Malu....
Hal pertama yang Anye lakukan saat sampai di rumahnya adalah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Apa yang ia lakukan hari ini. Benar-benar memalukan. Tadi setelah ia memeluk Hardin dengan cepat ia pamit dan pulang ke rumahnya. Ia bahkan harus naik bis dua kali karena salah menaiki bus. Kenapa ia berani sekali memeluk Hardin yang jelas sudah bertunangan.
'Bagus Anye.., sekarang kau menjadi wanita murahan.' batinnya terus mengejeknya.
Baru saja ia menghela nafas dan membuka wajahnya Anye terkejut melihat Daniella dan Arlin sudah duduk di ruang tamu rumahnya sambil menatapnya heran.
"Kau dari mana?" Tanya Arlin tampak heran dengan tingkah Anye.
"Kenapa tingkahmu mencurigakan?" Kali ini Daniella ikut menimpali.
Anye menggeleng cepat. "Aku... Baik."
"Kau dari mana Anye?" Arlin mengulang ucapannya. Arlin memang sangat peka semua yang berhubungan dengan Anye.
Anye menggelengkan kepalanya ia tidak mau menjawab.
Daniella yang mengernyit heran saat mencium bau yang sedikit asing. Wanita satu itu memang memiliki penciuman yang tajam dan Anye merutuki kelebihan wanita itu karena sekarang Daniella sudah mengendus tubuhnya.
"Kau memakai parfum pria?" Tanya Daniella terkejut.
Kali ini Arlin menatapnya semakin tajam. "Bukankah kau tidak suka menggunakan parfum?" Arlin sangat hapal kebiasaan Anye. Mana mau Anye menggunakan parfum menyengat apalagi parfum pria, karena bertahun-tahun ia mengurusi Anye kadang Arlin harus memaksa Anye menggunakan parfum jika ke acara penting, itu pun dengan syarat wanginya harus seperti teh atau candy.
"Anye..." Arlin menggeram.
Anye menyerah. Ia tidak bisa mengelak lagi. Lebih tepatnya kedua wanita itu tidak akan melepaskannya jika Anye belum menjelaskan detilnya.
"Aku dari menemuinya." Jawab Anye ambigu.
Arlin dan Daniella saling bertukar pandang. Jawaban Anye malah membuat mereka menebak-nebak kembali. "Katakan dengan jelas Anye, siapa? Jangan mengkode." Kesal Daniella.
Anye menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Hardin." Jawabnya jujur.
Dan seperti yang ia duga. Kedua wanita itu menatapnya dengan horor. 'Bisakah mereka tidak melotot' keluh batinnya.
"Apa aku ketinggalan berita
?" Daniella menatap Anye dengan pemasaran.
"Kupikir kau sangat risih dan ingin menghindarinya." Kali ini Arlin lebih seperti mengejeknya dengan sinis.
"Aku tahu. Aku gila. Tapi sungguh ini hanya akan menjadi pertemuan terakhir. Aku hanya memberi kado pertunangan. Hanya itu." Jelas Anye meringis.
Arlin dan Daniella menatapnya tidak percaya. "Kau yakin?" Tanya keduanya kompak.
Anye mendengus. Ia meringis mengingat kedua wanita itu bahkan tidak mengizinkannya duduk dan sepertinya mereka masih akan terus mengintrogasinya. "Apa aku tidak boleh duduk lebih dulu?" Tawar Anye.
"Tidak!" Jawab keduanya.
"Anye..." Geram keduanya lagi.
"Hardin sudah bertunangan." Peringat Daniella.
"Kau harus menjauhinya. Jangan pernah menemuinya lagi. Ia berbahaya untukmu." Kali ini Arlin yang bicara.
"Iya aku tahu." Jawab Anye lesu. Terkutuklah dirinya yang selalu merasa sesak setiap mendengar kata pertunangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emotion Love
Romansa"Apa yang kau lakukan Anye?" Tanya orang itu dengan angkuhnya. Anye. Gadis itu tidak bergeming di tempatnya. Pandangannya buram. Bukan ini yang ia pikirkan. Apa begini cara memperlakukannya setelah ia mengatakan mencintai laki-laki itu. Bukankah ini...
