Terkaget-kaget

3.7K 315 14
                                        

Untuk beberapa waktu ke depan, cerita ini enggak aku update dulu.

Sambil menunggu, kalian bisa baca cerita baru aku 😉😘

☘️☘️☘️

Aku mengambil sepotong pizza lalu kembali duduk di sofa. Mataku menatap lurus ke arah teman-temanku yang sedang bermain playstation. Biasanya kami memainkan permainan arena pertarungan multipemain, sedangkan saat ini mereka sedang memainkan game sepakbola.

Sekarang Giliran Faizal dan Dimas yang sedang adu penalti. Aku dan yang lainnya hanya terdiam sambil memperhatikan mereka. "Kalau lo yang kalah, lo jadi babu gue selama di Bali ya?" ucap Faizal sebelum melayang sebuah tendangan.

"Mana bisa begitu. Gue kan di Bali mau liburan, masa jadi babu lo," ucap Dimas menolak taruhan itu.

"Lagian belum tentu lo kalah."

"Kelamaan lo, ga usah pake taruhan. Kaya anak SD aja. Kita kan lagi pertandingan persahabatan ceritanya."

Faizal berdecak sebal. "Emang dasarnya lo cemen aja," ucapnya mencibir. Kemudian, dia melayangkan tendangannya. Kali ini bolanya bisa ditangkap oleh keeper.

Abrar langsung tertawa melihatnya. Faizal yang sedari tadi terlihat congkak, malah dia yang kalah. "Sayang banget lo enggak nerima tawaran itu, Dim," ucap Abrar angkat bicara.

Dimas menoleh ke arah Abrar lalu terkekeh. "Kasihan gue sama dia. Kita kan lagi pertandingan persahabatan."

Saking serunya melihat perdebatan mereka, membuat tanpa sadar sepotong pizzaku habis. Aku melirik ke arah meja sebelah, ada tissue sih, tapi kurang enak aja rasanya kalau cuci tangan enggak pakai sabun. Rasanya enggak terlalu bersih.

Faizal tiba-tiba duduk di sebelahku. Aku langsung menoleh ke arahnya. "Zal, toilet di mana ya?" tanyaku.

"Toilet di sini banyak, Gi. Tanya aja sama tuan rumah yang boleh dipakai yang mana," jawabnya sambil mengambil sepotong pizza.

"Emangnya siapa tuan rumahnya?" Sedari tadi aku di sini, tapi belum tahu juga siapa pemilik rumah ini.

Dia menujuk ke arah Abrar. "Dia tuh dia."

"Oh, oke. Makasih, Zal."

Aku langsung mendekati Abrar lalu menanyakan kembali letak toilet yang boleh dipakai di rumah ini. "Toilet mana aja boleh, Gi," dia menunjuk ke sebuah lorong yang cukup besar, "di ujung sana, ada. Itu toilet terdekat."

"Ok, Bar. Gue ke sana ya."

Abrar menunjuk lorong di samping televisi, "Di situ juga ada. Terserah sih mau di mana."

Aku berpikir sejenak. Lorong itu terlihat lebih gelap dan panjang. sedangkan lorong di samping televisi terlihat lebih terang dan ujung dari lorong itu sudah dapat terlihat. Aku pilih opsi kedua. "Di sana aja deh," ucapku sambil menunjuk lorong di sebelah televisi. Abrar mengangguk lalu aku berjalan ke sana.  Namun, saat sudah berada di depan toiletnya, pintunya terkunci. Aku coba lagi membukanya, tetapi masih tetap tertutup.

Aku mendesah pasrah sebelum akhirnya berbalik ke tempat awal. Mau tidak mau aku pilih opsi yang pertama. Saat aku berada di ruang tengah, Abrar tidak ada di sana karena itu aku langsung melangkah memasuki lorong yang pertama. Di ujung lorong sebelah kiri  barulah ada sebuah kamar mandi yang cukup besar. Aku masuk ke dalamnya, membuka kran di wastafel lalu mencuci tanganku menggunakan sabun cair.

"Aku enggak mau tahu ya, Bi. Siapapun ayahnya dari anak yang aku kandung ini, pokoknya di depan publik kamu harus mengakui ini anak kamu," ucap seseorang yang tiba-tiba terdengar.

Mr. Controller and MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang