Kaya pernah lihat

4K 534 13
                                        

"Tim kita udah gue daftarin," Abrar melirik ke arah jam tangan hitam yang melingkar di tangannya, "kata panitia pembukaan acaranya mundur dua jam dari jadwal."

Mundur dua jam. Kalau tahu begitu seharusnya aku enggak perlu pagi-pagi ke sini. Enggak perlu juga menghadapi drama tukang ojek online tadi.

"Mau tunggu di mana?" tanyanya.

Aku melirik ke kiri dan kanan. "Lo ke sini sendirian?" tanyaku penasaran. Setahuku dia punya banyak teman yang mungkin saja ikut acara turnamen ini, tetapi sedari tadi aku tidak lihat siapa pun yang menemaninya.

Abrar menunjuk dan menatap ke arah belakangku sontak aku mengikuti arah matanya. "Itu temen-temen gue. Nanti kita satu tim."

Teman-temannya yang didominasi pria cukup membuat rasa penasaranku hilang. Aku pernah sesekali bermain dengan teman online Abrar yang lainnya. Mungkin saja aku mengenal mereka secara tidak langsung.

"Jadi mau ke mana? Gabung sama temen-temen gue aja?" tawarannya.

Aku kembali lagi menoleh ke belakang. Mereka sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing, kalau ikut bergabung dengan mereka yang ada aku dan Abrar juga ikut membuka laptop. Aku malas.

"Ke situ aja, Bar," ucapku sambil menunjuk kedai kopi yang berada di dalam gedung mal ini.

Abrar mengangguk lalu kami berjalan beriringan memasuki kedai kopi itu. Aku dan Abrar memesan menu yang sama yaitu kopi latte dengan tanbahan krim keju di atasnya.

"Di sini aja, Gi," ucapnya memilih kursi tepat di sebelah jendela. Setelah itu kami terdiam, menikmati kopi kami masing-masing.

Mataku  menatap Abrar dengan lekat. Aku perhatikan mulai dari rambutnya yang berwarna hitam pekat dibentuk dengan model undercut. Setelah itu turun ke alisnya yang tebal. Matanya yang berukuran normal dengan bola mata yang tampak jernih. Hidungnya yang mancung. Serta bibir merah mudanya yang tipis.

Secara overall dia tampan. Pembawaannya juga ramah dan bersahabat, berbeda sekali dengan Pak Kastara. Pak Kastara dan Abrar sepertinya dua pria yang berbeda dari segi apa pun.

"Gi, kenapa?" tanyanya membuat lamunanku seketika buyar.

Aku menggeleng sambil tersenyum. Malu aku ketahuan mengamatinya sampai sedetail itu. "Enggak apa-apa," jawabku pelan.

Dia memindahkan gelasnya ke arah samping lantas memajukan tubuhnya lebih dekat denganku. "Tadi ke sini naik apa?"

Aku ikut memindahkan gelasku ke arah samping. Berdekatan dengan gelas milik Abrar. "Naik ojek online."

Abrar mengangguk-angguk pelan. "Gue bawa mobil. Mau bareng nggak?" tawarannya.

Aku terdiam sebentar, memilih tidak langsung menyetujui ajakannya. "Sama temen-temen lo yang lain?" tanyaku memastikan.

"Enggak. Mereka semua bawa mobil sendiri-sendiri."

"Rumah gue lumayan jauh sih. Nanti takut merepotkan," ucapku berbasa-basi.

Abrar terkekeh pelan. "Bolak-balik Jakarta Bandung aja gue mah ayo. Kalau masih sekitaran Jakarta mah enggak jauh, Gi," ucapnya sambil menatapku, "emangnya rumah lo mana?" tanyanya lagi.

Aku membuka ponselku lalu mendekatkan ke arahnya. Memberitahukannya detail alamat rumahku. "Oh itu mah dekat. Nanti pulangnya bareng gue aja. Gimana?"

"Merepotkan nggak?"

"Enggak."

"Yaudah."

Setelah itu obrolan kami bergulir membicarakan tentang strategi untuk pertandingan nanti. Semakin lama aku berinteraksi dan memandang wajahnya aku semakin merasa bahwa aku pernah melihat wajah ini, tapi di mana ya.

Aku enggak pernah punya teman kantor setampan ini, tidak punya saudara lelaki, dan wajah Pak Kastara juga sangat jauh berbeda dengan wajah Abrar.

Lantas kenapa aku merasa pernah melihat wajah Abrar sebelumnya?

Atau mungkin perasaan aku saja kali ya?

Bersambung

Mr. Controller and MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang