"Hei apa yang terjadi?" Henry menatap lekat mata Archie yang tidak tersirat sedikit pun ketenangan disana, bekas luka goresan yang berbaris di tangan nya tampak memerah dengan ruam yg buruk.
Jari jemari Archie tetap gemetar bahkan ia seperti akan pingsan jika Henry tidak menggengam tangganya dengan paksa
"Bicaralah agar aku bisa memahami apa yg terjadi ?"suara Henry membuat Archie terhenyak beberapa saat melihat Henry yg berada di hadapannya
Archie berusaha melepaskan tangannya dari Henry. Berusaha untuk duduk dengan seluruh kekuatannya, ia meringsut sediki demi sedikit dengan membenarkam selimut yg menyelimuti badan ringkihnya
"Pama-n Archie minta maaf, Archie salah..." Archie tetap mengulangi itu berkali kali tanpa berani melihat mata Henry
Henry yang tambah tidak memahami apa apa, meremaskan tanggan nya lebih kuat di pergelangan tangan anak itu dengan kasar
"Akhh..." Archie mencoba menahan ringisannya
Tes
Satu tetes darah yang membuat Archie kesakita sedari tadi pun turun tepat di celana Henry. Beberapa saat ia berhenti menggengam tangan anak itu dengan keras.
"Jika kau tidak berbicara dengan benar kali ini aku akan menyakiti mu lebih dari ini" ujar Henry sembari mengapit rahang anak itu dengan keras.
Archie kembali menggigit bibirnya yg sudah luka itu, rasa sakit sedikit mengembalikan nya ke dunia nyata. Archie memukul kepala nya beberapa kali dengan tangan nya yang bebas dari genggaman Henry. Ia meggelengkan kepalanya beberapa kali membuat Henry menatap anak itu dengan tatapan aneh
"Paman yang beberapa saat tadi datang-"perkataan Archie terpotong entah kenapa matanya kembali kosong.
Pikiran Archie baru saja menelan kembali mentah mentah apa yang dilakukan para monster menjijikan itu padanya. Ia tidak sanggup untuk mengulang kejadian itu apalagi dengan mulutnya sendiri
Henry yang dasarnya memang bukan orang yang sabaran dalam segala hal membuat ia meremas pergelangan tangan Archie yang sudah terluka lebih dalam membuat tetesan darah Archie sampai mengalir ke lengannya.
"Akhhh..." Archie menahan nafasnya beberapa detik sebelum kembali membuka mulutnya untuk berbicara
"Paman paman tadi melakukan hal... aneh" jawab Archie dan ingin lebih menjauhi Henry dengan memeluk erat sehelai selimut penutup badannya.
Sontak perkataan Archie membuat dahi Henry mengernyit heran "apakah aneh yg kau maksud berhubungan dengan pakaian mu di bawah ini?" Tanya Henry sambil menunjuk pakaian Archie yang telah berserakan di lantai
Archie menjawab dengan anggukan yang terus berkali kali ia lakukan. Tetap berusaha melepaskan genggaman tangan Henry yang seperti sudah menancap dengan kulitnya.
Perlahan Henry mengurai genggaman tanggan nya dari Archie, sontak anak itu langsung meringsut dengan cepat ke bagian ujung kasur menjaga jarak yg cukup jauh dari Henry dengan menekukan kepala nya.
"Haahh..."Helaan nafas panjang keluar dari mulut Henry sembari memijat pelipisnya. Ia tidak habis pikir dengan akal anak buahnya yg menjijikan. Apa mereka seputus asa itu sampai melecehkan anak ini?.
Belum lagi anak ini bukan anak jalanan yang biasanya mereka culik untuk diperjualbelikan. Ini milik Abbelard,si gila itu.
Baru saja beberapa saat Henry mengalihkan pandangannya dari Archie. Anak itu kembali melakukan hal yg aneh atau bahkan susah untuk di pahami oleh orang yang masih waras.
Henry membelalakan matanya, tepat di hadapannya Archie menggaruk luka yang sudah tidak berbentuk itu dengan kasar ia seperti kesetanan. Darah yang keluar bukan lah berbentuk tetesan lagi di atas kasur yang awalnya berwarna putih kelabu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Counting Your Bless
Teen Fiction[Sequel Blind Affection ] Kala hari pemakaman orang tua nya yang terakhir di hari yang mendung. Archie sendirian menunggu salah satu dari saudara nya untuk merundingkan kemana dia akan dipindah asuh kan. Dan pada detik itu semua kehidupannya beruba...
