Rina sebal kenapa harus setiap hari Valentine semua cewek di kelasnya menggila dan girang tak karuan. Semua jadi tampak pink setiap kali hari yang diklaim sebagai hari cinta kasih ini tiba. Coklat dan boneka bertebaran di sana-sini, seakan-akan hal itu wajib dan bagi yang tidak merayakannya akan tersisih dan tampak menyedihkan.
Menurut Rina semua itu sia-sia dan terlalu membuang banyak waktu serta biaya. Baginya aneh merayakan hari kasih sayang yang ujungnya juga tak abadi. Bukannya saat berpisah, cokelat itu takkan terasa manis lagi dan boneka-boneka itu hanya akan jadi sampah saja.
Pernah satu kali mamanya memberinya boneka sebagai lambang kasih sayang di hari Valentine. Tanpa pikir panjang, Rina langsung memberikannya pada cucu pembantunya. Mamanya yang tampaknya menjunjung tinggi hari kasih sayang itu benar-benar tak tahu kalau yang dibutuhkannya bukan boneka tapi waktu mengobrol sebentar saja dengannya.
Baginya adalah aneh melihat orang-orang yang tak mengerti kasih sayang tapi gemar sekali merayakan hari itu. Banyak diantara mereka yang jelas-jelas sering menyakiti dan tak setia pada pasangannya tapi tiba-tiba pada hari itu saja berubah jadi manis dan romantis.
Itulah yang membuat Rina muak dengan hari itu dan bersumpah dalam hati takkan mau merayakannya.
Celakanya... Adit punya pikiran yang berbeda. Dia suka merayakan hal-hal seperti ini. Dia boleh dibilang cuek tapi untuk hari-hari spesial, dia sangat memperhatikannya. Dia tak mau membuat pasangannya kecewa jika dia sampai tak mau atau lupa untuk merayakannya.
Dia bahkan sudah menyiapkan kejutan spesial untuk mengejutkan Rina. Dengan tekun dia merencanakan ini beberapa hari sebelumnya. Teman-teman genknya mengkritik dan melarangnya tapi dia tetap saja memaksakan diri.
Adit menunggu sampai jam pelajaran terakhir dan kelas kosong untuk memberikan hadiah Valentinenya. Sialnya, Rina langsung saja kabur setelah selesai merapikan dan memasukkan buku dan alat-alat tulisnya. Adit sampai harus mengejar cewek itu sampai ke depan pintu gerbang.
Rina memang berhenti saat Adit memanggilnya tapi wajahnya kelihatan sedikit kesal. Sebelum cewek itu marah, dia menyerahkan hadiahnya sambil berkata, "Happy Valentine day!"
Baru saja bingkisan yang dibungkus kertas kado warna merah muda itu mendarat di tangan Rina, cewek itu langsung menampikknya kasar. Dengan kejamnya dia menambahkan, "Ih... apa ini? Jijik!"
Hentakkan yang keras itu membuat bungkusan itu terbuka dan isinya jatuh berceceran.
Kue coklat yang seharusnya berbentuk hati itu tampak sudah berantakan dan menyedihkan. Adit yang luar biasa terkejut akan reaksi Rina tersebut, melongo memandangi kue yang sudah hancur itu.
Seruan terkejut murid-murid yang lewatlah yang menyadarkan Adit. Dia segera mendekati kue itu dan mengambilnya dari jalan dan dimasukkan lagi ke wadahnya. Kali ini entah kenapa hatinya yang malah lebih terasa hancur lebur. Dia benci mengakuinya tapi dia benar-benar ingin menangis. Kalau saja bukan karna reputasinya, dia takkan sungkan-sungkan menumpahkan air matanya.
Yang Rina tidak tahu adalah kalau Adit membuat sendiri kue coklat itu. Dengan giatnya dia belajar dari youtube dan melatihnya berkali-kali sampai sempurna. Tapi pacar yang disangkanya akan senang saat menerima hadiah manis tersebut malah menghina dan menghancurkannya begitu saja.
Tanpa perlu berkata apa-apa lagi, Adit membawa kue coklat itu bersamanya dan beranjak pergi dari tempat itu begitu saja. Rina yang bingung dengan apa yang terjadi di depannya, dibuat lebih bingung lagi dengan reaksi Adit.
Dia sebenarnya hanya refleks aja menampik hadiah itu karena melihat warna pink dari kertas kado itu. Tapi sebenarnya dia tak menyangka hadiah itu bisa dengan mudah terbuka dan hancur begitu saja. Dia baru saja ingin menjelaskannya, tapi tak menyangka Adit tiba-tiba pergi begitu saja, tanpa menunggu penjelasannya dulu.
Ini tanpa disangkanya begitu mengusik hatinya. Mungkin lebih baik bagi Rina jika Adit memarahinya saat itu juga. Pergi begitu saja membuatnya merasa seperti ada yang mengganjal hatinya dan rasanya tak tepat. Ingin dia mengejar Adit dan bertanya, tapi harga dirinya menahannya. Maka dia segera berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya yang sedang menunggu di seberang sekolah.
Sesampainya di rumah, kejadian tadi masih saja berputar-putar di kepalanya. Dia pikir makan bisa mengusir pikiran itu tapi dia malah mulai bisa melihat wajah sedih Adit di piringnya. Dia bahkan mencoba membuka bukunya dan mengerjakan buku latihan soal-soal tapi tidak sedikitpun dia bisa berkonsentrasi.
Tak ada jalan lain, pikirnya. Dia harus menghubungi Adit dan bertanya.
Sialnya, tidak sekalipun telponnya tersambung. Beberapa kali pun dihubungi, tetap saja tak tersambung. Terhitung lebih dari tiga puluh kali sudah Rina menelepon tapi hasilnya nol. Karena kesal, dia membanting telponnya ke kasur dan menendang tempat tidurnya.
.
Keesokan harinya, Adit pun terlihat menghindar dan tak mau bicara dengan Rina sedikitpun.
Dengan langkah gontai Rina mengikuti Adit saat jam istirahat pertama dan memberhentikannya seketika.
"Kamu maunya apaaaaaaa siihhhhhhhh???" teriak Rina dengan perasaan frustasi.
Setelah berteriak, baru dia sadar kalau dia sedang mengikuti Adit sampai ke dalam toilet cowok.
"Aku mau PIPIS! Kamu keluar dulu sana!" perintah Adit
Rina menurut sambil memalingkan wajahnya malu dan cepat-cepat keluar. Dengan sabar dia menunggu sampai Adit keluar. Tapi begitu keluar Adit malah melengos pergi lagi.
"Jadi gimana? Maumu putus gitu?!" teriak Rina frustasi dari tempatnya berdiri dan berhasil membuat Adit menoleh.
"Percuma saja kan. Kamu nggak pernah menghargai orang lain. Asal tau saja, aku menghabiskan waktu berhari-hari supaya bisa membuat kue itu. Belum lagi dibuka, uda hancur begitu saja. Kalau nggak suka, kan bisa bilang baik-baik!"
Rina baru tau kalau Adit membuat kue itu sendiri dan itu membuatnya tambah merasa tak enak hati. "Aku nggak bermaksud. Aku hanya alergi dengan apapun tentang Hari Valentine. Pokoknya aku nggak suka! Itu makanya waktu melihat warna bungkus hadiahmu aku langsung merasa jijik. Sama sekali aku tak bermaksud menghina kue buatanmu."
Adit diam saja dan berusaha mencerna penjelasan Rina.
"Kalau kau mau aku bisa menggantinya. Kamu tinggal pilih aja kue yang mana, nanti aku yang bayar... gimana?" tambah Rina karena mengira diamnya Adit itu karena dia kurang yakin dengan penjelasan Rina.
"Kalau kamu mau ganti, aku mau kue yang kamu buat sendiri. Biar kamu tahu gimana susahnya membuat kue coklat seperti itu. Kalau kamu nggak mau... ya udah, nggak usah nyari aku lagi!" seru Adit dengan wajah serius dan setelah itu melenggang pergi begitu saja.
"Lho kok gituuuu... aku nggak bisa masak dit! Diiiit... berhenti dulu napaaa.... Aditttttt...." protes Rina sambil kembali mengejar cowok yang kebetulan adalah pacarnya itu.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
Roman d'amourApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...