakitan.
Puas dengan apa yang dilihatnya, Rina tertawa dan melenggang pergi dari tempat itu. Dia bahkan melupakan Adit yang tertinggal di belakang mengejar-ngejarnya. Dia terlalu marah dan tak sadar sudah berjalan begitu cepat dan tak menghiraukan Adit.
Untung Adit bisa mengejarnya dan langsung menggandeng tangan pacarnya itu. Langkah Rina pun melambat dan perasaannya menjadi sedikit lebih baik.
Adit tahu suasana hati pacarnya itu sedang dalam keadaan tidak baik. Sebenarnya tidak hanya Rina saja yang terkejut dan kesal melihat kejadian tadi. Kalau saja itu tadi bukan papa pacarnya, dia kemungkinan besar sudah meninju hidung pria paruh baya tersebut.
Dia ingin sekali menghibur Rina, tapi tak tahu bagaimana caranya. Dia bersedia melakukan apa saja untuk mengusir kesedihan di wajah pacarnya itu.
"Kamu mau aku antarkan kemana setelah ini? Pulang?" tanya Adit sambil memperhatikan ekspresi wajah Rina
"Jangan! Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau liat muka papaku saat ini. Bawa aku jalan-jalan, dit! Yang jauh kalau bisa."
"Nanti papa dan mamamu nggak marah?" tanya Adit hati-hati
"Aku nggak peduli! Mereka aja nggak peduli denganku buat apa aku harus pedulikan mereka! Tolonglah dit... aku terlalu syok dan marah saat ini!"
"Oke! Kalau itu maumu, aku nggak keberatan mengabulkannya. Aku ada suatu tempat yang pasti bisa membuatmu melupakan masalahmu sesampainya disana."
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomanceApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...