Jangan jadi perempuan yang baperan

4.8K 581 40
                                        

"Kamu kenapa sih cemberut terus di depan teman-teman saya," ucap Pak Kastara saat kami berdua masuk ke dalam mobil.

Aku awalnya sudah berusaha untuk ramah, tetapi yang aku dapatkan malah hinaan dari salah satu temannya. Bukannya aku jutek dengan cemberut begitu, tapi karena mood-ku mendadak menjadi buruk sehingga tanpa sengaja ekspresi wajahku mencerminkan keadaan hatiku.

Begitu kira-kira.

"Enggak kenapa-kenapa, Pak," aku melirik sekilas ke arahnya, "mungkin aku ngantuk jadi enggak sengaja jadi cemberut."

Dia menggeleng dengan tegas. "Sedari awal kamu udah jutek. Cemberut terus padahal teman-teman saja beberapa kali mengajak kamu ngobrol, tetapi kamu malah menjawab seadanya."

Aku tersenyum miris. Aku harus gimana. Dalam keadaan badmood pun aku masih berusaha untuk merespons teman-temannya. Lagi juga, Pak Kastara enggak paham atau lupa sih kalau tadi saat perbincangan, teman-temannya beberapa kali membicarakannya tentang Rania.

Tentang kecantikannya, tentang kepopulerannya, dan tentang kepintarannya. Secara enggak langsung mereka juga membanding-bandingkan diriku dengan perempuan itu. Membuat aku semakin sadar diri bahwa aku memang enggak cocok jika bersanding dengan Pak Kastara.

"Terus aku harus bagaimana, Pak? Aku udah menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan. Aku rasa jawabanku juga sudah cukup."

Pak Kastara menarik napas panjang lalu tangannya bergerak mengelus rambutku. "Saya berharap kamu bisa lebih ramah lagi dengan mereka. Bagaimana pun dia teman-teman saya, Gita. Kamu harus menjalin hubungan baik dengan mereka."

Aku membuang pandanganku ke arah luar jendela. Kalau Pak Kastara bisa berharap seperti itu, aku juga boleh berharap nggak kalau tindakan mereka lebih baik dan tentunya memikirkan perasaanku.

Maksudku, kalau emang mereka mau membicarakan Raina tentang segala kesempurnaan perempuan itu dan juga tentang ketidakmampuanku untuk menyainginya, enggak usah berbicara di depanku. Di belakang kan bisa atau setelah aku pulang. Tahan bentar kenapa sih kalau mau gibah.

"Saya lagi ajak ngobrol, kenapa malah buang muka?"

Aku memejamkan mataku, berusaha menyabarkan diri setelah itu kembali menoleh ke arahnya. "Ngantuk, Pak," ucapku berbohong.

Dia langsung menarikku lebih dekat lalu menjatuhkan kepalaku tepat di dadanya. "Tidur, nanti kalau sudah sampai, saya bangunkan."

Aku memejamkan mataku, berusaha untuk masuk ke dalam alam mimpi. Namun, bermenit-menit aku belum bisa untuk tertidur ada pikiran-pikiran yang memaksa otakku untuk terus bekerja.

"Bapak," ucapku sambil membuka mata, "sebenarnya aku sakit hati karena kata-kata teman Pak Kastara tadi. Entah kenapa ya aku merasa dibanding-bandingkan dengan Raina. Dia sempurna, sedangkan aku enggak. Aku jadi semakin insecure, Pak. Apalagi Pak Kastara juga enggak ngebela aku. Aku jadi semakin merasa asing di sana mungkin karena itu aku jadi lebih banyak diam dengan wajah yang cemberut."

Aku menarik napas sebelum melanjutkan ucapanku. "Aku mau lebih ramah, tapi aku boleh minta tolong nggak kalau tolong kata-kata mereka lebih disaring lagi. Jangan membandingkan aku, tepat di depan wajah aku. Kalau mereka enggak bisa berubah juga, yaudah enggak apa-apa, tapi tolong Pak. Tolong Bapak bela aku, jangan diam dan seolah membenarkan ucapan teman-teman Bapak. Aku enggak mau dipuji, aku cuma mau dihargai, Pak," ucapku panjang lebar.

Semoga dia paham dengan apa yang aku rasakan. Semoga dia enggak terus-menerus menyalahkanku dan bisa introspeksi ke depannya.

Pak Kastara hanya menatapku beberapa saat setelah itu dia memutuskan kontak mata kami. "Gia Anggita, jangan jadi perempuan yang baperan. Jangan terlalu sensitif hanya karena kata-kata begitu. Sifat buruk itu, harus dihilangkan."

Aku lagi-lagi tersenyum miris.

Ah, iya, benar. Selain enggak cantik, enggak populer, enggak pintar, aku masih punya kekurangan lagi ternyata yaitu baperan dan mudah sensitif.

Semakin jauh saja aku dari kata sempurna.

Kasihan ya yang menjadi pasanganku karena mempunyai pasangan seburuk aku.

Bersambung

Mr. Controller and MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang