36 - My Queen

21.3K 899 5
                                        

Hardin tertawa ringan saat Anye terus bergerak menjauh darinya. Keduanya kini duduk di ruang TV dimana beberapa saat yang lalu keduanya sepakat menonton film buah dari permohonan Anye.

"Kemarilah.. kau bisa bersandar padaku." Tawar Hardin pada Anye. Ia sedang setengah berbaring di sofa panjang sementara Anye memilih duduk di sofa lainnya. Jika Hardin bergerak sedikit saja maka Anye akan bersiap kabur darinya.

"Kau benar-benar ingin menonton?" Goda Hardin karena tahu wanita itu hanya berusaha mencari cara agar bisa menjauh darinya.

"Aku sedang menonton." Jawab Anye tapi matanya terus mengawasi pergerakan Hardin.

"Kalau begitu berhentilah melirikku dan fokuslah pada filmmu."

Anye mencibir Hardin di tempatnya tanpa suara. Ia juga tidak akan bersikap was-was seperti ini jika tidak tahu Hardin berbahaya untuknya. "Aku hanya melindungi diriku dari predator." Kata Anye kesal.

Hardin menjawab ucapan itu dengan tertawa ringan. Seolah ucapan itu hanya candaan biasa. "Kau harus membiasakan diri pada predator ini." Katanya santai.

"Apa kau juga begitu pada Amanda?" Anye menggeleng. "Ah, tidak... Bagaimana dengan semua mantanmu?" Anye kembali menggeleng. Kali ini ia menatap Hardin dengan ekspresi permusuhan.

"Kau tidak perlu menjawab, bisa jadi aku akan menyesal setelah mendengar semuanya." Putus Anye sepihak.

Hardin tertawa. Ia juga baru sadar jika Anye membuatnya lebih banyak tertawa. "Kau ingin mendengar apa dariku?" Tanya Hardin memancing.

"Tidak perlu. Aku tidak suka mengungkit masa lalu." Jawab Anye bertolak belakang dengan rasa penasarannya.

Hardin menaikkan satu alisnya. "Kau yakin?"

Anye melirik sinis pada Hardin. Ia merasa Hardin akan memamerkan semua mantan kekasihnya dan itu hanya akan berakhir buruk untuknya. Akhirnya ia lebih memilih diam dan fokus pada filmnya.

Anye berusaha menghiraukan Hardin tapi nyatanya ia tidak bisa. Ada banyak pertanyaan di kepalanya. "Kau benar-benar akan meninggalkan Amanda, bukan?" Tanya Anye penasaran.

"Kau masih meragukanku?" Hardin mendengus tidak percaya. Egonya sedikit terluka atas tuduhan itu, tapi ketidakpercayaan Anye lebih membuatnya kesal.

Anye berdehem sebentar. "Maaf. Tapi selama aku mengenalmu kau selalu mengingkari janjimu." Kata Anye hati-hati.

Hardin mengernyit tidak suka meski ia sadar ucapan itu tidak ada yang salah. Ia memang tidak pernah menepati janjinya kecuali untuk urusan pekerjaan.

Anye menatap Hardin serius. "Kau tidak akan mengkhianatiku, kan?" Tanya Anye serius.

Hardin menghela nafasnya. Ini bukan pertama kalinya Anye menanyakan hal itu. Hardin merubah posisinya dan duduk menatap Anye, ia merasa ada banyak hal yang harus diluruskan. Anyelir dan segala pemikiran negatifnya benar-benar tidak ada habisnya.

"Kau sendiri bagaimana?" Hardin balik bertanya. Namun raut wajahnya mendadak dingin melihat Anye yang terdiam. "Kau berniat meninggalkanku?" Tanya Hardin marah.

"Tergantung padamu." Jawab Anye, matanya menatap Hardin tanpa rasa takut. "Aku orang yang egois, Hardin. Aku tidak suka berbagi meski tahu aku sendiri banyak kekurangan." Anye membuang wajahnya kesamping. "Aku bahkan tidak bisa punya anak." Desisnya miris.

Anye kembali menatap Hardin. "Memilihku artinya kau siap dengan semua itu."

Hardin bangkit dari sofa dan bergerak mendekati Anye. Dengan pelan ia mensejajarkan wajah mereka, Hardin mengusap pipi kiri Anyelir dengan lembut. "Aku sendiri tidak akan pernah melepasmu." Kata Hardin tersenyum miring.

Emotion LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang