08. Not appreciated

6K 659 36
                                        


"Haechan yang suka pake moge kemana nih?" tanya Hyunjin yang baru saja memparkirkan motornya di samping motor Haechan.

"Paan sih lu?"

"Sensi amat bro? Napa lo? Gara-gara Jaemin mau nya sama Jeno?"

"Jaemin mulu, orang gue cuma temenan doang." Haechan sedikit menyisir rambutnya ke belakang yang agak berantakan.

"Ya terus kenapa?"

"Muka lo ngeselin, jin." Haechan turun dari motornya dan pergi menjauhi Hyunjin.

Kening Hyunjin berkerut, kemudian dia melihat ke spion motornya.

"Muka gue ganteng paripurna gini dikatain ngeselin, autis emang."

Haechan menenteng tas ranselnya, lebih ke menyeret tas nya yang bersentuhan dengan lantai koridor.

"Sialan." umpat Haechan ketika melihat dua orang laki-laki di depan nya yang salah satu nya sedang merangkul laki-laki lain.

Tidak aneh dan bukan lain lagi, itu pasti Jeno dan Renjun.

Haechan mempercepat jalan nya dan sengaja menabrak bahu Jeno, membuat remaja itu sedikit terdorong ke depan.

"Woi chan!" panggil Jeno, tetapi Haechan tidak merespon nya dan terus berjalan ke depan.

"Kenapa sih?" tanya Jeno sambil melirik Renjun di samping nya.

"Ada urusan kali, Jen? Jadi buru-buru." ujar Renjun seraya melepaskan rangkulan Jeno di bahu nya.

"Kemarin kamu di anterin Haechan ya?"

Renjun mengangguk. Kemudian kejadian kemarin--dimana Haechan mencium bibirnya terputar dalam otaknya.

Bukan kah seharusnya kemarin dia marah pada Haechan? Tapi rasanya tidak bisa, Renjun malah merasa sedikit senang di perlakukan seperti itu oleh Haechan.

Honestly, Jeno tidak pernah seperti itu padanya.

▪▪▪▪▪

"Lo serius suka sama Jeno, Jaem?" tanya Haechan pada Jaemin yang sedang melihat beberapa tulisan di papan mading.

"Lo kira gue becanda? Semenjak Jeno jadi kapten basket, gue udah suka sama dia. Tapi suka dalam diam, nggak berani terang-terangan. Dan entah takdir macam apa, waktu itu Jeno ngajak gue pulang bareng."

Haechan memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana nya, "Kalo serius, bikin dia jatuh cinta sepenuhnya sama lo. Bikin dia punya perasaan yang sama kayak lo."

Jaemin melirik teman nya itu dengan halis menyatu, "Lo dukung gue?"

"Ya iya. Kenapa? Aneh ya?"

Jaemin menggeleng, "Tapi gue liat-liat lo kayak nggak suka gitu sama Jeno, padahal Jeno selalu bersikap baik sama lo."

"B aja deh gue sama dia." walau sebenarnya Haechan ingin sekali saja menonjok wajah laki-laki itu.

"Baguslah. Kalo lo emang nggak suka Jeno, mending gue mundur. Kenapa? Ya gue mah mending ngelepasin Jeno aja daripada putus pertemanan sama lo."

Diam-diam Haechan tersenyum tipis. Rasanya dia ingin mengelus lembut surai sahabatnya itu. Tetapi dia sedang menjaga perasaan nya sendiri, walau si yang di beri perasaan tidak tahu dan tidak peduli sama sekali.

"Na?"

Jaemin berbalik, sedangkan Haechan tidak peduli dengan suara itu. Dia sibuk membaca tulisan yang ada di papan mading.

"Eh Jeno? Kenapa?"

Namun rasanya Haechan harus menoleh karena ada sesuatu yang membuatnya tidak enak. Benar saja, ada Renjun di samping Jeno. Dan dengan tidak tahu dirinya Jeno menyapa Jaemin dengan panggilan yang bisa di bilang special itu.

"Em..." Jeno menatap Renjun yang ada di sampingnya. Renjun yang paham, hanya mengangguk sambil tersenyum pada Jeno.

"Bisa ngomong berdua dulu nggak? Di rooftop."

"Boleh, Jen." jawab Jaemin.

Lalu mereka berdua pergi.

Haechan sangat lelah melihat drama ini, jujur. Lebih lelah lagi ketika dia melihat yang tersakiti ditinggal bersama nya.

Detik berikutnya, hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan akan terjadi.

Tangan Renjun melingkar di pinggang nya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Haechan.

Terdengar beberapa kali Renjun menghela napas.

"Pernah nggak sih lo ngerasa capek banget dan cuma bisa buang napas aja. Nggak bisa ngapa-ngapain lagi." suara Renjun yang kini meletakkan dagu nya di bahu Haechan.

Haechan ikut menghela napas, melingkarkan tangan nya di tubuh Renjun, sesekali mengelus punggung remaja itu.

"Lo denger kan tadi gue buang napas juga? Berarti jawaban nya, pernah."

▪▪▪▪▪

Mungkin beberapa waktu lalu Haechan pernah menyuruh Renjun untuk melepaskan Jeno. Tapi untuk kali ini, tidak.

Haechan sadar, sebelumnya sulit bagi Renjun untuk mendapatkan Jeno. Pastinya sulit juga untuk melepaskan apa yang sudah dia dapat sekarang.

"Jaemin soft juga ya keliatan nya?" sahut Renjun.

"Dia emang soft."

Renjun terdiam. Haechan merutuki dirinya sendiri yang telah memuji orang lain di depan orang yang tengah dilanda rasa sedih ini.

"Eh sorry. Maksud gue--"

"Nggak apa-apa. Keliatan kok dia soft orang nya. Gue jadi pengen deket sama dia."

Haechan menatap Renjun, "Ngapain deh?"

"Mau aja. Nggak boleh ya?"

Haechan menggaruk kepala nya, "Boleh aja sih."

Kelas Haechan dan Renjun kebetulan sama-sama sedang jamkos. Jadi Haechan mengajak Renjun untuk diam di kantin sambil menunggu bel pulang berbunyi.

Tidak lama setelah itu, bel berbunyi. Haechan pun dengan segera mengajak Renjun menuju parkiran, untuk pulang bersama. Karena Haechan tidak membawa moge seperti kemarin, dia memakai motor matic biasa. Demi kenyamanan Renjun.

"Ayo pulang." tiba-tiba Jeno datang menarik lengan Renjun, laki-laki itu juga sama sekali tidak memberontak.

Renjun memakai helm yang di pasang oleh Jeno dan naik ke motor.

Ketika motor Jeno lewat tepat di hadapan Haechan. Remaja itu berteriak--

"BRENGSEK LO!!"

Itu bukan untuk Jeno.

Melainkan untuk Renjun.



























_____

Beneran jadi kayak drama gitu ya

Tapi suka gak sih?

B.Y.S | HyuckrenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang