Penerbangan untuk destinasi korea akan ditunda karena ada masalah cuaca. sekali lagi saya ulang, mohon maaf atas tertunda nya penerbangan pukul 8 malam ini dengan tujuan Korea karna ada masalah cuaca!
~
Malam ini Hyunbin kembali ke kediaman nya dengan rasa takut yang bukan main. Ia tidak mau mati.
Pencarian yang dibuat oleh Abbelard untuk mencari nya sekarang berskala sangat besar,padahal kebakaran di mansion yang baru saja terjadi beberapa hari lalu masih membuat dirinya gemetar karna ketakutan.
Luka dan darah yang berceceran dimana mana, anak buahnya yang
sudah tergeletak ditanah tanpa nyawa dengan santai nya dilakukan oleh Abbelard karena ia sedikit mengusik Archie.
Yang benar saja. Ia baru sekali bertemu dengan Archie dan jelas bahwa ia belum melakukan apa apa. Tapi reaksi yang ia dapat dari perlakuannya sangat di luar nalar seorang manusia yang masih memiliki hati nurani.
Tak
Tak
Tak
Bunyi gertakan gigi yang bertubrukam dengan kuku terdengar jelas di ruang kediaman yang sangat sunyi, Hyunbin menyuruh semua anak buahnya untuk mematikan segala pencahayaan yang berada dimanapun dalam sisi kediaman nya.
Hyunbin merasa seperti pecundang sekarang. Ini sangat memalukan bahkan bagi dirinya sendiri, bunyi gertakan gigi yang timbul terdengar seperti seekor tikus yang sedang bersembuyi di dalam selokan.
Saat ini bahkan Damien tidak ada di sisi nya sekarang, anak buah yang ia bawa dari korea berkurang pesat karena tragedi teror hari itu, ia bahkan tidak punya keberanian untuk melangkahkan kaki keluar ruangan.
Bukannya ia tidak pernah mencoba untuk memberanikan diri dan menghubungi beberapa orang dari korea bahkan meminta bantuan teman nya yang berada di korea, ia hanya tidak ingin lebih banyak korban yang termakan jika ia menyulut api dengan Abbelard. Karena dunia mereka sangat berbeda.
"Sialan" hyunbin mengempaskan tangan pada kaca yang berada di sampingnya
Sekarang bukan masalah Archie yang ingin ia ambil dan selamatkan. Harga diri, ini masalah harga dirinya. Hyunbin termakan oleh rasa menyedihkan yang sedari tadi mengulitinya. Ia tidak peduli lagi dengan keadaan Archie.
Hyunbin mengambil handpone yang ia letakkan tepat di dalam saku celana nya " Benar, monster harus dilawan oleh monster " ia menekan panggilan itu agar tersambung dengan orang yang di tuju.
"Apa kabar tuan hyunbin?" suara berat yang terdengar keluar dari handpone itu, membuat sebuah senyuman mulai muncul di wajah Hyunbin
"Apa kau punya beberapa anak buah di Prancis ?" Tanya Hyunbin
"Pastinya ada, kenapa tuan Hyunbin kita membutuhkan anak anak ku untuk di Prancis..." nada orang itu terdengar seperti meremehkan
"Apa yang kau lakukan disana ?" Pertanyaan yang terlontarkan terdengar datar tanpa nada mengejek tadi terdengar.
"Bukan urusan mu " Hyunbin menjawab singkat
"Kerahkan semua anak buah mu untuk bekerja untuk ku beberapa hari, ada yang ingin kubereskan." Hyunbin menyambung perkataan nya "Tenang saja, aku akan membayar mu sepadan dengan kemampuan anak buah mu disini"
"Phffttt... ah maafkan kelancangan ku, tuan Hyunbin kita yang tersayang bahkan aku sedikit kewalahan dengan kekuatan anak buahku yang berada di sana." Perkataan nya terjeda untuk menormalkan kembali nada suara nya akibat tadi ia tahan
"Karna itu kau juga harus bersiap siap untuk membayar jasa mereka" sambung nya
"Ok, akan ku pegang perkataan mu. Malam ini juga mereka harus langsung bekerja" jawab Hyunbin
"Oke berarti kita sepakat, bersenang senanglah tuan Hyunbin" ujar orang itu menutup panggilan dengan sepihak
◇
Di kediaman Abbelard terdengar keributan disana sini. Malam bukan seperti malam yang tenang lagi, tapi menjadi sebuah neraka.
Abbelard menggila dengan sendirian karena emosi sesaatnya yang mengerikan
"T-tuan malam in-"
BUGHH
perkataan seorang anak buah Abbelard terpotong karna pukulan mentah dari dirinya membuat anak buah malang itu terjatuh dari posisi berdiri.
Darrel sampai di depan gerbang kediaman Abbelard tanpa seorang pun yang membukakan gerbang yang cukup merepotkan untuk dibuka sendiri. Ia segera turun dari mobil " sialan... kemana orang di rumah besar ini" ia melanjutkan membuka gerbang itu sambil mengumpat kemudian kembali ke mobil
Ia mengemudikan mobil itu dengan kencang tanpa menutup kembali gerbang kediaman rumah Abbelard, yang benar saja tadi ia membuka gerbang itu sendiri apakah mereka berharap Darrel untuk menutupnya juga?
"Archie bangun... kau ingin kembali kan ?" Perkataan Darrel sedikit membuat Archie terkejut, ia bahkan tidak sadar sudah berada di mobil
"Ah iya, kak Darrel" Archie memegang lengan baju Darrek ketika akan keluar mobil "terimakasih..." ujar Archie pelan
Darrel segera memalingkan pandangan nya dengan cepat, ia tidak boleh terlihat seperti akan meremukkan Archie dalam pelukan nya.
" ayo cepat keluar, cuaca malam mulai dingin" ucap Darrel kembali dengan wajah datar nya
Archie segera keluar dari mobil dan mulai mengikuti Darrel dari belakang
Arghhh
Akhh
Bughh
Prangg
Suara keributan terdengar jelas dari belakang pintu utama kediaman Abbelard.
Darrel menyadari apa yang sekarang terjadi segera menyuruh Archie untuk berlindung di belakang tubuhnya. Archie juga mendengar keributan itu tapi ia hanya bisa bersembunyi di belakang badan kakak nya.
Sebuah hempasan badan seseorang membuka pintu besar itu dengan keras dan terpaksa, reflek Darrel menghindar dengan cepat tidak lupa juga menggeser Archie dengan sebelah tanggan nya.
"Aghh uhuk uhuk" batukan kesakitan itu keluar dari seseorang yang baru saja terhempas ke luar
Ia bertatapan mata dengan Darrel kemudian melihat Archie yang berada di belakang nya. Ia segera merangkak dan memohon di kaki Archie
"Archie kau datang di saat yang tepat, tolong hentikan Abbelard. Tolong,kakak tidak bisa apa apa lagi" sepertinya dia adalah salah satu dari bodyguard yang selalu menjaga Archie
◇
Seems like i care too much :^
Haiii haiii
Narenare kembali mempersembahkan chapter yang penuh konflik (/•'_'•)/
Kalau ada typo maap yaa
Jangan lupa vote
See u ♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Counting Your Bless
Teen Fiction[Sequel Blind Affection ] Kala hari pemakaman orang tua nya yang terakhir di hari yang mendung. Archie sendirian menunggu salah satu dari saudara nya untuk merundingkan kemana dia akan dipindah asuh kan. Dan pada detik itu semua kehidupannya beruba...
