Suara ledakkan nyaring yang tidak asing bagi mereka itu sekarang terdengar sangat mengerikan. Karena seseorang yang membunyikan besi panas yang akan menembus apapun itu adalah Archie.
Anak yang sangat mereka kenali dekat. Semua orang tak ingin menoleh kan kepalanya ke arah dimana Archie berdiri. Mereka menjadi kaku persis seperti patung yang berdiri tegap.
Tangan Abbelard bergetar dengan kencang, matanya sudah sangat merah sekarang antara menahan tangisan atau amarah dan emosi yang tetap tidak selaras yang berada di pikirannya.
Apakah ia benar benar menembak kepalanya sendiri?. Badan Archie tertutupi oleh beberapa anak buah nya yang juga terbeku
Abbelard mengambil langkah besar menuju dimana Archie ingin membuat dirinya tidak bernyawa lagi.
Sesaat pelatuk terlepas, Abbelard menoleh kan kepala nya ke samping karena tidak akan sanggup melihat kenekatan Archie. Apakah itu bodoh ?
Abbelard akan sangat memperlukan Archie dengan baik setelah ini. Ia bersumpah tidak akan memukul atau memberi tekanan pada anak itu lagi. Sudah cukup sekali ini ia melihat Archie menggila di hadapannya.
Tapi sekarang Abbelard meragukan langkah nya. Biasanya ia tidak pernah merasakan rasa bersalah yang besar menyangkut kematian boneka yang sejauh ini mati di tangan nya.
Archie sangat berbeda, posisi nya sangat jauh dari semua anak jalanan itu. Mereka tidak menodongkan pistol itu ke kepala nya tapi Abbelard lah yang menodongkan nya pada kepala anak anak itu.
Kaki Abbelard tidak sanggup menahan beban dirinya saat melihat kondisi Archie dengan kedua matanya sendiri.
Anak itu masih bernafas dengan kasar. Darrel memegangi bahu kiri Archie yang terluka akibat peluru pistol yang ia tembakkan.
Benar, Darrel sudah sangat muak melihat Archie yang sepertinya benar benar akan mengakhiri semua. Sesaat pelatuk pistol yang berada di tangan Archie lepas, Darrel dengan segera menembak bahu Archie. Sehingga peganggan nya terlepas.
Suara tembakan itu tak berasal dari pistol Archie tetapi milik Darrel. Darrel akhirnya dapat melihat jelas ruam ruam biru yang berada di sekitar bibir Archie. Ia mengepalkan tanggan nya mengingat bajingan itu telah mati karena ia siksa.
Seandainya mereka masih hidup sampai detik ini, Darrel akan menguliti bajingan bajingan menjijikan itu.
"Akhh..." rintih kecil Archie ia tidak bisa menentukan dimana bagin badannya yang terasa sakit. Seluruh badannya seperti robek.
Bagaimana bisa bahwa mati pun sekarang bukan hak yang bisa ia miliki lagi. Air mata Archie mengalir dengan tanpa henti dari matanya, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan isakan saking lelah nya.
"Kak Darrel..." Archie meremat baju Darrel dimana yang masih bisa terjangkau oleh nya.
Bibir Archie bergetar saat beberapa saat lalu mata nya menangkap Darrel menembak bahu nya tanpa ragu.
"Ma-maaf kan Archie kak.." ujar Archie terbata bata.
Darrel terlihat lebih mengerikan daripada Abbelard sekarang di mata Archie. Sekasar apapun Abbelard ia tidak pernah menembak Archie dengan tatapan seperti tadi.
Tangan Archie yang meremat baju Darrel tiba tiba gemetar. Ia merasa sangat dingin sekarang.
Darrel segera mengangkat badan Archie dan keluar dari ruangan itu tanpa memedulikan Abbelard yang masih terpaku di sana.
Tapi lama kelamaan badan Archie terasa bertambah dingin, sesekali badan nya kejang walaupun terlihat Archie berusaha menahannya dengan kuat.
Darrel mulai merasa tidak beres, ia membawa Archie kembali ke kamar Abbelard dan memanggil pihak rumah sakit agar ke kediaman Abbelard.
Tidak berselang beberapa menit Abbelard datang setelah mengumpulkan kesadarannya. Darrel melirik kecil kedatangan Abbelard sambil mengikatkan sebuah baju ke bahu Archie untuk menghentikan pendarahanya sementara.
Lagi lagi badan Archie kejang tapi ia terlihat lebih menahan nya dari sebelum nya. Darrel mempunyai prasangka yang buruk sekarang. Ia sangat tahu bahwa di kamar Abbelard ada beberapa obat aneh karena berhubungan dengan pekerjaan nya.
"Paman dimana kau menyimpan foto foto kematian keluarga Archie?" Tanya Darrel dengan lambat
Abbelard tersintak dan mengalihkan pandangannya dari Archie. Ia melangkah kan kaki nya ke dalam laci laci yang sudah berjatuhan di lantai itu.
Tapi beberapa saat kemudian wajah Abbelard terlihat panik, ia menggubrak abrikan segala barang yang masih tersisa di sana.
Darrel merasakan tusukan di dalam hati nya, ia sudah menduga ini sedari tadi. Hanya saja ia tidak menyangka bahwa hal itu benar
"Apakah ada pil yang hilang?" Ujar Darrel
Abbelard tak sanggup menjawab pertanyaan Darel lagi, ia segera mendekat ke arah Archie dan memeluknya dengan erat.
Pil itu adalah narkoba yang sangat berbahaya dan dalam laci itu ada setidaknya 5 pil. Bahkan seorang manusia dewasa hanya di anjurkan memakan pil itu 1 agar mereka bisa merasakan segala fantasi yang mereka bayangkan.
5 buah adalah angka kematian bagi badan remaja seperti Archie, akan membuat seluruh pikiran nya kabur dan tidak akan baik bagi organ organ nya.
Abbelard merasakan badan Archie yang bertambah dingin dan kejang yang tak bisa ia kontrol lagi. Abbelard mengatupkan kedua matanya sambil memeluk Archie lebih erat.
"Archie kenapa kau melakukan nya ?" Bisik Abbelard lambat dengan nada yang sangat halus
Berarti jika ia tidak bisa mati oleh tembakan pistol di kepala nya, setidaknya ia sudah akan mati jika ia tidak berhasil.
Darrel menggusar rambutnya sambil menangis, Archie benar benar nekat. Tidak ada yang bisa menghentikan dirinya lagi.
Semua suara yang berada di pendengaran Archie mulai mengecil, badannya terasa sangat sesak oleh pelukan seseorang tapi lama kelamaan pelukan itu tidak terasa lagi oleh nya.
Sepertinya kelopak matanya tidak bisa berkompromi lagi untuk terbuka, akhirnya ia merasakan ketenangan untu pertama kali.
Tidak ada lagi rasa sakit di sekujur tubuhnya, suara suara teriakan dan kata cacian tidak terdengar lagi, matanya tidak melihat hal hal buruk dan mengerikan.
Akhirnya ia bisa tidur dengan tenang
◇
END
Tunggu epilog yang akan datang yaa
Bye byee
Luvv semua yang baca
Aku izin kabur dl
Jangan lupa vote
See u ♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Counting Your Bless
Roman pour Adolescents[Sequel Blind Affection ] Kala hari pemakaman orang tua nya yang terakhir di hari yang mendung. Archie sendirian menunggu salah satu dari saudara nya untuk merundingkan kemana dia akan dipindah asuh kan. Dan pada detik itu semua kehidupannya beruba...
