Setelah bel pulang berbunyi, Jeno dengan segera berjalan menuju kelas Renjun. Mengajak remaja itu untuk pulang bersama.
Koridor pun sudah sangat sepi, namun bukan berarti Renjun sudah pulang. Karna Jeno tau, laki-laki itu akan pulang ketika semua siswa sudah benar-benar meninggalkan sekolah.
Jeno akhirnya sampai, namun sesuatu seperti sedang menghadangnya ketika Jeno melihat pemandangan di depan nya.
Haechan yang duduk di meja itu tampak mengusap rambut Renjun secara perlahan, yang diusap sedang sibuk memasukkan beberapa alat tulis ke dalam tas.
Salah satu nya tidak ada yang menyadari keberadaan Jeno.
Jeno mundur lalu bersandar di tembok tepat di belakang pintu kelas, memejamkan matanya kemudian menghela napas.
Jadi, dirinya akan berpihak pada siapa nanti nya jika kedua nya begitu istimewa di hatinya?, ini semua terputar dalam kepala Jeno.
"Jeno?"
Jeno menoleh, mendapati Renjun yang menatapnya dengan Haechan di sampingnya.
Laki-laki yang awalnya bersandar itu kali ini menegakkan tubuhnya. Membuang napas panjang dan detik berikutnya dia memeluk tubuh seorang remaja mungil itu.
Haechan terkejut.
Jeno meletakkan dagu nya di bahu Renjun. Remaja itu memang bingung, tapi lama-kelamaan dia membalas pelukan Jeno.
"Ekhem." Haechan berdehem lalu tersenyum paksa walau Renjun atau Jeno tidak melihatnya, "G-gue duluan y-ya." Haechan dengan cepat meninggalkan Renjun dan Jeno.
Renjun tampak sedih ketika Haechan meninggalkan nya. Disisi lain, Renjun tidak bisa melepaskan Jeno.
▪▪▪▪▪
Haechan memakai helm dan menyatukan pengait helm itu dengan terburu-buru.
"Eh ngab! Bentar!"
Seseorang menahan bahu Haechan ketika dirinya hendak melajukan motor.
"Apaan sih jin?"
"Nebeng sampe pertigaan boleh kali."
"Ngapain lu? Mangkal?"
"Sembarangan!"
"Yaudah naek!"
Hyunjin tersenyum lebar lalu naik ke jok belakang motor Haechan. Lelaki bongsor itu pun melajukan motornya, menjauh dari area sekolah.
Sampai di pertigaan, Haechan memberhentikan motornya lalu si penumpang turun. Hyunjin menepuk bahu Haechan sebanyak dua kali.
"Thanks bro. Kapan-kapan kasih gue tebengan lagi."
"Ngga dulu." Haechan kembali menstatter motornya, "Balik dulu gue."
"Hati-hati."
Haechan mengangguk lalu kembali melajukan motornya. Dia tidak berniat untuk pulang, dia ingin mampir sebentar ke sebuah taman.
Padahal sang adik sudah cerewet untuk menyuruh Haechan segera pulang karna ingin masker-maskeran, sampai spam chat.
Tapi Haechan tidak memperdulikan itu. Dia ingin mendinginkan pikiran nya sejenak.
Setelah memparkirkan motor, Haechan mencari tempat duduk kosong di taman itu.
"Kakak mau duduk?" tanya seorang anak kecil laki-laki.
"Oh, iya dek."
"Disini aja, kak. Di samping aku."
Haechan tersenyum, duduk lalu mengelus rambut anak itu, "Makasih ya?"
Anak kecil itu mengangguk walau tak lama kemudian dia pergi dan ikut bermain dengan yang lain.
Haechan menyandarkan punggung nya di sandaran kursi. Sedikit lebih lega ketika punggung nya itu menyentuh sandaran kursi.
Laki-laki itu memejamkan mata sambil merasakan angin kecil yang menyapu wajahnya. Rasanya Haechan mengantuk, tapi dia tidak bisa tidur disini.
Tapi tiba-tiba kesadaran nya hilang, dia tertidur. Walau baru saja dia merasa terlelap, dia bermimpi seseorang memanggilnya. Hanya suara, tidak ada orang.
"Haechan."
"Haechan."
"Haechan!"
Mata Haechan terbuka lebar, napas nya memburu.
Oh itu bukan mimpi, memang ada yang memanggilnya sedari tadi.
"Oh, elo. Ada apa?" Haechan bertanya santai pada Renjun yang masih berdiri di depan nya.
"Iseng mampir kesini, ternyata ada lo."
"Lo nggak pulang?" Haechan mendongak, menatap Renjun yang lebih tinggi darinya, "Barusan kan sama Jeno."
"Sengaja minta turunin disini."
Haechan tidak menjawab perkataan Renjun lagi.
"Lo marah?"
"Siapa?"
"Lo. Lo pasti marah sama gue karna gue milih sama Jeno."
"Gue ada hak buat marah emang? Nggak kan? Lo aja bukan siapa-siapa gue. Lo kan emang udah sama Jeno."
Renjun menghembuskan napas, "Come here." remaja itu merentangkan kedua tangan nya.
"Apa?"
"Hug."
Awalnya Haechan ingin menolak, namun rasa iri nya terlalu besar. Jadilah dia menerima pelukan Renjun, memeluk tubuh mungil remaja itu dengan sangat erat.
"Hug me longer."
"What?" tanya Renjun.
"Peluk gue lebih lama dari lo peluk Jeno." gumam Haechan.
Renjun jadi sadar, bahwa dia milik Jeno, dan Jeno miliknya. Pantas kah Renjun seperti ini pada laki-laki lain? Harusnya tidak.
Jika Jeno tau, dia akan terluka.
Bukan hal bagus Renjun membiarkan Haechan terluka juga karena nya. Tentu saja karena nya, siapa lagi yang ada disana kecuali dirinya, Jeno dan Haechan sendiri?
Memeluk Renjun kali ini berbeda menurut Haechan, hatinya tidak berdebar seperti biasa ketika dia memeluk Renjun kemarin-kemarin.
Beda lagi dengan Renjun yang malah merasakan hangat di tubuhnya, padahal angin mulai bertiup kencang.
Taman itu menjadi saksi dua insan saling berbagi kenyamanan walau berbeda perasaan.
_____
Kangen Hyuckren? Yes or no
Officialin jangan nih mereka?
KAMU SEDANG MEMBACA
B.Y.S | Hyuckren
Fiksi Penggemar❝ I always by your side.❞ ft. Nomin • | bxb • | homophobic? left this ©niki, 2021
