Not A Wrong Bride || 20. Emosi

23.7K 1.3K 116
                                        

BONUS UP!

WAJIB RAMEIN YA!

Happy Reading!
.
.
.

Rumah sakit swasta milik Galih memang besar. Dulu dia ikut berkontribusi dalam pembangunannya. Ikut meninjau lokasi bersama Galih. Siapa sangka yang akan menikmati semua itu adalah Revika. Yang menurutnya hanyalah gadis yang bisa merengek saja.

Lobi rumah sakit terlihat ramai, padahal rumah sakit ada dimana-mana tetap saja selalu ramai. Kakinya melangkah menuju resepsionis, menolak ketika disuruh mengambil nomer antrian dan menunggu. Lalu apa gunanya dia cepat-cepat kesini kalau ujung-ujungnya hanya menunggu?

"Apa ada pasien bernama Reza Wiratama?" Elena bertanya to the point. Matanya menyorot tajam tak terbantahkan ketika sang resepsionis berniat akan menolak.

"Maaf Nona, Anda tidak bisa memotong ant-"

"Saya tanya apa ada pasien bernama Reza disini?! Jawab saja dan kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu!" ia berkata penuh penekanan. Banyak pasang mata menatapnya namun ia abaikan. Meski telinganya sudah mulai panas mendengar cemoohan orang-orang disekitarnya.

"Nona, ini adalah pro-"

"Persetan! Cepat jawab atau kamu--"

"Elena?"

Baik Elena maupun resepsionis tadi sama-sama menoleh ke sumber suara. Gibran, lengkap dengan pakaian kerjanya yang kurang rapih. Apa pria ini habis lari-larian? Tunggu, sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Reza sampai Gibran harus kesini bukan?

"Reza... Reza ada disini? Dia baik-baik aja kan?"

Mata Gibran terlihat melirik kesana kemari, detik selanjutnya ia menarik tangan Elena darisana. Mengabaikan tatapan bingung orang-orang disana, juga resepsionis yang nampak tertegun. Mungkin karena tahu jika Gibran adalah adik dari pemilik rumah sakit ini. Karena Wiratama juga selalu menyuntikan dana untuk membantu orang-orang kurang mampu yang berobat disini.

"Kenapa kita kesini? Aku mencari Reza!" Elena berdecak kesal lantaran Gibran membawanya ke taman rumah sakit. Tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang disini. Mau dibuat senyaman apapun, rumah sakit tetap tidak akan membuat orang betah untuk tinggal bukan?

"Vika melahirkan." Gibran menjeda ucapannya. Melihat perubahan raut wajah kakak iparnya yang terlihat bingung. "Semuanya ada disana, termasuk Bang Reza." lanjutnya memberi penjelasan.

Butuh waktu hampir satu menit bagi Elena mencerna ucapan to the point Gibran. Tanpa basa-basi, langsung pada titik permasalahan. Beruntung di dekatnya ada bangku, sehingga Elena bisa mendudukan tubuhnya disana.

Revika melahirkan.

Revika Angela Wiratama. Putri bungsu, satu-satunya anak perempuan Wiratama, kesayangan semua orang. Elena tahu benar, jika semua saudara Revika sangat menyayangi anak itu. Reza pernah menyewa pulau pribadi hanya karena adiknya ingin berjemur. Galih rela bolak-balik London Jakarta karena Revika merindukannya. Belum lagi tiga saudaranya yang lain yang tanpa pikir akan memberikan apapun agar Revika merasa senang. Bahkan ketika perempuan itu salah pun, semua orang mendukungnya.

Haruskah ia membenci Revika lagi? Namun untuk apa? Tidak akan berguna, kebenciannya pada istri Galih itu tidak akan membuat seorang Revika merasa menderita. Semua orang selalu mendukung serta membelanya. Dia juga ingat Reza pernah menamparnya dan menuduh dia menculik Revika dulu. Wajar bukan jika Reza melanggar janjinya demi adik kesayangannya itu?

"Kamu bisa kesana, aku akan-"

"Kamu bawa aku kesini, tandanya kamu tahu kalau aku tidak ingin bertemu adikmu bukan?" Elena mendongak, menatap Gibran yang masih berdiri. "Jangan katakan pada Reza jika aku mencarinya, anggap saja kita tidak bertemu disini." menguatkan diri, ia beranjak darisana. Menangis seperti orang gila disini pun tidak akan membuat perubahan.

Not A Wrong Bride (#4 Wiratama's)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang