Wanita yang jual mahal memang menantang… tapi yang terlalu jual mahal, justru membuat Adit muak. Dia tak pernah berencana mengencani pengasuhnya itu sebenarnya. Dia cuma penasaran dan hanya ingin bersenang-senang sedikit. Tak disangkanya, pengasuhnya itu malah bertingkah seperti perawan angkuh yang menyangka dirinya terlalu berharga untuk disentuh pria manapun.
Bukannya wanita itu yang membuatnya salah paham duluan. Kalau saja waktu itu Rina tak datang ke kamarnya dan mengecup bibirnya, dia takkan berani melangkah terlalu jauh seperti beberapa hari belakangan ini. Lagipula, wanita itu juga sempat membalas saat dia mencumbunya di ruang tamu malam itu. Tidak hanya dia saja yang terlena dan merasakan gairah itu, wanita itu seingatnya juga bereaksi kurang lebih sama.
Walaupun memang… dia juga bersalah terlalu mengira Rina juga menikmati apa yang sudah dia rasakan saat memeluk dan mencumbu wanita itu. Sekarang dia harus ingat betul-betul batasannya. Wanita itu tak menyukainya dan jangan coba-coba untuk mendekatinya lagi. Wanita itu seperti bom waktu yang suatu hari bisa mencelakainya jika dia terlalu dekat.
.
Lima hari berlalu sudah. Adit dan Rina sama-sama sepakat menjaga jarak. Mereka masih berdiskusi memang untuk persiapan pesta ulang tahun Moza. Namun itu juga dilakukan saat ada orang lain bersama mereka. Berdua saja di dalam satu ruangan, akan membuat mereka canggung dan susah untuk berdiskusi.
Pesta dimulai jam sepuluh pagi hari ini. Rina sengaja tak pulang hari sabtu kemarin ke rumah mamanya untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan rencana. Adit pun ikut mengawasi pekerjaan wanita itu dari jauh. Bukannya dia tak percaya, hanya saja pesta ulang tahun anaknya ini juga penting baginya. Dia ingin menyenangkan anaknya dengan memberikan dia pesta ulang tahun sesuai dengan impiannya.
Saat mengawasi wanita itu, Adit juga melihat wanita itu sesekali memijit-mijit bagian kakinya yang sakit. Walaupun sudah tidak lagi diperban dan jahitan sudah dibuka, Adit tau wanita itu masih merasa kesakitan jika dia terlalu banyak berjalan atau kecapekan.
Adit langsung mengambil beberapa es batu dan memasukkannya ke dalam alat kompres. Dia memanggil Mbok Saroh dan menyuruh wanita paruh baya itu untuk memberikannya pada Rina. Namun berkali-kali dia memperingatkan agar Rina tak tahu kalau kompres itu darinya.
Tentu saja itu bukan berarti karna dia peduli pada wanita itu. Dia hanya tak mau kaki yang sakit itu justru malah membuat rencana pesta menjadi tak sempurna. Dia tak tertarik pada wanita itu sedikitpun. Dia bahkan tidak bergeming saat rok wanita itu tersingkap saat sedang mengkompres kakinya. Yaaa… dia memang melirik sedikit, tapi tidak… dia sama sekali tak tertarik.
Para tamu mulai berdatangan dan pesta akhirnya dimulai. Tamu yang pertama kali datang adalah wali kelas Moza di kelas dua, Miss Betty. Wanita yang cantik itu terlihat tersipu-sipu saat menjabat tangan Adit. Sepanjang pesta itu pun, dia terus berada di sekitar Adit. Dari mulai menyapa sampai obrolan basa basi yang tak berdasar pun dilontarkan wanita itu terus untuk menarik perhatian Adit.
Adit awalnya mengira wanita itu cuma sekedar bersopan santun belaka. Tapi lama kelamaan dia menangkap sinyal-sinyal ketertarikan dari wajah wanita itu. Menurut Adit memang wali murid anaknya itu cantik dan pembawaannya anggun. Tapi benar-benar bukan tipe Adit.
Tipe seperti susu vanila yang ditampakkan oleh Miss Betty adalah tipe yang sering membuatnya bosan dan mengantuk. Tak ada tantangannya. Tak ada gregetnya. Apa yang terlihat, itulah yang akan didapatkan saat bersama wanita seperti itu. Yang diinginkannya itu yang dingin tapi pandai diajak berdebat. Yang tidak terlalu sopan dan juga tau menjaga dirinya, bahkan sanggup menggunakan lidahnya untuk menjatuhkan lawannya. Wanita yang terkenal cuek tapi panas saat disentuh. Wanita yang bereaksi diluar dugaannya. Wanita yang… yang… bukanlah MISS RINA… tapi yang agak MIRIP seperti dia.
Rina tiba-tiba saja bersin beberapa kali, seakan-akan ada yang sedang membicarakan dirinya. Mungkin saja itu ulah mamanya yang ada di rumah yang pasti sedang ngomel-ngomel karena dia tidak pulang kemarin, pikirnya. Namun, dia sebenarnya tak keberatan tinggal sehari lebih lama. Dia cukup puas karena melihat pesta yang direncanakannya berjalan dengan lancar. Tak ada satupun yang berjalan diluar rencana.
Dia hendak mengambil minuman dan makanan sedikit untuk mengisi perutnya yang sedari tadi kelaparan, saat itulah dia melihat Adit dan Miss Betty sedang berbincang-bincang di dekat kolam renang. Miss Betty tampak tertawa bahagia dan terlihat memandang lawan bicaranya dengan antusias. Sesuatu... yang sesuai juga dengan rencananya. Dan dia bahagia melihat ini. Dia bahagia? Sungguhkah?
Apapun itu yang dirasakannya sekarang, semuanya itu tak penting. Dari awal memang dia posisinya adalah seorang guru les yang kemudian berubah menjadi seorang pengasuh. Dan semua itu harus dijaganya sampai akhir. Dia tak boleh keluar jalur. Uang yang harus jadi fokus utamanya. Jangan berharap yang tidak-tidak. Jangan bermimpi yang terlalu tinggi. Menjauhi Adit adalah pilihan tepat baginya.
Memangnya apa yang bisa diharapkannya dari pria itu. Kalaupun pria itu mempunyai perasaan terhadapnya, apa yang bisa dilakukannya setelah itu? Menikahinya? Mana mungkin! Menipu pria itu dengan menutup-nutupi identitasnya sudahlah cukup kejam. Dia takkan berani melangkah lebih jauh dan memimpikan posisi nyonya di rumah itu dengan menggunakan cara yang sama.
Lagipula… pria itu jelas-jelas sudah menunjukkannya seberapa besar nilainya di mata pria itu. Dia hanyalah pengasuh dan tak pantas bahkan untuk diajak berkencan. Harganya hanya sejauh pemuas rasa penasaran pria itu. Selesai pria itu puas menyentuhnya dan tak lagi merasa penasaran, dia juga akan dicampakkan sama seperti perempuan lainnya. Lebih baik begini, pikirnya. Bekerja keras dan mendapatkan gaji yang layak. Bisa mendapatkan tempat tinggal dan penghidupan yang layak saja, sudah cukup baginya. Pria bukanlah kemewahan yang bisa dia dapatkan di saat-saat seperti ini.
.
Rina sedang membereskan balon-balon di halaman parkiran saat Adit tiba-tiba mendatanginya. Pria itu tampak marah dan hampir saja meledak. Rina tentu saja bingung melihat raut wajah bosnya. Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.
“Benar kamu yang bilang sama Miss Betty kalau aku lagi cari calon pedamping, iya?!” gertak Adit.
Seketika itu juga wajah Rina berubah pucat pasi. Dia tak menyangka Miss Betty akan blak-blakkan mengungkapkan hal itu pada bosnya. Sebenarnya Rina melakukan itu karena kepepet nggak ada jalan lain. Dia pikir Adit akan kapan saja menyerangnya dan keperawanannya dalam bahaya. Saat pertengkarannya dengan Adit terjadi dan mendengar bahwa pria itu tak tertarik lagi padanya, dia lupa akan apa yang pernah dikatakannya pada wali kelas anak asuhnya itu.
“Saya memang bersalah pak. Tapi itu sebenarnya karna—”
“Kenapa??? Kamu takut aku begitu tertarik padamu, sehingga kamu merasa perlu mencarikan aku wanita lain untuk menggantikanmu. Kamu pikir aku ini apa? Binatang yang perlu dicarikan mangsa lain, begitu?! Wah… kotornya pikiranmu Miss! Aku nggak pernah melihat seseorang yang begitu kurang ajarnya seperti kamu ini. Uda nggak ada obatnya kayaknya kamu ini. Semakin lama orang kayak kamu di rumah saya, bisa-bisa Moza ketularan sifat burukmu ini lagi.”
“Saya minta maaf pak! Saya janji nggak akan melakukan hal seperti ini lagi. Saya akan menjaga jarak dan-“
Adit terlihat makin muak dan langsung memotong perkataan Rina. “Nggak! Saya mau kamu nggak usah kembali ke rumah saya lagi. Hari ini hari terakhir kamu bekerja di rumah ini! Ambil barang-barangmu semua dan pergi saat Moza tidak melihatmu. Nanti biar saya yang jelaskan sama dia pelan-pelan. Gajimu sampai hari ini, akan saya kirimkan nanti setelah pesta berakhir, ke rekening kamu. Sekarang pergilah dan janji jangan sampai pernah menghubungi Moza lagi!”
***
Author's note:
Kalau kau berani mencinta, kau juga harus berani menerima segala efek sampingnya
Beri vote, komentar dan follow supaya ada energi untuk upload terus

KAMU SEDANG MEMBACA
MENIKAH KARNA DENDAM (COMPLETED)
RomantizmApa yang akan terjadi jika cinta dan benci dari masa lalu menyapa kembali setelah sepuluh tahun berlalu? Rina Wibowo sungguh tak menyangka dia akan kembali bertemu dengan Aditya Harsono, pria yang pernah menjadi mantan pacarnya sekaligus mimpi buruk...