Ngopi, di kedai kopi

4.1K 353 17
                                        

Aku memakai kacamata dan masker berwarna hitam sebelum keluar dari mobil Abrar. Tadi sepulang kerja, Abrar sudah menunggu di depan rumahku. Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin kami lakukan, kami hanya ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama di sebuah kedai kopi.

"Kaya biasa, Bar," ucapku sebelum akhirnya duduk di kursi sambil menunggu Abrar yang tengah memesan kopi latte kesukaan kami.

Tidak lama kemudian, dia datang dengan dua cup kopi di tangannya. Aku mengambil salah satunya lalu segera meminumnya.

"Oh, iya. Semua akomodasi lo udah gue urus yang belum tinggal tiket pesawatnya aja," ucap Abrar setelah menyeruput kopinya.

Aku mengangguk lalu meletakkan kopiku di meja. "Iya, makasih ya. Nanti tiket pesawatnya gue yang urus. Oh iya, soal akomodasi kasih aja tagihannya, nanti gue transfer."

Abrar terkekeh pelan. Dia bersandar di kursi. "Yaelah, Gi. Tenang aja soal biaya," ucapnya begitu santai.

Dia memang orang kaya, tapi enggak enak aja kalau terus-menerus dibayarin. "Serius, Bar. Gue ganti ya."

"Iya, gampang." Dia menganti posisi duduknya yang tadinya berada di hadapanku, kini berada di sampingku. Obrolan kami terus bergulir sampai waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Kami langsung bergegas masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju jalan pulang.

"Dadah! Makasih ya," ucapku melambaikan tangan saat Abrar bergegas untuk pulang.

Abrar mengangguk lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah. Namun, langkahku seketika terhenti saat melihat Pak Kastara sedang duduk di teras rumahku. Begitu melihat kedatanganku, pria itu langsung bangun dari duduknya lalu tangannya dia lipat di dada. Menampilkan kesan arogan. "Dari mana?" tanyanya datar.

"Ngopi, di kedai kopi" jawabku cepat.

"Saya sudah beberapa hari ini memperhatikan kamu. Sepertinya ada yang kamu sembunyikan. Beberapa kali saya memergoki kamu diantar pulang dengan pria lain. Berduaan."

"Aku udah pernah bilang yang mengantar aku pulang itu teman pria aku. Biasanya Bapak juga enggak mempermasalahkannya."

"Awalnya saya enggak mau menuduh kamu, tapi semakin hari tingkah kamu semakin menjadi-jadi. Kemarin maksud kamu apa? Izin mau liburan ke Bali?"

Aku mengangguk sambil mengigit bibir dalamku.

"Pertemanan kamu melebihi batasan berteman antara seorang laki-laki dan perempuan. Kalian dekat sekali, bahkan saya sampai kamu nomorduakan."

Batasannya itu seperti apa? Aku kan belum berpengalaman menjalin hubungan persahabatan antara perempuan dan laki-laki.

Aku tidak merespons apa-apa. Sepertinya Pak Kastara sedang marah sekali. Aku tunggu saja sampai emosi dia reda dahulu.

"Kasih tahu sama saya, sesempurna apa pacar rahasia kamu. Sampai pria sesempurna saya kamu hianati?"

Pria sesempurna saya? Jadi selama ini dia memandang diri dia sempurna? Sampai-sampai aku harus terlihat sempurna dimatanya agar aku bisa pantas bersanding dengannya?

Begitukah?

Bersambung
Teruntuk yang mau baca cepat,

BersambungTeruntuk yang mau baca cepat,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hanya dengan Rp29

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hanya dengan Rp29.000 kalian bisa akses sampai bagian tambahan tanpa menunggu

Mr. Controller and MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang