Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku langsung turun dari mobil Pak Kastara lalu pergi masuk ke dalam rumah. Aku membersihkan diri sebelum akhirnya duduk di kursi depan jendela.
Aku termenung dengan pikiran yang kacau balau. Dulu aku pikir menjalin hubungan dengan orang lain akan terasa begitu menyenangkan, tetapi nyatanya tidak juga. Satu yang aku tahu, menjalin hubungan dengan orang lain ternyata terasa sesulit dan sesakit ini.
Aku harus ditimpa berbagai permasalahannya yang sebenarnya bersumber pada kurangnya rasa percaya diri yang aku punya. Sudah seperti itu, ditambah lagi dengan validasi dari banyak orang mengenai ketidaksempurnaanku.
Dulu, aku enggak pernah sedikit pun merasa insecure. Saat Pak Kastara PDKT denganku aku juga tidak merasa rendah diri. Namun, setelah aku mengetahui tentang mantan pria itu seolah rasa insecure-ku menyeruak.
Aku cape seperti ini, sungguh. Namun, aku pikir-pikir lagi, kembali sendirian pun rasanya juga tidak enak. Aku enggak mau menjadi kesepian seperti dulu lagi. Jadi, aku memilih untuk melanjutkan hubungan ini, meskipun banyak drama yang akan aku hadapi.
Aku menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka ponselku. Kontak Abrar berada di urutan paling atas, dia baru saja mengirimkanku sebuah pesan. Aku membuka pesan itu dan langsung terlihat sebuah poster turnamen.
Abrar
Mengirimkan foto
Abrar
Kalau enggak sibuk, ikut yuk
Turnamen yang akan diadakan di sebuah mal di Jakarta pada Minggu depan. Pendaftarannya gratis dan juga hadiah yang ditawarkan cukup menarik. Aku berpikir lebih dalam lagi, mungkin ini adalah kesempatan aku bertemu langsung dengan Abrar. Setelah bertahun-tahun mengenalnya hanya melalui virtual, mungkin ini saatnya untuk bertemu langsung di dunia nyata.
Minggu depan juga bertepatan dengan hari liburku sehingga aku tidak memiliki hambatan apapun. Mengenai izin dari Pak Kastara, aku yakin dia akan mengizinkanku mengingat pria itu bukan tipikal pria yang posesif dan protektif. Meskipun begitu, aku harus mencoba izin dulu.
Aku langsung membuka kontak Pak Kastara, mengirimkannya pesan. Beberapa saat kemudian, dia meneleponku dan tentu saja aku langsung mengangkatnya.
"Saya sudah sampai di rumah. Kenapa? Mau ngomong apa?" tanyanya melalui sambungan telepon.
Aku memindahkan ponselku itu mendekatinya ke telinga kananku. "Pak, hari Minggu depan kita enggak ada acara kan ya?" tanyaku mencoba memastikan.
"Saya enggak tahu, kan kamu yang pegang jadwal saya."
Aku refleks menggeleng, meskipun aku tahu Pak Kastara tidak melihatnya. "Dijadwal enggak ada pertemuan sih, Pak."
"Lalu kenapa?"
"Pak, aku mau ikut turnamen game. Aku kan pernah cerita sama Bapak kalau aku suka main game pertarungan dan teman cowok online aku ngajakin aku ikut turnamennya. Boleh nggak?" ucapku sambil menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman di antara kami.
"Boleh. Mau diantar?" tawarannya.
Aku enggak mau merepotkan sehingga aku memutuskan untuk menolaknya. "Enggak, Pak. Aku bisa sendiri."
"Ya sudah. Sudah malam, kamu tidur ya. Kalau sering begadang nanti kulit kamu jadi enggak sehat."
"Iya, iya," ucapku sambil memutar mata, "Bapak, aku minta maaf ya karena permasalahan tadi. Maaf kalau aku terlalu terbawa perasaan sama teman-teman Bapak."
"Iya, enggak apa-apa. Lain kali jangan begitu lagi ya."
"Iya."
"Yaudah, saya tutup ya."
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Controller and Me
Romantik"Pak Kastara, aku kira Bapak cuma mengontrol urusan kantor doang, tapi ternyata setelah kita memiliki yang hubungan serius. Bapak juga mengontrol kehidupan aku." "Saya seperti ini, demi kebaikan kamu."
