Selamat datang di dunia tarik ulur Anye dan Hardin!
-o0o-
Keinginan Arlin yang tidak ingin Anye terjebak pada hubungan berkedok sahabat itu nyatanya telah terjadi.
Anyelir tersenyum miris menatap jari-jarinya yang bertaut diatas pangkuannya. Sesekali ia menoleh ke arah jalan dari balik kaca mobil dan sesekali pada pria di sampingnya.
Hardin tampak serius menyetir mobil. Lengan kemejanya ia lipat membuat kesan maskulin padanya. Rambutnya sedikit berantakan tapi tidak mengurangi ketampanannya. Dari penampilannya Anye bisa menebak jika pria itu baru saja pulang dari kantornya. Tapi seharusnya ini belum jam pulang mengingat ini masih awal sore hari.
Anye memperhatikan tangan kokoh dan rahang pria itu bergantian. Ia rasanya ingin mengumpat. Menyadari betapa tidak adilnya tuhan pada makhluk di sampingnya.
Pria itu benar-benar sempurna dan berbahaya.
Anyelir menghela nafasnya. Ia kembali tidak bisa mengendalikan dirinya. Tadi tanpa tahu malu ia menghubungi Hardin dan meminta tolong untuk menjemputnya di kantornya. Sungguh tadinya ia hanya iseng karena entahlah.... Rasanya ia hanya ingin memulai topik pesan.
Tapi siapa sangka. Pria itu benar-benar menjemputnya. Anye yang kebingungan menolak atau memberi alasan bahwa ia hanya ingin mencari topik akhirnya memilih ikut saja.
"Maaf merepotkanmu." Jujur Anye.
Hardin tersenyum. Tatapan matanya melembut yang tidak disadari Anye karena gadis itu berucap tanpa menoleh ke arahnya.
"Kita sudah sepakat menjadi sahabat lagi, bukan." Kali ini senyum itu berubah sedikit miring dan binar di matanya berubah licik. 'kau yang memilih kembali padaku.' lanjutnya pada diri sendiri.
"Sejak dulu aku selalu merepotkanmu." Anye berkata menyesal.
"Ya, apa jadinya kau tanpaku." Jawab Hardin bersirat.
Anye tersentak. Ia terkejut saat jemari dan tangan besar itu menggenggam satu tangannya dan membawanya ke atas paha pria itu.
Anye menatap Hardin terkejut dan itu membuatnya menatap Hardin secara langsung, mengingat sejak tadi ia hanya mencuri pandang.
"Kita sering melakukan ini dulu." Hardin menunjukkan genggaman tangan mereka dengan mengangkat tangan keduanya ke udara yang kemudian kembali ia letakkan di atas pangkuannya.
Anye sebenarnya tidak menyangka jika Hardin mengulang semua kebiasaan mereka yang dulu. Sekarang Anye bukan wanita sepolos yang dulu. Dulu ia memang tidak mengerti jika tingkah laku mereka bukan seperti sahabat.... Tapi sekarang, ia tahu ini salah.
Hardin adalah tunangan orang lain.
Ia merasa ini tidak pantas.
Tapi semua hanya ada di pikirannya. Nyatanya Anye tidak menolak sentuhan itu. Nyatanya ia membiarkannya. Dan nyatanya ia merasakan kenyamanan yang sejak dulu ia rasakan.
Dan terakhir.... Anye merasa sangat rendah.
Tapi jika bukan sekarang. Mungkin ia tidak akan merasakan hal ini lagi.
Karena nyatanya pria itu bukan miliknya.
Deg...
Anye terkejut dengan pemikirannya. Apa ia baru saja berpikir ingin memiliki Hardin? Apa ini..? Kenapa ia memiliki pemikiran untuk memiliki hubungan?
"Kau tidak nyaman?" Pemikiran Anye berakhir dengan pertanyaan Hardin.
Anye tidak menjawab. Lebih tepatnya ia tidak bisa menjawab. Bagaimana mungkin ia menjawab pertanyaan dimana logika dan hatinya beradu pendapat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emotion Love
Romansa"Apa yang kau lakukan Anye?" Tanya orang itu dengan angkuhnya. Anye. Gadis itu tidak bergeming di tempatnya. Pandangannya buram. Bukan ini yang ia pikirkan. Apa begini cara memperlakukannya setelah ia mengatakan mencintai laki-laki itu. Bukankah ini...
