"Harus banget pake high heels, Pak?" tanyaku saat Pak Kastara memakaikan high heels putih di kakiku.
Dia menoleh menatapku lalu mengangguk. "Biar lebih totalitas. Kalau kamu pakai high heels ini jadinya ga keliatan kalau tinggi kita jauh berbeda."
Itu hinaan yang diperhalus sih. Secara enggak langsung dia menghina aku pendek. Ya, memang benar. Tubuhku enggak tinggi-tinggi amat.
Aku keluar dari mobil dengan tangan bertautan dengan tangan Pak Kastara. Jalanku tidak stabil karena aku jarang sekali memakai high heels sehingga tangan Pak Kastara menjadi topanganku.
"Jangan dilepas ya, Pak. Aku takut jatuh."
"Iya."
Kami masuk ke dalam mansion yang super besar. Mataku menatap sekeliling rumah ini, persis sekali kaya rumah-rumah orang kaya di film-film. Megah dan bersih.
Begitu aku mendekati rumah utama, karpet merah membentang. Orang-orang dengan gaya stylist masuk ke dalam sana. Aku jadi kembali bertanya-tanya, ini acara apa sih sebenarnya? Kumpul keluarga atau fashion show.
"Pak," tanyaku mulai bingung dengan suasana di sini.
"Masuk aja. Ikuti acaranya," ucapnya membuatku seketika terdiam.
Saat masuk ke dalam gedung ini, mataku menatap seluruh orang di dalamnya. Cantik-cantik banget. Pantas aja Pak Kastara membuat aku sebegininya karena mungkin saja dia enggak mau mempermalukan aku di depan keluarganya.
"Kastara, Sayang, sini," ucap seorang wanita paruh baya seraya memanggil kami. Langkah kami seketika memutar mendekati wanita paruh baya itu. Senyuman ramah langsung terukir saat memandang wajahku, "kakinya kenapa? Enggak nyaman pakai high heels ya?" tanyanya dengan khawatir.
Dia perhatian sekali sampai tahu kalau aku enggak nyaman pakai high heels ini. "Mau ganti aja? Nanti Oma minta tolong buat diambilkan sepatu flat. Ukuran kamu berapa?" tanyanya sambil terus memandangku.
Aku melirik ke arah Pak Kastara, pria itu hanya terdiam saja. "Tiga tujuh, Oma," ucapku sambil tersenyum.
"Sebentar ya." Dia memanggilnya asistennya lantas meminta tolong untuk dibawakan sepatu flat dengan ukuran yang telah aku sebutkan tadi.
"Selamat ulang tahun, Oma," Pak Kastara mulai bersuara, pria itu mengecup pipi wanita itu dengan sayang, "semoga panjang umur dan sehat selalu."
Oma mengangguk sambil mengusap kepala cucunya. "Semoga Oma bisa menggendong anak dari kamu sebelum meninggal."
Eh?
Pak Kastara hanya terkekeh pelan lalu aku berganti mencium tangan Oma, meskipun berasal dari keluarga kaya raya Oma sepertinya memiliki hati yang baik. Terbukti dari rasa kepedulian dan keramahannya.
"Kamu Gia Anggita kan?" tanya Oma yang langsung membuat aku mengangguk, "mau nikah sama Kastara?" tanyanya. Aku enggak tahu mau jawab apa sehingga aku memilih tersenyum saja.
"Nanti kalau waktunya sudah tepat, Oma," ucap Pak Kastara.
"Ya sudah. Nikmati ya acaranya, tapi tunggu sepatu flatnya dulu. Kasihan Gia Anggita enggak nyaman jalannya," dia menyentuh tanganku, "jangan dipaksakan ya. Nanti kakinya sakit."
"Iya, Oma."
Tidak lama kemudian, asisten Oma datang dengan sepatu flat di tangannya. Aku segera menganti sepatu lalu berjalan berbincang-bincang dengan keluarga yang lain.
Dulu, aku pikir orang kaya adalah orang-orang yang sombong. Namun, setelah bertemu dengan keluarga Pak Kastara pikiran tentang itu meluruh begitu saja.
Aku sudah berkenalan dengan Oma, kedua orangtuanya Pak Kastara, dan juga para saudara yang lainnya. Secara keseluruhan mereka ramah kepadaku, meskipun aku yakin mereka pastinya sudah tahu latar belakangku.
"Saya berusaha jauh-jauh hari untuk membuatmu tampil cantik hari ini," ucap Pak Kastara saat kami sedang duduk di sebuah pelataran sambil menatap sanak saudara yang berlalu lalang.
"Standar kecantikan keluarga saya ya begini. Hampir sama dengan yang sudah saya terapkan kepadamu," dia menggenggam tanganku, "kalau standar kecantikan kamu berbeda dengan mereka, saya sama saja mempermalukan kamu. Saya enggak mau seperti itu. Semoga kamu paham."
Aku paham, tapi aku enggak mau juga kalau setiap ada acara kumpul keluarga aku harus berdandan seperti ingin fashion show.
Aku berpikir lebih dalam lagi, jadi kalau ingin diterima dikeluarga ini standar kecantikannya harus senada?
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Controller and Me
Romance"Pak Kastara, aku kira Bapak cuma mengontrol urusan kantor doang, tapi ternyata setelah kita memiliki yang hubungan serius. Bapak juga mengontrol kehidupan aku." "Saya seperti ini, demi kebaikan kamu."
