Lebih cantik yang kemarin

4.6K 548 45
                                        

Hari ini, Pak Kastara mengajakku bertemu dengan teman-temannya. Katanya, mereka semua adalah sahabat karib dari kecil. Aku hanya mengangguk saja lalu menuruti ajakan.

"Kamu pakai baju yang sudah saya siapkan ya," ucap Pak Kastara untuk kesekian kalinya, "nanti sebelum ke acara kamu dandan di salon ya."

Sejujurnya aku mau menolak karena aku bisa dandan sendiri. Namun, mungkin Pak Kastara menginginkan hasil terbaik agar aku terlihat lebih cantik di depan teman-temannya. Aku kan enggak secantik Raina, mungkin dengan menggunakan baju pilihannya dan juga pergi ke salon membuat kecantikanku bertambah beberapa persen.

"Iya, Pak."

"Nanti dari salon saya jemput, kita langsung ke sana."

"Iya, Pak." Setelah itu aku pergi pamit masuk ke dalam rumah, sedangkan Pak Kastara pulang untuk bersiap-siap. Nantinya kami akan bertemu di salon, sesuai perintahnya tadi.

Aku menganti bajuku dengan dress hitam yang cukup mini. Ini baru pertama kalinya aku pakai dress sependek ini, biasanya dressku di bawah lutut, sedangkan ini beberapa sentimeter di atas lutut.

Aku enggak nyaman, tapi kalau Pak Kastara bilang dress ini cocok untukku berarti aku akan terlihat lebih cantik jika memakai ini. Enggak apa-apa, biar dia enggak malu mengenalkan aku ke teman-temannya.

Aku menarik napas pelan lantas langsung bergegas menuju ke salon. Aku menggunakan layanan taksi online untuk ke sana, taksinya sudah dipesan Pak Kastara sehingga saat ini aku hanya masuk ke dalam taksi tersebut tanpa harus menunggu.

"Sudah dibayar sama Bapak Kastara, Neng," ucap supir taksi itu saat berada di tempat tujuan.

"Oh, makasih ya Pak."

Aku bergegas turun lalu segera masuk ke dalam salon. Di sana aku melakukan banyak hal untuk membuat diriku lebih menawan. Aku melakukan perawatan sebelum akhirnya wajahku didandani dan dilanjutkan dengan rambutku yang dicatok curly

Beberapa saat kemudian, aku sudah selesai dengan dandananku dan bertepatan dengan Pak Kastara yang masuk ke dalam salon. "Rambutnya kenapa dibikin ikal begitu?" tanyanya sambil menatap rambutku dengan tatapan tidak suka.

"Emangnya kenapa, Pak? Aku ngerasa cantik kok kalau begini."

Pria itu menggeleng. "Kamu lebih cantik kalau rambutnya lurus," dia melirik ke arah jam tangannya sebelum akhirnya kembali menetapku, "kita masih punya waktu satu jam. Rambutmu dibuat lurus lagi ya?"

"Emangnya aku kalau begini jelek, Pak?"

"Lebih cantik kalau rambutnya lurus."

Aku menyerah lalu menurut perintahnya. Rambutku kembali dicatok sehingga rambutnya lurusku kembali seperti semula.

"Iya, begitu, cantik," ucap Pak Kastara setelah melihat menampilkanku, "yaudah ayo kita ke jalan sekarang." Aku mengangguk lantas masuk ke dalam mobilnya.

Mobil ini bergerak dan berhenti di sebuah cafe yang berada di Jakarta Selatan. Dari luar terlihat banyak anak-anak muda yang sedang bercengkrama di dalamnya. Seketika, senyumku mengambang. Akhirnya aku bisa merasakan pergi ke tempat ini dengan ditemani oleh pasangan. Dulu aku cuma melihat doang, tanpa berani masuk ke dalamnya karena aku malu kalau nongkrong sendirian.

"Woy, Tara!" ucap salah satu pria melambai ke arah kami, "duduk di sini," ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah dua kursi yang masih kosong. Aku dan Pak Kastara bergegas untuk mendekati meja itu lalu duduk di sana.

Aku menatap keempat pria asing di hadapanku satu per satu. Penampilannya sih keren banget, kayanya ini perkumpulan anak-anak hits dan tentunya orang-orang kaya. Ya, sederajatlah sama Pak Kastara.

"Pacar baru?" tanya pria yang tadi memanggil Pak Kastara.

"Iya. Kenalin Gita," ucap Pak Kastara memperkenalkanku.

"Gue Fadli," dia menujuk ke arah teman-temannya, "itu Zaka, Yogie, dan  Nello." Aku hanya tersenyum sambil menatap mereka satu per satu. Aku mau terlihat ramah di sini.

"Emang pacar yang kemarin ke mana?" tanya pria yang aku ketahui namanya Nello.

"Raina? Udah nikah kan. Enggak nonton berita lo," celetuk Zaka sambil melemparkan tissue ke arah Nello.

"Hm, lebih cantik yang kemarin ya, lebih cantik Raina," ucap Yogie yang langsung membuat suasana mendadak hening.

Aku menunduk sambil memainkan jari-jari tanganku. Aku merasa sakit hati saja dibilang begitu. Padahal aku sudah berusaha untuk tampil lebih cantik. Menuruti semua perintah dan keinginan Pak Kastara, meskipun aku enggak nyaman dengan permintaannya. Namun, dengan seenaknya temannya Pak Kastara langsung mengucapkan itu tepat di depan wajahku.

Dia enggak punya perasaan atau minim etika sih?

Cukup lama kami terdiam sampai akhirnya Fadli membuka topik hal lain.

Aku menegakkan kepalaku lalu menatap Pak Kastara, pria itu hanya terdiam sambil mendengarkan temannya berbicara. Dia seakan enggak peduli saat aku dihina tadi, dia enggak ada pembelaan sedikit pun untukku.

Apa mungkin secara enggak langsung dia membenarkan ucapan temannya bahwa memang lebih cantik Raina daripada aku.

Aku mengelap sudut mataku yang terasa basah. Seharusnya aku enggak perlu sakit hati, enggak perlu nangis juga karena memang kenyataannya begitu.

Mau aku berjuang sekeras apapun, aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Raina.

Bersambung

Mr. Controller and MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang