24 Desember, 2012
22:31:45
Satu malam ini saja. Chanyeol meminta, merayu, merajuk, memohon, mengemis, sebut saja apapun istilahnya, ia sudah melakukannya. Kita hanya melarikan diri malam ini, dan aku akan mengantarmu kembali besok pagi. Ayolah. Malam ini saja.
Bisakah ia menyelamatkan Danbi dengan membawanya lari? Chanyeol tidak tahu. Tapi, ia harus mencoba. Ia akan mencoba segala cara.
Butuh beberapa lama meyakinkan Danbi, tapi akhirnya gadis itu setuju. Hanya malam ini. Besok aku pulang. Chanyeol setuju. Untuk saat ini ia akan setuju dulu demi mengeluarkan Danbi dari rumah sakit.
Chanyeol tidak akan mendapat izin dengan meminta, jadi mereka harus menyelinap keluar. Chanyeol sudah siap. Ia sudah mengulang-ulang malam ini sampai hafal apa yang dilakukan siapa, di mana setiap orang akan berada pada malam itu. Ia tahu jalan yang akan aman untuk meninggalkan tempat itu diam-diam. Pelarian ini akan berjalan lancar.
Chanyeol nyaris bernapas lega ketika mereka akhirnya melewati gerbang depan tanpa masalah yang berarti. Tidak ada yang mencegat mereka. Tangan Danbi ada di dalam genggamannya. Ini sesuai dengan harapannya. Rencananya saat ini adalah tetap bersama Danbi sampai hari ini berakhir. Setelah itu, Chanyeol akan melihat apa yang akan terjadi.
Tapi, selalu ada harga yang harus dibayar untuk bermain-main dengan waktu, dan terlebih lagi, untuk mencurangi kematian.
Semua baik-baik saja sampai Chanyeol dan Danbi pergi ke jalan. Jalanan-jalanan di malam Natal itu lebih padat dari biasanya. Seolah-olah seluruh kota keluar dari persembunyian mereka untuk merayakannya. Chanyeol bisa merasakan tangan yang digenggamnya mendadak terasa dingin ketika mereka bergabung dengan lalu-lalang pejalan kaki.
Danbi menundukkan kepalanya semakin dalam sampai Chanyeol hanya bisa melihat puncak kepalanya. Bahunya yang ringkih tegang. Setelah begitu lama terisolasi di dalam rumah sakit, suasana baru ini mengejutkannya. Orang-orang ini menakutinya.
Entah bagaimana pegangan tangan mereka terlepas di tengah keramaian. Chanyeol menoleh dan menggapai-gapai dengan panik, tapi tidak menemukan apa-apa. Ia mencoba memanggil nama Danbi, tapi suaranya tenggelam di antara obrolan dan gaung lagu Natal.
"Ryu Danbi!"
Chanyeol menyelam seperti kesetanan di antara orang-orang yang berjalan dari arah berlawanan. Ia tidak bisa melihat ke mana ia berjalan. Jantungnya berdebar-debar dengan panik.
"Ryu Danbi!"
Chanyeol menemukan gadis itu berjongkok di tengah-tengah trotoar. Chanyeol menggapai lengan Danbi dan menariknya berdiri. Danbi gemetar hebat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Terlalu banyak pasang mata. Ia melihat terlalu banyak.
Chanyeol memeluk bahunya. "Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku akan membawamu pergi dari sini."
Mungkin saat itu nasib berkata padanya, Kau tidak akan ke mana-mana.
Ini seperti lelucon yang sangat jahat.
Chanyeol mengangkat kepala tanpa sadar, nyaris seperti boneka kayu yang digerakkan dengan benang. Papan reklame toko perhiasan bergerak sangat pelan, Chanyeol hampir bisa mendengar besinya berkeriut. Tidak ada yang melihatnya selain Chanyeol. Tidak ada yang sadar papan reklame itu akan jatuh menghabisi mereka, dengan ia dan Danbi berada tepat di bawahnya.
Chanyeol hanya membeku selama beberapa saat. Lampu-lampu di papan reklame itu berkedip-kedip, mengeluarkan percikan kecil api. Pejalan kaki mulai merasa ada yang aneh. Segelintir dari mereka berhenti dan mendongak. Beberapa berdengap terkejut. Chanyeol sepertinya juga mendengar pekik panik.
Besi penahan papan reklame patah dengan bunyi derak keras.
Selalu ada harga untuk mencurangi kematian.
Chanyeol awalnya tidak yakin apakah sengatan rasa sakit luar biasa di kepalanya disebabkan oleh waktu yang dihentikannya, atau papan reklame itu akhirnya meremukkan tengkoraknya. Satu-satunya yang mempertahankan kesadarannya adalah bahwa ia masih memeluk Danbi. Chanyeol tidak akan membiarkan dunia menyakitinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Time Being
Fiksi PenggemarKemampuan untuk mengendalikan waktu tidak bisa menyelamatkan Park Chanyeol dari perpisahan.
