Not A Wrong Bride || 16. Weekend

25.4K 1.4K 104
                                        

Cieee yang dah nunggu lama. Gimana gimana rasanya?

Katanya up hari ini biar hadiah idul Adha, udah nih aku kasih. Kalau gitu kalian wajib vote sama komen banyak banyak yaaaa

Happy Reading!
.
.

"I love you."

Hanya tiga kata, satu kalimat, namun berdampak buruk bagi jantung Elena. Wajahnya terasa panas hingga ia harus menunduk karena ia yakin, wajahnya merona saat ini. Berdeham pelan, ia mencoba menenangkan dirinya.

"Jadi? Itu dari kamu atau dari Regan?" Sengaja dia menggoda Reza, lagipula... Dia merasa kurang yakin. Reza mencintainya? Secepat itu? Atau karena kejadian semalam?

"Menurutmu Regan berani?"

"Em... Kurasa Clara akan membunuhnya jika iya."

"Sebelum itu aku sudah membunuhnya terlebih dahulu." kalimat Reza terdengar santai, bahkan pria itu mengatakannya sembari bersandar. Wajahnya tidak terlihat serius namun suaranya sarat akan ancaman. Reza memang tahu cara membuat lawannya merasa ciut.

Belum sempat Elena membalas, beberapa pelayan datang membawakan pesanan mereka. Jadi Reza sudah memesan terlebih dahulu? Sekitar ada empat macam masakan menjadi menu makan siang mereka. Porsi disini tidak terlalu banyak namun harganya mahal, biarlah, toh Reza tidak akan bangkrut hanya karena ini bukan?

"Kamu tidak bisa membatasi orang untuk mencintai, Reza." sengaja Elena bersuara agar mereka tidak makan dalam hening.

"Ada yang mencintaimu?" Elena mendongak, merasa geli melihat wajah Reza yang terlihat tidak suka.

"Menurutmu?" Elena memasukan sesuap makanan kedalam mulutnya, mengunyahnha kemudian menelannya. "Aku cantik, karirku bagus, menurutmu selama berhubungan dengan Galih tidak ada pria yang mendekatiku?" sengaja Elena membanggakan dirinya sendiri. Toh, Reza seperti tidak ada niatan untuk memujinya.

"Oh, biarlah. Aku yakin mereka tidak berani mendekatimu."

Elena tergelak mendengarnya. Sepertinya pria seperti Reza harus disadarkan agar tidak terlalu percaya diri. "Kamu mengenal Arsean Gelgory? Parfum miliknya sudah tersebar hampir di seluruh dunia, dan kamu tahu? Dia pernah mengajakku berkencan saat bertemu di Bali." Elena menghela nafas pelan, terlihat seolah menyesal. "Bodohnya aku menolaknya karena saudara mu dulu."

Wajah Reza terlihat kesal. Elena tahu jika ego pria itu pasti tersentil. Biarlah, biar Reza sadar jika diatas langit masih ada langit. Agar pria itu tidak lagi berlagak seolah pria paling berkuasa di dunia. Karena jika dibandingkan Arsean, jelas Reza kalah dalam hal materi.

"Bahkan jika pangeran Inggris sekalipun, aku berani melawan jika itu kamu. Lagipula statusku lebih tinggi dari pria diluar sana, aku suamimu. Dan itu berlaku seumur hidupku."

Okay, Elena tidak bisa menahan tawanya. Dia memang tidak berbohong soal Arsean Gelgory ini tapi ia tidak menyangka Reza akan seserius ini menanggapinya. Yeah, seorang Reza memang selalu serius bukan.

"Ucapan mu terdengar seperti bualan." ujar Elena kemudian meraih gelas, meminum air mineral di dalamnya.

Helaan nafas terdengar dari Reza, pria itu terlihat lelah. "Aku bicara sungguh-sungguh, kenapa wanita sering menganggap ucapan manis pria bualan semata?"

"Okay, maafkan aku. Tapi Reza... Kamu terdengar seperti sangat berpengalaman." Elena sengaja mengecilkan suaranya di kalimat terakhir, terkesan seperti berbisik.

"Itu pengalaman Regan."

"Benarkah?" Elena terkekeh, terdengar tidak percaya. "Kalaupun itu pengalamanmu, itu hal wajar. Malah tidak wajar kalau kamu tidak memiliki pengalaman dengan wanita."

Not A Wrong Bride (#4 Wiratama's)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang