Seminggu berlalu dan semuanya masih saja sama. Adit masih saja tak bisa mendekati Rina. Melewati kelas Rina saja dia sudah dihadang beberapa murid yang tiba-tiba saja menjadi pengawal dadakan Rina. Beberapa kali juga Adit mencoba menelpon Rina, tapi tampaknya cewek itu sudah memblokir nomer Adit dan itu membuatnya semakin susah menjangkau Rina.
Jalan satu-satunya adalah pergi ke rumah Rina dan menunggunya di sana sampai dia mau menemui Adit. Tidaklah mudah memang karena orang tua Rina pasti melarang menemuinya. Tapi Adit pikir jika dia tak berusaha, dia tak bisa menggali kebenaran dari mulut pacarnya itu. Yang dikhawatirkannya adalah bahwa sebenarnya pacarnya itu sangat membutuhkannya saat ini.
Sejak pukul satu siang, sepulang sekolah, Adit sudah nongkrong di depan rumah Rina sambil berusaha memanggil nama cewek itu berkali-kali supaya dia keluar. Sayangnya, pintu rumah itu tetap tertutup rapat dan tak ada seorangpun yang keluar. Adit memarkirkan sepedanya di sebelah pohon rindang di seberang rumah Rina dan menunggu disana sampai beberapa jam kemudian dan akhirnya pulang dengan tanpa hasil.
Selama dua belas hari sudah dia melakukan itu dan hasilnya tetap nihil. Tambah dia menunggu, tambah dia semakin tak tahan lagi. Dengan amarah yang semakin bergelora di dadanya, Adit menghampiri Rina ketika cewek itu keluar dari gerbang sekolah dan terlihat bingung mencari mobil jemputannya, yang tampak terlambat datang hari itu. Adit menggunakan kesempatan itu dengan menarik tangan Rina, serta membawanya ke tempat yang aman. Tempat yang bisa membuat mereka berduaan saja tanpa diganggu orang lain.
Adit membawa Rina yang meronta-ronta masuk ke dalam gudang alat-alat olah raga sekolah dan mengunci pintu itu rapat-rapat. Begitu pintu itu ditutup, Rina langsung menampar pipi Adit kuat.
"Kurang ajar! Beraninya menyeretku kesini lagi! Lepaskan aku dan buka pintunya. Aku mau keluarrr dit!" teriak Rina marah.
Adit cukup terkejut dengan emosi Rina yang meledak-ledak itu, Namun dia menahan kemarahannya dan menatap cewek itu seraya berkata, "Tenang aku nggak membawa kamu kesini untuk menyakitimu. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal yang mengangguku dan setelah itu kau boleh pergi."
"Apa lagi sih! Kamu nggak puas apa sudah selama berhari-hari nongkrong di depan rumahku dan mengganggu keluarga kami dengan berteriak-teriak terus kayak orang gila?"
"Tenang dulu. Aku cuman pengen tau soal yang kamu katakan di ruang kepala sekolah waktu itu. Kamu tahu sendiri kan aku nggak pernah memaksamu selama kita pacaran. Kabur ke Malang waktu itu pun permintaanmu. Trus kok kata-katamu beda waktu di depan kepala sekolah dan guru? Kamu ada apa? Kamu diancam orang tuamu kah? Atau jangan-jangan kamu sedang dalam bahaya ya?!" Adit menyampaikan pertanyaan yang panjang itu dengan raut wajah yang super khawatir sambil menatap mata pacarnya untuk mencari pembenaran yang dibutuhkannya.
Namun pacarnya itu malah balas menatapnya dingin dan sama sekali tak bersimpati pada kesedihan yang tersirat di setiap kata yang diucapkan Adit. Dengan angkuhnya, Rina melipat kedua tangannya dan menjawab, "Bahaya? Bukannya justru kalau kelamaan bersamamu, aku bisa dalam bahaya. Kamu pikir papaku itu berandalan sepertimu yang suka ngancam-ngancam apa?! Nyadar dong dit. Masak kamu nggak tau kalau aku selama ini terpaksa bersamamu?! Sudah berulang kali kan kubilang aku nggak suka denganmu. Apa untungnya coba jadian dengan cowok kayak kamu? Kaya enggak... pinter juga enggak!"
Adit menyipitkan matanya mencoba mengenali sikap Rina yang baru dilihatnya ini. Dia mulai berpikir bahwa mungkin dugaannya salah. Mungkin saja benar bahwa cewek di depannya ini memang hanya karena terpaksa makanya mau saja bersamanya. Salahnya memang kenapa menggunakan cara mengancam untuk mendekati Rina. Kalau saja dia mendekati cewek itu baik-baik, mungkin saja jalan ceritanya akan berbeda.
"Jadi hanya gara-gara aku miskin dan nggak pintar to. Pantesan di sungai waktu itu, kau tampak dingin dan pergi begitu saja. Kalau memang itu masalahnya, kenapa kamu mendekatiku lagi waktu itu? Kamu kan jelas-jelas tau aku sudah menyerah waktu hari Valentine itu!"
Sejenak Rina tampak panik, seperti berpikir jawaban apa yang harus diberikannya. Namun setelah itu, dia kembali tenang dan menjawab, "Waktu itu aku kesepian dan bosan. Mengira kamu bisa jadi boneka yang baik dan dapat menghiburku. Aku berkorban dikit dengan menuruti memasak kue coklat itu, supaya bisa nantinya pelan-pelan memanfaatkanmu. Tapi ya ternyata senengnya cuma bentar aja. Malunya itu lho yang aku nggak kuat. Dilihatin orang pacaran sama berandalan, jujur saja aku malu banget! Untungnya papaku mau bantu aku supaya lepas darimu. Jadi akhirnya aku bisa merasa benar-benar lega. Namun bukannya kamu berhenti menggangguku... eh malah... datang terus kayak orang stres!"
Anehnya... Adit diam saja mendengar perkataan Rina yang kejam itu. Hatinya terasa mengeras dan terluka parah. Dia sungguh membenci cewek yang ada di depannya saat ini. Dia takut berlama-lama di tempat itu bisa membuatnya melakukan hal yang buruk seperti meninju atau menyakiti Rina.
Dengan seluruh tubuh yang menegang, dibukanya pintu dan didorongnya Rina keluar. Tanpa pikir panjang, Rina lari sekencang mungkin tanpa sekalipun menoleh ke belakang, meninggalkan Adit yang masih berdiri kaku di tempat itu.
.
Sebulan setelah hari itu, Adit sudah tampak baik-baik saja. Dia memangkas rapi rambutnya serta mengganti seragamnya dan tasnya yang usang dengan yang baru dan mahal. Hari ini dia akan menerima nilai ujian tengah semester dan dia mau terlihat rapi saat menerimanya. Dia yakin betul nilai ujiannya kali ini tidaklah sejelek yang dulu.
Dengan percaya diri dia masuk ke dalam kelas dan mengambil hasil ujiannya dari wali kelas. Tampak senyum sumringah sang wali kelas menyambutnya masuk. Benar saja semua nilai pelajaran Adit A sempurna dan membuat terkejut semua guru dan teman-temannya.
Dengan bersenang hati, Adit mentraktir semua teman-temannya itu di kantin untuk merayakan pencapaiannya. Semua dengan tulus mengucapkan selamat dan tak henti-hentinya memuji nilai-nilai yang semuanya sempurna tersebut.
Satu hal yang mereka tidak tahu, bahwa hari itu pikiran Adit sama sekali tidak seratus persen bersama dengan mereka. Ada hal lain yang membuatnya tampak gusar dan selalu saja memandangi kelas 2A di seberang kelasnya. Cewek yang sedang berjalan keluar dari kelasnya dan menuju ke toilet cewek lah yang lagi diincarnya.
Teman-teman yang sibuk mengobrol dan makan, tak sedikitpun melihat Adit yang keluar dari kelas tiba-tiba dan masuk mengikuti cewek tersebut ke dalam toilet.
Setelah memastikan hanya Rina lah yang ada di toilet itu, dia pun menutup pintu depan toilet dan menguncinya. Waktu pintu terbuka, Adit melihat wajah Rina yang berubah ngeri saat melihatnya. Tahu cewek itu akan berteriak, Adit menutup mulut Rina langsung dan mengancamnya agar diam.
Setelah perempuan itu diam, Adit menyerahkan kertas nilainya yang didapatnya dari wali kelas tadi. "Aku dapat nilai A semua. Sudah kubilang kalau aku nggak sebodoh yang kau kira! Gimana... masihkah aku nggak cocok jadi pacarmu?!"
"Apaan sih?! Kamu sudah gila ya! Kamu nggak liat kita sedang ada dimana?! Beberapa menit saja, orang akan tau kamu sudah mengunciku di sini dan setelah itu kamu pasti akan ada dalam masalah!" protes Rina sambil berusaha kabur dari Adit.
"Aku nggak perduli! Kamu sudah membuatku dalam masalah dan sekarang giliranmu merasakan hal yang sama!" jawab Adit geram seraya menarik tangan Rina kuat dan memperangkap cewek itu di kedua lengannya. Saat wanita itu terus saja meronta, Adit menarik bagian depan kemeja Rina kuat ke arahnya dan mencumbu wanita itu dengan paksa.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomanceApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...