"Assalamualaikum, Pak," ucapku saat panggilan teleponku tersambung dengan Pak Kastara.
"Waalaikumsalam. Sudah pulang?" tanyanya.
Pak Kastara tahunya, hari ini aku akan pulang. Dia enggak tahu kalau acara turnamen ini berjalan sampai besok lusa. Awalnya, aku mau minta izin saat masih berada di Jakarta. Namun, aku takut tidak diizinkan karena hal itu aku memilih untuk berbohong dan memutuskan izin saat aku sudah berada di sini.
"Belum. Pak aku mau jatah cuti ya? Aku masih harus berada di Bandung jadinya aku mau ambil jatah cuti kerjaku yang masih ada sisa. Boleh kan?" ucapku meminta izin. Berharap kalau pacar sekaligus bosku ini mengizinkan.
"Kamu lagi turnamen di mana?" Bukannya merespons pertanyaanku, dia malah menjawab dengan pertanyaan.
"Di Bandung, Pak. Aku kan udah bilang."
"Iya. Bandungkan luas. Kamu di mananya?" tanyanya lagi.
Aku terdiam beberapa saat. Mencoba berpikir keras. Kalau aku kasih tahu keberadaanku dengan detail. Memberitahu di mana tempat berlangsung acara turnamen ini, bisa-bisa ketahuan kalau aku satu tim dengan Abrar. Pak Kastara kan enggak tahu tentang fakta itu.
"Aku kurang tahu detailnya, Pak, tapi aku ada di sebuah Mall-nya."
"Begitu ya. Yaudah kamu hati-hati ya."
Kedua mataku langsung berbinar-binar. "Jadi boleh aku ambil cuti? Aku di sini sampai besok lusa."
"Boleh. Take your time, Sayang."
"Ok. Aku tutup ya, Pak."
"Iya."
Aku mematikan panggilan itu. Sebelum aku mematikan layar ini, pesan Abrar masuk ke dalam room chat. Aku langsung membuka dan membacanya.
Abrar
Anak-anak mau ke alun-alun Bandung
Abrar
Ikut nggak?
Abrar
Atau mau istirahat aja?
Abrar
Terserah sih
Anda
Mau ikut
Anda
Tungguin
Abrar
Ok. Ketemu di lobby utama ya.
Aku mengambil jaket tebal lalu segera turun menuju lobby utama. Dari kejauhan, Abrar sudah melambai-lambaikan tangannya. Memberi tanda agar aku ke sana.
"Udah semua?" tanya Dimas sambil menatap ke arah temannya satu per satu, "ayo. Gas. Jalan. Semakin malam, semakin dingin."
Aku semua mengangguk lalu bergegas menuju ke mobil. Saat ini kami hanya menggunakan dua mobil, sisanya kami tinggal di hotel. Aku satu mobil dengan Abrar, seperti biasa dia yang menyetir dan aku berada di sebelahnya. Namun, kali ini ada dua temannya berada di belakang.
"Pantas aja sih, media ngeberitain lo ada hubungan asmara sama Gia. Orang kalian kelihatan dekat begitu," ucap Faizal tiba-tiba. Pria itu menyolek teman di sebelahnya, "iya nggak?" tanyanya meminta dukungan.
"Benar. Kaya beneran pacaran."
Abrar terkekeh pelan. "Yaudah enggak apa-apa. Dianggap beneran pacaran juga enggak apa-apa. Emangnya kenapa? Gia kan cantik."
Napasku seketika tercekat. Bukan karena sakit hati, tetapi aku merasa benar-benar tercengang. Pak Kastara kemarin menyatakan bahwa aku enggak cocok bersanding dengan Abrar, tetapi Abrarnya saja tidak keberatan.
"Gue jadi malu. Padahal lo bisa dirumorkan dekat dengan artis lain atau mungkin model papan atas. Lebih membanggakan daripada dirumorkan dekat sama gue. Gue kan bukan siapa-siapa. Enggak cantik juga."
Abrar melirikku sekilas lalu menggeleng pelan. "Kalau dirumorkan dekat sama artis atau model, gue akan klarifikasi kalau rumor itu tidak benar. Kalau dirumorkan sama lo, ya gue diam aja. Enggak perlu klarifikasi."
Aku mengerutkan kedua kening. Merasa aneh saja dengan jawabannya. "Kenapa? Mereka pastinya lebih cantik. Enggak malu-maluin."
"Lo juga cantik. Enggak malu-maluin. Lo cantik apa adanya. Natural. Kalau mereka? Belum tentu aslinya cantik. Bisa aja karena makeup atau tipuan kamera."
"Mantap, Bang Abrar."
"Tembak-tembak."
Setelah mendapatkan godaan seperti itu. Aku buru-buru mengalihkan topik membahas hal yang lain.
Bersambung
Full e-book dan podcast Mr. Controller and Me sudah tersedia di Karyakarsa
Hanya dengan Rp 29.000 kalian sudah bisa akses Full ebook dan podcastnya.
Rp 29.000 langsung dapat paket lengkap, tanpa menunggu.
Kalian bisa langsung ke Karyakarsa
Atau
Juga bisa WA admin aku (085810258853) nanti bisa menggunakannya metode transfer bank dan file akan dikirimkan lewat WA.
Sekian, terima kasih 😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Controller and Me
Romance"Pak Kastara, aku kira Bapak cuma mengontrol urusan kantor doang, tapi ternyata setelah kita memiliki yang hubungan serius. Bapak juga mengontrol kehidupan aku." "Saya seperti ini, demi kebaikan kamu."
