[End]
Gagal menikah, kehilangan kedua orangtuanya. Sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai mendapat ujian bertubi-tubi?
Tiba-tiba saja Reza datang, menawarkan sebuah pernikahan seolah hal itu hanyalah mainan. Saat ia berusaha menolak...
Reza tidak main-main dengan ucapannya. Kalau dipikir memang kapan pria itu main-main dengan ucapannya sendiri? Tidak pernah. Merenggut kebebasan Elena benar-benar pria itu lakukan. Mengurung Elena di dalam penthouse bahkan terdapat bodyguard diluar pintu jaga-jaga jika Elena nekad. Pria itu? Entah pergi kemana sejak kemarin sudah menghilang. Mungkin tengah mengurus adik manjanya.
Tidak bekerja mungkin sesuatu yang dihindari oleh orang-orang. Untuk kasusnya saat ini, ia mencoba menikmati. Toh walaupun ia dikurung, fasilitas disini masih lengkap. Masih ada televisi juga ada makanan untuk menunjang hidupnya entah sampai kapan.
Jangan harap ia akan menangis meratapi nasibnya. Tidak akan, terlebih jika itu berkaitan dengan Reza. Akan ia tunjukkan jika dia baik-baik saja. Menikmati hari libur yang diberikan oleh Reza. Toh nanti pria itu akan tahu sendiri jika ini bukan salahnya.
Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, ia bosan! Ponselnya memang masih ada ditangannya namun aksesnya diputus, sialan! Dia tidak bisa menghubungi siapapun saat ini.
"ELENA?"
Elena yang tengah bergelung di kasurnya berjengit, terkejut mendengar suara keras yang sangat ia kenali. Belum sempat ia beranjak, pintu kamar sudah lebih dulu terbuka. Sosok pria yang tak lain adalah suaminya, berjalan sembari membawa sebuah paper bag, entah apa isinya.
Begitu Reza keluar, Elena mengambil paperbag tadi. Mengeluarkan isinya, sedikit tidak percaya karena di dalamnya adalah sebuah gaun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terlihat simple. Apa Reza yang memilihnya sendiri? Meski begitu gaun ini terlihat elegan. Tapi tunggu, kenapa Reza memberinya gaun? Apa...
"JANGAN LAMA-LAMA ATAU KITA AKAN TERLAMBAT!"
Sepertinya ia tahu alasan Reza memberinya sebuah gaun. Akan membawanya ke sebuah pesta mungkin? Pria itu juga terlihat rapi walau tidak memakai jasnya. Tapi kalau diingat-ingat lagi, keseharian Reza memang memakai kemeja. Kecuali saat weekend dan tidur, pria itu akan berpakaian selayaknya manusia normal.
"Tapi gue kan belum mandi," gerutu Elena seraya beranjak dari ranjang.
🍁🍁🍁
"Apa kamu tidak paham bahasa manusia?"
Abaikan saja Elena, abaikan. Jika ditanggapi bisa membuat darah tinggi. Hell! Melihat wajah pria ini saja ia kesal, terlebih nyinyiran menyebalkannya.
"Kita sudah terlambat karena kamu!"
Salah sendiri tiba-tiba. Kan gue belum mandi, yakali pergi ke pesta gak mandi. Dumel Elena di dalam hati. Ingin langsung menyampaikan tapi sayang nyawa.