Bonus up!
Harus ramein ya!
Happy Reading!
.
.
.
Satu minggu berlalu, selama itu pula dia mencoba membujuk istrinya. Setelah penolakan Elena usai terbangun, wanita itu tidak lagi menolak kehadirannya pun menganggap dirinya ada. Setiap hari dia selalu menjaga istrinya, membawa pekerjaan ke rumah sakit --itupun yang penting saja-- agar bisa merawat istrinya sendiri. Sedangkan sisanya ia limpahkan pada bawahannya.
"Mau aku kupasin mangga?"
Diam. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, Elena tidak pernah menanggapi ucapannya. Sekedar meliriknya pun jarang. Menurutnya, lebih baik mendengar semua cacian dari Elena ketimbang diamnya wanita itu. Ia tidak suka, meski begitu dia pun tidak bisa protes.
Duduk disebelah ranjang, ia mengupas mangga yang dibawakan oleh Ibunya. Ketika hamil, Elena sangat menyukai mangga. Entah itu mangga yang belum matang alias masih masam. Ataupun mangga yang sudah matang juga yang dibuat jus.
Mengingat momen-momen yang lalu, rasa sedih kembali hadir. Mau sekuat apapun dia mencoba mengalihkan rasa sedihnya, tetap saja dia tidak bisa. Sama seperti istrinya, dia pun merasa sangat terpukul. Calon putri kecilnya sudah tiada.
Untuk pertama kalinya ketika sudah dewasa, ia menangis di depan ibunya. Memeluk sang ibu sembari menumpahkan segala laranya. Ini kebodohannya, dia tahu itu. Jika saja dia tidak mengabaikan panggilan dari istrinya saat itu, pasti sekarang mereka tengah berbincang hangat ataupun sibuk menyiapkan kamar untuk si kecil.
Dalam waktu singkat, semuanya berubah. Ia pikir, abai sejenak dengan sekitar untuk menemani Tiffany tidak akan berpengaruh bagi masa depannya. Ternyata salah, tak ada satu jam dia berada diruang bersalin, namun dunianya kacau pada saat itu.
Penyesalan memang selalu ada diakhir, yang harus dia lakukan sekarang adalah mendapat maaf dari istrinya juga harus berlapang dada menerima makian dari saudara-saudaranya.
"Sore Kakak ipar, gue boleh masuk nggak?"
Kepalanya mendongak mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Gava, dengan kursi roda elektrik-nya masuk kedalam kamar. Adiknya itu sudah sadar satu hari sebelum Elena. Cedera di kakinya cukup parah hingga mengharuskan Gava memakai kursi roda. Walau tidak permanen, Gava tetap ngotot meminta kursi roda elektrik.
"Minta dong," Gava yang sudah berada di sampingnya mencomot satu potong mangga.
Beberapa hari yang lalu, ketika sudah bisa berbicara dengan lancar lagi --tidak merasakan sakit saat bicara-- Gava pun sempat memakinya. Terlebih ketika tahu jiak dia tengah menemani Tiffany saat tragedi ini berlangsung. Namun dihari selanjutnya, adiknya itu sudah tidak lagi mempermasalahkan.
"Marahnya Kak Lena udah cukup nyiksa lo kok Bang, makanya gue maafin biar lo nggak makin stress." perkataan Gava tanpa sadar membuatnya tersenyum. Berbeda dengan Gibran yang masih saja sinis padanya. Sedangkan Galih, sejak bangun pria itu tidak memusuhinya. Suami dari adiknya itu hanya memakinya namun tetap bersikap biasa saja.
"Besok lo pulang, kan Kak? Perlu kursi roda kayak punya gue nggak?"
"Kaki gue normal."
"Kan kali aja lo pengin nyobain. Enak loh, Kak, berasa main mobil-mobilan."
"Tiati kaki lo nggak sembuh, entar."
"Do'a lo jelek amat, Kak."
Bersama orang lain, Elena akan membuka suara. Walau terdengar lemah juga tak bergairah, wanita itu tetap akan merespon orang lain. Seolah menunjukkan jika hanya pada Reza lah dia bersikap berbeda. Bisakah dia mengajukan protes? Tentu tidak. Tidak diusir saja dia sudah bersyukur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Wrong Bride (#4 Wiratama's)
Romance[End] Gagal menikah, kehilangan kedua orangtuanya. Sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai mendapat ujian bertubi-tubi? Tiba-tiba saja Reza datang, menawarkan sebuah pernikahan seolah hal itu hanyalah mainan. Saat ia berusaha menolak...
