Benar kata Mira kemarin, kedekatanku dengan Pak Kastara menjadi bahan omongan satu kantor. Aku baru menyadari itu saat aku baru saja masuk ke dalam gedung dan banyak pasang mata yang langsung menatapku dari rambut sampai ujung kaki.
Awalnya, aku mencoba untuk menghiraukan itu, tetapi dari lobby kantor sampai aku berada di meja kerjaku banyak pasang mata sepertinya menatapku dengan tatapan tidak bersahabat. Aku jadi enggak nyaman.
"Gia," ucap Mira sambil berjalan mendekati mejaku, "semalam lo diantar pulang sama Pak Kastara?" tanyanya yang sontak membuat kedua mataku membulat.
Kok dia tahu. Kok sampai bocor. Astaga, teledor banget aku. Seharusnya aku lebih fokus lagi mengamati sekitar.
"Dia yang maksa," ucapku jujur, tetapi sepertinya Mira belum puas dengan ucapanku, "hujan, Mir. Dia maksa mau nganterin gue. Lagian, di dalam mobil gue sama dia enggak berduaan. Ada supir," ucapku menjelaskan.
"Anak-anak pada gibahin lo. Katanya lo yang godain Pak Kastara," emang suka ngada-ngada aja nih anak-anak kantor. Bikin gosip murahan, "anak-anak juga banyak yang ngeliat lo sering buatkan cokelat panas buat Pak Kastara."
Mereka salah sangka. Aku membuatkan cokelat panas bukan semata-mata mau ambil hati Pak Kastara, emang pria itu yang meminta. Duh, kenapa jadi ribet begini.
"Jujur aja Gi sama gue," dia semakin mendekat ke arahku, "lo ada hubungan apa sama bos baru kita."
"Enggak ada hubungan apa-apa, Mir. Serius. Gue aja enggak ngerasa hubungan gue sama dia dekat, kami cuma partner kerja doang. Enggak lebih," ucapku cepat.
Mira mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Yaudah deh," ucapnya setelah itu berjalan menjauhiku. Mungkin dia masih belum puas dengan kata-kataku atau jangan-jangan dia enggak percaya.
Aku menarik napasku lantas kembali melanjutkan pekerjaanku hari ini. Sedang asyik-asyiknya bekerja, tiba-tiba tenggorokanku kering. Aku langsung bergegas untuk membuat segelas teh manis untuk menghilangkan dahagaku.
Saat berada di pantry aku melihat ada dua perempuan yang aku tidak tahu namanya, tetapi aku tahu salah satu perempuan itu adalah sekretaris Pak Kastara.
"Dibayar berapa?" tanya sekertaris Pak Kastara sambil menatapku dengan tatapan jijik.
Bayar apaan? Cokelat panasnya? Kan gratis. Masa iya jasa buat cokelat panas doang minta bayaran.
"Gratis," ucapku sambil mengambil gelas lalu mengisinya dengan sesendok gula.
"Lebih-lebih dari murahan ya," lanjutnya. Aku langsung meletakan toples berisi gula lalu berbalik dan menatap perempuan itu.
"Apanya yang murahan?"
"Lo. Bisa-bisanya ngegodain bos baru. Sering banget ke ruangan Pak Kastara. Bawain dia cokelat panaslah. Caper banget. Kelihatan cari mukanya dan ternyata benar ya, lo emang ada skandal sama Pak Bos."
Untuk aku karyawan yang tidak pernah memiliki masalah apapun lalu dihadapkan dengan kata-kata kasar begini, cukup membuat mataku seketika berkaca-kaca.
Sakit banget. Dia kan enggak tahu kebenarannya dan hanya memandang dari persepsinya, rasanya enggak pantas aja men-judge aku, apalagi dengan kata-kata begitu.
"Udah ketahuan, eh malah nangis-nangis. Murahan mah murahan aja," lanjutnya lalu dia dan temannya berjalan menjauhiku.
Kayanya, emang harusnya aku enggak boleh dekat dengan siapapun.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Controller and Me
Romance"Pak Kastara, aku kira Bapak cuma mengontrol urusan kantor doang, tapi ternyata setelah kita memiliki yang hubungan serius. Bapak juga mengontrol kehidupan aku." "Saya seperti ini, demi kebaikan kamu."
