06 ; All I Want

546 82 32
                                        

tolong untuk dibaca dengan bijak setiap part yang ada di llf. terima kasih, happy reading temen-temen semua, please jangan skip part karna part llf itu seperti puzzle ♡

semua nama, karakter, lokasi, organisasi, peristiwa dan latar dalam llf hanyalah fiksi.

•••

"Gua bilang juga jangan mau kalau Grace kasih wine ke lu. Pusing kan jadinya," omel Dareen sambil menekan tombol lift. Nada bicara Dareen terdengar agak naik. "Mesti dikurangin lah, jangan terlalu sering."

"Jangan marahin gue dulu dong," rengek Valentine manja sembari terus memegangi bagian belakang jaket kulit milik Dareen saat memasuki lift. "Please,"

Yap.

Mereka berdua sedang menuju perjalanan pulang dari apartment Grace. Dareen baru saja datang untuk menjemput Valentine.

"Kenapa gua nggak boleh marah?" tanya Dareen serius. Valentine memanyunkan bibirnya. Cemberut. Lalu menghadap ke depan tanpa berani melihat wajah apalagi sampai harus menatap mata Dareen.

"Gue nggak suka liat lo marah gini," kata Valentine nada bicaranya terdengar lesu. Perempuan itu juga sesekali memegangi kepalanya yang terasa pusing.

Akibat pesta wine-nya semalam.

"Masih pusing?" tanya Dareen khawatir. Terlebih Valentine masih tidak berani menatap mata Dareen. Mendengarnya, Valentine hanya mengangguk pelan.

"Lu minum wine berapa banyak semalem? Jangan sering-sering. Mereka kuat minum. Lah elu?" ceramah Dareen asal sekali.

"Gue juga kuat minum! Kata siapa cuma mereka yang kuat?! So, you don't believe me? Like i always believe in you, Dareen?" balas Valentine menaikkan intonasi nada bicaranya. Tentu hal tadi membuat Dareen cukup terkejut. Karena tak biasanya gadis bernama Valentine gemar marah-marah.

"Bukannya begitu." Dareen membalikkan badan Valentine perlahan agar menghadap tubuhnya. "Sini, liat mata gua. Gua nggak marah." sambung Dareen menenangkan.

"Kenapa sih, Ren? Kenapa lo selalu liat gue tuh paling lemah dari yang lain! Kenapa?! Gue nggak suka kalau mata lo liat gue gitu. Gue lebih kuat dari apa yang lo bayangin!" jelas Valentine cukup keras dan sekarang perempuan kelahiran Jakarta itu sudah berani menatap bola mata milik Dareen.

"Iya gua ngerti." ucap Dareen pelan. Paham. "Gua ngerti banget malah,"

Valentine kembali menunduk dan tak lagi berani menatap mata tajam milik Dareen.

"Gue nggak suka setiap kali lo natap mata gue penuh kasihan kayak gini. Gue nggak selemah yang kalian pikir dan gue lebih kuat dari apa yang lo semua bayangin! Jangan terlalu kasihanin gue! Gue ngggak suka!"

Mendengar itu Dareen hanya mengusap wajahnya khawatir. Menghela nafasnya dalam-dalam. Dareen berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Valentine semalam atau sebelum Dareen datang menjemputnya. Ia terus menduga-duga.

Hening.

Suasana lift itu menjadi hening seketika.

Berbeda dengan ketiga sahabatnya yang lain, Dareen lebih sering memilih untuk diam daripada harus menjawab ocehan Valentine. Iya. Dareen begitu bijak ketika berhadapan dengan Valentine.

Karena Dareen sangat tahu, jika Valentine sudah begini pasti ada sesuatu yang salah. Dan jalan terbaik juga satu-satunya adalah menghadapi sikap Valentine dengan kepala dingin sampai Valentine mau membuka suara.

97z LOVELESS ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang