42 ; I Should Be More Selfish

298 57 19
                                        

tolong untuk dibaca dengan bijak setiap part yang ada di llf. terima kasih, happy reading temen-temen semua, please jangan skip part karna part llf itu seperti puzzle ♡

semua karakter, lokasi, organisasi, peristiwa dan latar dalam loveless fiction hanyalah fiksi.

•••

<<<

"Grace?"

"Ya?"

"Gimana caranya supaya bisa selalu kuat?"

"Hah?"

"Saya liat kamu itu setiap kali dibentak sama atasan, ngga pernah keliatan sedih,"

Grace tertawa mendengarnya. "Merinding gue dipanggil pake kamu sama lo, Adrian," ucapnya sembari mengusap lengan geli.

"Gimana bisa? Kamu kan perempuan,"

"Kenapa?! Lo pikir kalau cewek cengeng?!" balas Grace gemas. "Waktu gue tuh terlalu berharga kalau cuma dipake buat nangis! Masih banyak hal yang mesti gue lakuin buat bahagiain diri gue daripada harus nangis all the time. Itu bukan gue banget,"

Adrian masih asik menunggu ucapan lain lagi yang akan keluar dari mulut Grace.

"Gue masih harus biayain hidup nyokap sama Adik gue di Bali. Gue masih harus biayain hidup gue di Jakarta. Gue masih harus kasih yang terbaik juga buat mereka sahabat-sahabat gue di sini. Mungkin kalo bisa dibilang semua itu yang bikin gue kuat sampai sekarang. Hidup tuh terlalu singkat kalo cuma buat dipake nangis setiap hari."

"Karena?" celetuk Adrian bertanya.

"Ya karena..." lirih Grace, "Masih banyak orang yang bergantung sama diri lo di luar sana. Masih banyak juga yang sayang sama lo di luar sana. Lagian nangis sendirian tuh nggak enak. Bikin capek lahir batin tau,"

"Maksud kamu harus nangis berdua?"

Grace terkekeh geli mendengarnya. "Ya nggak gitu juga lah! Maksudnya, nangis sendirian tanpa sandaran itu yang nggak enak. Lo tau kenapa ada orang di luar sana yang hidupnya masih bahagia walau sering nangis setiap hari?" tanya Grace kemudian menoleh pada Adrian. Sebelum akhirnya Ia kembali menatap lagi indahnya langit sore.

"Enggak," balas Adrian menggeleng.

"Karna mereka punya sandaran." ucap Grace. "Mereka itu punya tempat untuk nangis dan jerit-jerit sepuas yang mereka mau. Kadang gue tuh iri. Gimana caranya mereka bisa dapetin hal sederhana yang seistimewa itu? Dulu sih jaman SMA waktu nyokap bokap gue masih sukses, gue selalu aja iri sama orang-orang yang ada lebih di atas keluarga gue. Yang lebih kaya, yang lebih mapan, yang lebih keren. Tapi setelah keluarga gue bangkrut, gue akhirnya sadar di waktu kuliah kalau semua itu tuh malah nggak berarti apa-apa. Karna ya at the end yang lo butuhin tuh cuma sandaran atau pelukan doang. Sesimple itu bayangin?! Tapi nyarinya susah banget kan??? Kek mau teriak gitu sama Tuhan? Kapan gue bisa dapetin dan rasain itu??? Gue nggak butuh sandaran yang sempurna atau yang kokoh yang bisa selalu kuatin gue, enggak gue nggak butuh yang sempurna, karna gue tau manusia nggak ada yang bener-bener sempurna. Nggak papa kalau sandaran gue juga selalu ngerasain sakit dan nggak papa kalau sandaran gue juga nggak bisa kuatin gue, asal pundak dan bahu dia itu ada buat gue, tanpa harus dia keluarin sepatah atau dua kata buat nyemangatin gue, dia masih bisa kasih pundaknya aja buat gue tuh gue udah pasti seneng banget," jelasnya.

"Tapi gue bersyukur sih, di usia 19 tahun gue udah bisa sadar sama hal-hal sekecil itu. Belum tentu orang lain udah? Udah sih itu aja yang bisa gue banggain sampe detik ini dari dalam diri gue," sambungnya lalu meminum kembali ice coffee miliknya.

97z LOVELESS ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang