Abbelard memapah Archie dengan erat melangkahkan kaki nya cepat. Kali ini ia merasakan perasaa yang paling aneh untuk ia rasakan.
Khawatir. Seorang Abbepard tidak akan pernah mengkhawatirkan sesuatu, ia hanya melakukan semuanya dengan sadis dan pikir pendek.
Flashback
"ARCHIEE"
Brukk
Orang yang ia panggil dengan nada keras hanya membalas perkataan Abbelard dengan ambruk pada lantai ruangan itu.
Satu satu nya yang terpancar dari wajah Abbelard adalah, ia murka. Langkah yang tergesa gesa tadi melambat untuk mendekati Archie yang tampak jelas tidak bisa membalas panggilan Abbelard.
Pergelangan tangan Abbelard memegang pangkal rambut Archie yang telah pingsan dengan sangat lembut. Rambut Archie sudah basah oleh keringatnya membuat poni anak itu hampir menutupi matanya sendiri.
Wajah Archie benar benar pucat tanpa rona. Lebam lebam kebiruan yang berada di dekat bibirnya seperti bekas dari gigitan yg keras dari oramg lain. Abbelard sempat memikirkan hal yg tidak mungkin untuk beberapa saat, tapi ia menepis pikiran itu untuk sesaat karena sudah pasti tidak mungkin kan ?
"Archie..." Abbelard menepuk bahu anak itu dengan pelan sangat pelan
Kulit telapak tanggannya bersentuhan dengan sehelai kain tipis kusam.yang seperti nya wujud kain tipis itu adalah sehelai selimut.
Dari awal ia melihat Archie, Abbelard mempertanyakan hal pertama yang terlihat oleh matanya. Yaitu kemana pakaian Archie?
Seluruh anak buah Abbelard sudah menyelesaikan tugas mereka di luar untuk membereskan anggota komplotan yang menculik Archie.
Henry meringis keras "akhh sialan..." ia memegangi sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah segar.
Bertepatan dengan ringisan itu. Achile mengayunkan tongkat baseball pada lengan Henry yang berusaha memegangi sudut bibir nya.
"AKHHH FUCKK BAJINGAN" Raungan yang keluar dari mulut Henry melengking nyaring membuat beberapa anak buah dari komplotan Henry itu hanya bisa memalingkan kepalanya sambil menutup mata. Mereka juga sudah terluka ini semua seperti jebakan untuk para tikus demi sebuah keju.
Achille menginjak lengan Henry yang sudah meringkuk di lantai "siapa yang menyuruh kalian ?" Ujar Achille tepat di telinga Henry
Tangan Henry yang sudah mulai kehilangan rasa membuat ia mati ketakutan "akhhh" teriakan memalukan itu lagi lagi tak bisa ia tahan
Henry menganggukan kepalanya berkali kali "aku akan memberitaumu... aku akan memberitaumu..." ia memukul mukul kan tangannya pada kaki Achille yang masih bertengger di lengannya
"AKHHHH" tulang lengan Henry sudah sepenuhnya patah. Ia mengingit bibirnya setelah berteriak dengan keras
"si bajingan korea..." cicitnya, ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit yg datang dari lengannya, belum lagi darah sudah bercucuran dari keningnya
Achille berhenti melakukan kegiatannya ia tampak melihat langit langit ruangan itu seperti memikirkan sesuatu "ah orang itu" Achille mengembalikan pandangan nya pada wajah Henry yang sudah tampak memelas untuk meminta Achille berhenti
Tapi bukannya melepaskan kaki nya pada lengan Henry, Achille malah menyuruh teman di sebelah nya memberikan ia sebuah pistol.
Henry menggeleng ribut, ia tidak ingin mati. Apalagi dengan cara memalukan ini "aku bi-bisa memberimu informasi yang lain nya tentang bajingan korea itu" ujarnya tergagap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Counting Your Bless
Teen Fiction[Sequel Blind Affection ] Kala hari pemakaman orang tua nya yang terakhir di hari yang mendung. Archie sendirian menunggu salah satu dari saudara nya untuk merundingkan kemana dia akan dipindah asuh kan. Dan pada detik itu semua kehidupannya beruba...
