Hari Senin biasanya dipenuhi jadwal super padat ataupun pekerjaan menumpuk. Berbeda dari biasanya, hari ini -tepatnya di hari senin- baik Elena maupun Reza masih sama-sama bergelung nyaman di ranjang. Keduanya sudah bangun, namun masih terlalu malas untuk beranjak. Diawali saling melempar senyum ketika terbangun, lalu mengobrol ringan dengan posisi Elena bersandar di dada bidang suaminya. Sedangkan tubuh keduanya tertutup selimut.
"Kamu tidak lapar?" Reza bertanya sembari memainkan rambut istrinya. Panjang, halus, berkilau juga harum, membuatnya betah ketika menghirup aromanya.
"Belum," nada suara Elena terdengar malas. Tubuhnya terasa lemas, padahal kulitnya yang lengket membuat ia ingin cepat-cepat membersihkannya. Kakinya seolah menolak diperintah saat ini. "Kamu... Punya mantan berapa?" Elena bertanya random, kepalanya mendongak agar bisa melihat wajah suaminya.
"Tidak punya."
Dahi Elena berkerut, matanya menyipit menatap Reza intens. Tidak berlangsung lama, karena saat Reza menunduk, menatapnya dengan mata elangnya namun sorot teduh itu membuatnya lemah. Padahal sudah beberapa minggu dari pernyataan cinta Reza, sudah bukan hal baru ketika Reza menatapnya penuh perasaan, sayangnya ia belum terbiasa. Jantungnya seolah akan meledak ketika menerima hal itu.
"Hidupmu sudah lebih dari tiga puluh tahun, bohong kalau kamu berkata tidak memiliki mantan pacar." Elena kembali menatap suaminya namun tidak lama. "Setidaknya kamu pernah dekat dengan perempuan." lanjutnya terdengar seperti gumaman.
"Aku sedang dekat dengan perempuan sekarang." suara Reza terdengar santai, sudut bibirnya berkedut ketika istrinya dengan cepat menoleh padanya. "Sangat dekat sampai bisa memeluknya sekarang." lanjutnya berbisik pelan.
Alih-alih merasa tersanjung, Elena malah bergidik ngeri. "Ayo jawab, aku boleh tahu masalalu kamu kan?"
"Berani bayar berapa?"
Decakan lolos dari Elena. Wanita itu berniat beranjak darisana namun lilitan tangan Reza semakin erat di pinggangnya. Menahannya untuk tetap di posisi semula.
"Aku pernah dekat dengan seseorang."
Dahi Elena berkerut. Ada perasaan tidak suka muncul di benaknya. Hell, padahal yang bertanya dia, sekarang dia juga yang kesal. Seharusnya dia biasa saja mendengarnya bukan? Reza pria normal, berusia matang dan kaya raya. Lagipula dia pun memiliki masalalu dengan beberapa pria -termasuk ipar Reza. Akan konyol jika dia mempermasalahkan hal ini bukan?
"Kenapa tidak kamu ajak berpacaran?"
Kepala Reza menggeleng pelan. "Aku berniat menikahinya dulu," jawabnya tanpa beban. Seolah kata-kata yang diucapkannya tidak lah berarti.
Raut wajah Elena berubah. Ada gemuruh di dadanya, cepat-cepat dia ingin beranjak darisana namun kembali di tahan. Mata tajamnya menatap Reza, seolah berkata untuk melepaskannya sekarang juga.
"Itu hanya masalalu." Benar. Hanya masalalu yang seharusnya tidak mengganggu masa depan mereka bukan? Elena pun pernah hampir menikah, malah sudah mempersiapkan banyak hal. Hanya saja... Mendengar Reza pernah ingin menikahi seseorang dulu, seperti ada tangan kasat mata yang meremas jantungnya. Dia tidak suka perasaan ini.
"Ayo, aku meminta bayaranku." bisikan Reza membuat Elena tersentak. Belum sempat ia bereaksi, tubuhnya sudah melayang. Beruntung dia bisa menahan selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. "Kita mandi bersama," seringai Reza tercetak jelas, pria itu nampak semangat. Tanpa kesusahan menggendong istrinya ala bridal style berserta selimut yang menggantung -ikut terseret.
Menyadari apa yang akan mereka lakukan nanti, Elena merutuk dalam hati. Teringat pesan Nadya, "Kalau lo lagi kesel sama laki lo, jangan mau diajak bergulat, seratus persen abis itu lo maafin dia gitu aja. Tapi kalau sebaliknya, lo bisa gunain cara ini buat ngeluluhin hati laki lo." bahkan tawa setan Nadya masih teringat jelas di kepalanya. Apa Reza juga melakukan hal yang sama agar dia tidak marah? Cih! Lihat saja nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Wrong Bride (#4 Wiratama's)
Romance[End] Gagal menikah, kehilangan kedua orangtuanya. Sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai mendapat ujian bertubi-tubi? Tiba-tiba saja Reza datang, menawarkan sebuah pernikahan seolah hal itu hanyalah mainan. Saat ia berusaha menolak...
