Suara pecahan botol dan pekikan Rina yang membahana di seluruh ruangan, akhirnya membangunkan Adit yang tertidur di ruang kerjanya. Dia segera keluar dan mencari dari mana suara itu berasal. Saat itulah dia menyadari semua lampu di rumah padam. Dengan senter dari ponselnya, dia berjalan dan memeriksa di sekeiling rumah.Saat dia sampai di ruangan dapur, lampu senternya menyoroti bayangan pengasuhnya yang sedang berjongkok di samping meja dapur. Adit mendekat dengan penasaran untuk memeriksa apa yang dilakukan pengasuhnya itu malam-malam di sana di tengah kegelapan.
Saat mendekat itulah dia melihat pecahan botol yang berserak dan darah yang menggenang di samping kaki pengasuhnya. Betapa syoknya dia saat mendapati darah itu mengalir dari kaki pengasuhnya yang masih dipenuhi beberapa kaca yang menancap di atasnya.
Mengetahui Adit datang, Rina langsung mengatakan, "Nggak apa-apa pak. Saya bisa tangani sendiri."
Melihat pengasuhnya itu menghindar dan memunggunginya serta berusaha mencabuti kaca-kaca yang tertancap di kakinya, Adit mendekati perempuan itu dan ikut berjongkok di depannya.
"Rasanya nggak bisa diobati di rumah ini Miss! Sobek gini... harus dijahit Miss! Biar nanti dilihat dokter lukanya," ujar Adit.
"Nggak usah pak! Saya ada perban sama obat merah kok!" jawab Rina sambil meringis menahan sakit.
"Ngawur! Kalau tambah parah atau infeksi gimana? Tunggu di sini... saya ambil kunci mobil dulu!" perintah Adit tegas.
Awalnya Rina masih saja menolak dan berusaha berdiri untuk membuktikan pada bosnya bahwa lukanya tidak separah yang dikuatirkan bosnya. Tapi baru saja dia menggerakkan kakinya sedikit, dia langsung merasakan rasa sakit luar biasa yang menghujam kakinya.
Sebenarnya saat itu, dirinya tau benar betapa seriusnya luka di kakinya itu. Tapi memikirkan biaya rumah sakit yang harus ditanggungnya, dia berusaha menahan rasa sakitnya dan menggerakkan kakinya sekali lagi.
Saat melihat itu, Adit yang tak sabaran, langsung saja menyambar kunci mobil yang diletakkannya di dekat rak buku dan menggendong pengasuhnya yang keras kepala itu ke dalam mobilnya. Rina yang terkejut dengan gerakan mendadak itu, mencengkram lengan bosnya kuat agar tidak terjatuh.
Kata-kata protes masih saja keluar dari mulut Rina, tapi Adit langsung membungkam pengasuhnya itu dengan berkata, "Saya nggak mau ada mayat di rumah saya. Bayangkan saja kalau ada apa-apa, bisa-bisa saya yang disalahkan. Bisa nggak nurut sedikit gitu lho! Keras kepala sampeyan jangan sampai malah merugikan orang lain."
Perkataan itu membuat Rina kesal, tapi dia sadar bosnya itu ada benarnya. Jika lukanya bertambah serius dan terkena infeksi, dia justru akan mengeluarkan uang yang lebih banyak dan lebih penting dari itu, dia bisa membahayakan nyawanya sendiri. Oleh karena itu, walaupun dia tak sudi mengakui langsung kebenaran perkataan bosnya itu, dia menutup mulutnya dan menghentikan protes.
Melihat pengasuh yang didudukannya di kursi belakang tak lagi memprotesnya, Adit menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan berhati-hati ke arah rumah sakit terdekat dari rumahnya, sambil sesekali melihat ke arah kursi belakang dari kaca depannya untuk mengecek keadaan pengasuhnya.
Lima belas menit kemudian, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Adit cepat-cepat keluar dari mobilnya untuk membantu Rina keluar dari mobil dengan menggendongnya lagi. Satpam di depan menawarkan kursi roda agar memudahkan membawa Rina ke ruang gawat darurat, tapi Adit menolak. Dia pikir dia sudah terlanjur menggendong pengasuhnya itu dari parkiran, jadi tanggung jika harus menurunkannya lagi dan mendudukkannya di kursi roda.
Rina yang malu melihat tatapan beberapa orang yang mereka lewati saat menuju ke ruang UGD, menyembunyikan wajahnya di bahu Adit. Aroma tubuh bosnya itupun menyeruak dan memanjakan hidungnya saat dia tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke leher bosnya itu yang jenjang dan kokoh.
Tentu saja, bosnya tak menyadari perbuatan tak pantas yang dilakukannya. Karna saat dia menoleh, pria itu masih terlihat sibuk mencari ruangan UGD di rumah sakit itu. Walaupun hanya dalam waktu singkat, Rina benar-benar menikmati berada dalam dekapan Adit.
Sesampainya di ruang UGD, Rina langsung ditangani oleh dokter dan petugas rumah sakit yang berada di sana. Benar juga kata bosnya, lukanya itu terlalu besar dan terlalu beresiko jika dibiarkan begitu saja. Setelah semua pecahan kaca dibersihkan dari kaki Rina, dokterpun menjahit luka yang robek itu.
Saat Rina sedang ditangani oleh pekerja medis, Aditlah yang sibuk mengurus pendaftaran di depan dan menebus semua obat yang dibutuhkan Rina. Dia pun dengan sabar menunggu sampai dokter selesai menangani luka-luka pengasuhnya itu dan membayar semua biaya pengobatan Rina di rumah sakit itu.
Baik Rina dan Adit sudah sangat lelah saat Rina diperbolehkan pulang, sehingga Rina tak lagi punya sisa kekuatan untuk memprotes saat bosnya itu sekali lagi menggendongnya ke parkiran. Saat harus membuka pintu mobilpun, pria itu cukup berhati-hati menurunkan wanita itu dan menuntunnya masuk perlahan.
Adit menyetir dalam diam sambil berusaha mengusir kantuknya berkali-kali dengan menepuk-nepuk kedua pipinya. Sesekali dia melirik pengasuhnya yang ada di kursi belakang lewat kaca depan dan mendapati wanita keras kepala itu tampak lelah dan sangat mengantuk.
Adit sedikit lega melihat itu, karena dia tak perlu menghadapi lidah wanita itu yang tajam, setidaknya untuk beberapa menit ke depan. Dia mengerti wanita itu kesakitan, tapi sungguh dia berharap bisa menutup mulut wanita itu sekali-kali dan membuatnya menurut.
Lampu di rumah Adit terlihat sudah menyala saat mereka kembali dari rumah sakit. Untung saja Moza tidak terbangun dan mencari papa juga pengasuhnya. Gadis kecil itu masih dengan lelapnya meringkuk di kamarnya.
Adit menggendong kembali Rina ke dalam kamarnya, walaupun tangannya sudah mulai sakit dan badannya juga sebenarnya sudah terlalu lelah untuk menaiki tangga-tangga yang sialnya dibangunnya sangat tinggi itu. Rina yang berada di gendongannya itu pun terlihat begitu mengantuk dan lunglai bersandar di lengannya.
Begitu Adit meletakkannya di tempat tidur, Rina langsung tertidur lelap. Kaki dan kepalanya terasa nyeri di sana-sini. Namun rasa kantuknya mengalahkan rasa sakit itu dan dia pun terlelap seketika.
Namun beberapa jam kemudian, terjadi hal yang tak pernah diduganya. Bosnya yang terkenal dingin dan cuek itu, masuk kembali ke dalam kamarnya dan mendekati ranjang dimana Rina tidur.
Dengan hati-hati Adit meraih wajah wanita itu dan meletakkan telapak tangannya di kening Rina. Rupanya, dia berniat mengecek keadaan pengasuhnya itu. Dia takut jika pengasuhnya itu tiba-tiba demam, diakibatkan luka yang baru dijahit itu.
Untung saja, suhu tubuh pengasuhnya itu ternyata normal dan tak ada terlihat tanda-tanda kesakitan di wajah wanita itu sekarang. Keangkuhan dan keras kepalanya pun tak terlihat lagi, saat wanita itu tertidur.
Dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimutinya, Adit meraba wajah wanita itu sesaat dan membelai rambutnya. Pandangannya menuruni bibir pengasuhnya itu dan tiba-tiba saja, tanpa tau apa sebabnya, dia menempelkan bibirnya perlahan di atas bibir wanita itu.
Rina tak berani bergerak sedikitpun saat itu terjadi, dia bahkan menahan nafasnya saking terkejutnya.
Sebenarnya tadi saat Adit masuk ke kamarnya dan memegang keningnya, dia sudah terbangun. Mengira bosnya itu akan pergi setelah memeriksa keadaannya, Rina berpura-pura tidur dan membiarkan hal itu begitu saja.
Namun dia benar-benar tak menyangka, alih-alih pergi, bosnya itu malah tiba-tiba mengecupnya.
Jantungnya berdetak kencang saat itu terjadi. Keringat dingin pun terasa mengalir dari keningnya, menyiratkan betapa tegangnya dia saat bibir bosnya itu menempel di bibirnya.
Hanya ada satu pria yang pernah menyentuhnya seperti ini dulu dan setelah itu tak pernah ada lagi. Keangkuhan dan kesibukannya membuat Rina tak membiarkan pria mana pun untuk mendekatinya. Ironisnya, kali ini pun dia dikecup dengan pria yang sama yang pernah mencuri kecupan pertamanya dulu.
Dan ajaibnya... masih sama seperti yang dulu, kecupan pria yang dicapnya sebagai musuh itu, masih mampu membuatnya meleleh di bawah pengaruhnya!
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomanceApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...