Menyelidiki dengan Akurat

3.7K 395 42
                                        

Setelah menonton berita tadi pagi sampai aku berada di kantor, pikiranku terus berputar-putar memikirkan Rania. Aku penasaran banget, apa iya Rania yang dimaksud itu mantannya Pak Kastara.

Aku mau selidiki menggunakan media sosial, tapi tadi waktunya benar-benar mepet sehingga aku memutuskan untuk langsung pergi ke kantor.

Saat ini, aku dan Pak Kastara baru saja menyelesaikan rapat pagi kami. Dia sedang duduk di kursi kebesarannya, sedangkan aku memberikannya rangkuman mengenai hasil rapat tadi. "Ini ya, Pak," ucapku dengan sopan, meskipun dia pacarku, dia juga bosku yang perlu aku hormati.

Pria itu menepuk kursi di sebelahnya. "Sini, Gi," ucapnya sambil menatapku lekat.

"Mau ngapain, Pak? Ini masih dalam waktu kerja. Kita harus profesional, enggak boleh mesra-mesraan," ucapku antisipasi.

Pak Kastara tersenyum lalu dia kembali menepuk kursi di sebelahnya. "Sini, Gi, saya kangen. Dari kemarin kamu sibuk persiapan turnamen terus. Kita jadi jarang menghabiskan waktu."

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya duduk di sebelahnya. Dia menarik tanganku lalu mengengamnya. "Wajah kamu lebih bersinar sekarang. Saya senang lihatnya," ucapnya memujiku.

Wajahku bersinar karena saat ini karena aku bahagia dan tentunya kebahagiaanku bukan berasal dari Pak Kastara. Semenjak awal-awal kami mengenal, memang iya pria ini lebih sering membuat aku bahagia. Namun, semakin lama kebahagiaan yang dia berikan semakin luruh.

"Aku pakai produk kecantikan yang di-endorse Rania," ucapku berbohong.

Kedua mata Pak Kastara langsung berbinar. "Iya?" tanyanya yang langsung aku respons dengan anggukan kepala, "bagus. Saya mengenal Rania dengan baik, dia pasti menerima endorse-an hanya barang-barang yang bermutu. Bukan yang abal-abal. Kamu harus berterima kasih kepadanya karena berkat kejujurannya dalam meng-endorse kamu jadi bisa tampil lebih cantik."

Padahal aku berbohong, tapi pria ini langsung membangga-banggakan mantannya itu. Kali ini stok kesabaranku masih ada, jadi marilah kita korek-korek sedikit tentang Raina.

"Aku penasaran Pak," aku mendekat ke arahnya, "Raina punya adik nggak sih?" tanyaku berusaha mencari informasi.

"Punya."

"Cowok atau cewek?"

Kedua kening Pak Kastara mengerut. "Kenapa nanya-nanya begitu? Tumben sekali," ucapnya mulai curiga.

"Enggak, Pak. Aku penasaran. Kalau adiknya perempuan pasti cantiknya sama kaya kakaknya," ucapku beralibi.

Dia mengangguk-angguk. "Iya sih benar, tapi sayangnya adiknya laki-laki."

Adiknya laki-laki. Satu informasi diterima.

"Namanya siapa?" tanyaku lagi.

"Nama yang dikenal di keluarga dengan nama yang dikenal publik berbeda," ucapnya lagi.

"Namanya dikeluarga siapa?"

"Dewa."

Aku terdiam, berusaha mengingat nama panjang Abrar. Aku ingat mbak kasir kemarin memanggil nama panjangnya, tetapi aku lupa.

"Kalau nama dipublik?"

"Saya lupa. Saya kan udah lama enggak ingat-ingat tentang dia. Lagian enggak penting juga, ngapain dibahas."

Aku mengangguk lalu Pak Kastara mengambil ponselnya. Sepertinya baru saja ada notifikasi yang masuk ke dalam ponsel itu.

"Sebentar, teman saya mengirimkan pesan," dia menoleh ke arahku, "saya baca dulu ya, Gi." Aku mengangguk kemudian dia fokus membaca.

Mr. Controller and MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang