22.kemarahan

118 9 3
                                        

Bunyi langkahan kaki menggema di sepanjang lorong rumah sakit, beberapa orang sontak menoleh melihat asal sumber suara yang cukup menarik perhatian mereka.

Memang keputusan paling benar lah meletakkan ruang rawat Archie di ruang VIP yang agak jauh dari kerumunan orang. Karena inilah alasannya,Abbelard tidak pernah bisan menahan emosinya sedikitpun jika mengenai Archie.

Ia membuka ruangan Edgar dengan kasar lebih tepatnya ia menghempaskan pintu yang tidak salah apa apa. Edgar yang sepertinya sudah tahu hal ini akan terjadi maka ia sudah menjaga jarak aman dengan pintu malang itu.

" Dimana Archie ?!" Ujar Abbelard seraya membantingkan sebuah pistol yang berada di saku nya.

Tentunya hal itu membuat Edgar mundur dengan cepat.

"Sialan, bajingan tua ini emosi nya tidak bisa diredam sedikitpun" sudah pasti hal ini hanyaa bisa di sampaikan oleh hati Edgar

Edgar beranjak dari depan pintu dengan memberi arahan pada Abbelard untuk masuk karena mereka mulai menjadi tontonan menarik bagi pasien dan beberapa rekan Edgar.

"Archie di dalam sini" Edgar menunjuk sebuah ruangan yang masih berada di dalam ruangannya. Ini benar benar ruangan yang tak pernah ia pakai sebelumnya karena jarang ada pasiem yang harus ia awasi setiap detik seperti Archie.

Sesaat Abbelard melangkahkan kaki nya ia dihadang oleh tangan kanan Edgar " jangan mengatakan hal hal yang menggangu anak itu, kondisi mental Archie mulai terganggu. tolong perlakukan dia dengan lembut." Ujar Edgar , jika peringatan seperti itu juga tidak bisa dilaksanakan oleh Abbelard maka ia sudah benar benar menyerah.

Cklek

Bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatian Archie, ia sedari tadi mendengar dengan tipis pembicaraan di luar yang sudah sangat jelas kelakuan semena mena dan kasar itu pasti Abbelard.

Kontak mata yang dibuat oleh Abbelard sontak menghentikan segala perbuatan Archie di atas bankarnya. Yang benar saja baru beberapa saat tadi Edgar sudah membalut luka di pergelangan tangan anak itu tapi lagi lagi Archie membuka perban yang sudah bernoda dengan darah.

Abbelard tidak paham lagi akhir akhir ini dengan kelakuan Archie apa yang membuat dia seperti orang orang yang seharusnya berada di rumah sakit jiwa?

Anak itu sepertinya tidak menemukan benda tajam lagi di ruangan Edgar yang nyaris seperti ruang putih kosong, hanya ada bankar Archie yang terletak disana diselimuti oleh tirai putih. Ia menggaruk pergelangan tangan nya dengan kasar dan menyebabkan luka yang baru saja ia buat beberapa saat lalu mengeluarkan darah segar kembali dengan ruam kemerahan di sekitar pergelangan maupun lengan Archie.

Abbelard merenggut tangan kurus Archie dengan kasar ia meremas pengelangan Archie dengan jari jari besar nya " apa kau ingin melakukan ini lagi ?"ujar Abbelard dengan nada rendah .

Darah yang sebelumnya sudah keluar iru menetes mengenai paha Archie "tidak, Archie tidak... akan melakukan nya lagi pa" ia memberanikan diri melihat mata Abbelard dengan air mata yang masih mengalir deras, sungguh baru kali ini tangannya tidak mati rasa lagi. Ia merasakan sakit dari remasan tangan Abbelard

Tiba tiba saja Abbelard melonggarkan remasan tanggan nya pada pergelangan tangan Archie, ia memeluk anak itu dengan sangat lembut sambil merapalkan kata penenang bagi Archie

"Papa tidak marah lagi kan ?" Tanya Archie seraya Abbelard mengurai pelukan sepihak itu.

Abbelard terlihat mencari sesuatu, perban yang berserakan di kasur anak itu ia kumpulkan satu persatu untuk melilit pergelangan tangan Archie sekedar menghentikan pendarahan yang seperti nya mulai parah.

"Tidak, papa tidak akan marah jika Archie berhenti melakukan hal gila ini" ucap Abbelard dengan telaten menghentikan pendarahan tangan Archie melalui perban

Hening. Ia tidak mendapatkan jawaban apapun setelah perkataan tadi, Archie tampaknya juga termenung beberapa saat melihat dinding putih yang berada di hadapan nya.

"Pa, apa papa tahu apa yang Archie lihat di dalam mimpi Archie tadi?" Sudah jelas anak ini mengganti topik pembicaraan,tapi sepertinya Abbelard hari ini agak lembut kepada dirinya

Sambil mengikatkan perban yang sudah terlilit dengan rapi, Abbelsrd mencoba menatap mata Archie yang kosong "Archie mimpi apa nak?" Ujar Abbelard melihat bahwa sedari tadi Archie menatap dinding putih yang berada di hadapan mereka.

"Archie berlari menjauhi papa, terus berlari dengan kaki yang luka ,sakit... seluruh badan Archie terasa sakit. Archie tidak melihat ada akhir dari ruangan gelap itu. Papa tidak berhenti mengejar Archie, sampai-" Archie menggantung kalimat nya ia melihat mata Abbelard yang sedari tadi menatapnya

"Disana ada seluruh keluarga Archie, mereka berkumpul di satu tempat..." Archie menggerakan tanggan nya ke luka pergelangan tangan nya tadi, ia menggaruk tempat itu pelan tapi tentu saja langsung dihentikan oleh Abbelard

Mata yang sedari tadi melihat Abbelard mulai kehilangan fokus, bulir keringat keluar di pelipis anak itu "kemudian mereka semua mati, paman, bibi semuanya mati. mereka melihat Archie lalu mati."

DEG

Archie yang mulai gelisah dan menggerakan tanggan nya yang sudah di pegang oleh Abbelard, seperti menggaruk luka nya.

Abbelard sedikit terkejut bahwa yang dikatakan oleh Archie itu benar adanya, bahwa semua keluarga yang ia punya telah mati. Abbelard bersumpah tidak akan membiarkan Archie mengetahui yang sebenar nya biarlah ia cukup menyadari hal itu sekedar mimpi.

HAPPY 1 K 🎉🎉🎉
*menangis di pojok kamar T~T



Up pagi pagi bisanya cuman :^

Malam itu aku sedang ngetik terus kek di goda sama anime T_T

Segitu aja chap ini yaw

See u ♡






Counting Your Bless Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang