Hardin duduk bersebrangan dengan ibunya. Rebecca masih asik mengupas buah Apel ditangannya membiarkan Hardin membuka suara dengan sendirinya. Sayangnya setelah bermenit-menit berlalu putranya tetap memilih bungkam.
"Kau tidak mau bicara?" Desah Rebecca kesal.
Hardin bersikap acuh. "Apa yang harus kukatakan?" Ia balik bertanya.
"Jangan menghindar, dan jelaskan tentang hubunganmu dengan Anye. Kalian tampak akrab hingga tidur bersama semalam." Rebecca bertanya to the point.
"Dia bukan selingkuhanku jika itu yang mom pikirkan." Jawab Hardin santai. Ia mengambil buah yang baru diiris Rebecca dan memakannya.
"Aku juga tidak percaya jika Anye mau menjadi selingkuhanmu." Komentar Rebecca kesal. "Tapi kau tidak bisa menampik kalau kalian memiliki hubungan bukan?" Hardin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Rebecca sebenarnya gemas dengan sikap Hardin yang terlihat sangat santai seolah mereka sedang membicarakan hal biasa. "Beritahu aku hubungan apa itu?"
Hardin sedikit berpikir sebelum kembali menjawab. "Hubungan yang cukup bisa membuat Anye menggugatku ke pengadilan." Jawab Hardin ambigu.
"Pengadilan? Memangnya apa? Kau mencuri sesuatu darinya?" Tanya Rebecca heran sebelum akhirnya ia menyadari sesuatu.
Rebecca menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin pernikahan, bukan? Pikirnya.
"Mom, kau tidak mengerti?" Tanya Hardin, tahu ibunya sedang berpikir keras.
"Aku sedang mencoba memikirkannya. Anak pintar." Balas Rebecca masih penuh dengan segala pemikirannya sendiri.
"Mom, apa kau begitu menyukai Anyelir?" Tanya Hardin berganti topik.
"Dia gadis yang baik. Tentu saja aku menyukainya." Jawab Rebecca cepat.
Hardin tersenyum tipis sebelum berkata. "Baguslah. Aku senang mom menyukai istriku." Katanya bahagia.
"Is, istri?" Tanya Rebecca tidak percaya? Matanya melotot selama beberapa Detik sebelum mengerjap kembali. Rebecca menampar dirinya sendiri dengan tangan kanannya membuat Hardin sedikit meringis. Untunglah ibunya sudah tidak memegang pisau di tangannya.
Setelah merasakan sakit di pipinya, Rebecca melotot marah pada putranya. "Kau..., dasar anak nakal!" Pekiknya geram. Dan berjalan mendekati Hardin kemudian memukuli punggung putranya.
"Mom..! Auh!" Pekik Hardin menerima pukulan ibunya. "Apa sebenarnya isi kepalamu ini?" Kesal Rebecca hingga ia lelah memukuli Hardin. Ia merapikan rambutnya kembali dan kembali duduk di kursinya.
"Maaf mom memukulmu." Gumamnya setelah duduk.
Hardin menghela nafasnya. "It's okay, mom. Itu sama sekali tidak menyakitiku. Don't be guilty for that." Jawab Hardin membuat Rebecca menatapnya sebal.
Yah, pukulannya memang hanya menyakiti tangannya mengingat tubuh anaknya yang kekar. Pukulannya pasti seperti gigitan semut. "Sekarang ceritakan padaku. Kuharap kau sudah memikirkan resiko yang akan kau tanggung." Tuntut Rebecca cepat.
"Aku tidak pandai bercerita, mom." Balas Hardin cukup membuat Rebecca frustrasi.
"Apa sebelum kau menikahi Anye kau memikirkan perasaan Amanda?" Tanya Rebecca pada akhirnya.
Hardin mulai berpikir. Sejujurnya, ia tidak pernah memikirkan itu.
Hardin yakin Amanda akan terus menerimanya. Amanda selalu menurutinya tanpa membantah atau pun protes. "Amanda akan selalu di pihakku, mom."
KAMU SEDANG MEMBACA
Emotion Love
Romance"Apa yang kau lakukan Anye?" Tanya orang itu dengan angkuhnya. Anye. Gadis itu tidak bergeming di tempatnya. Pandangannya buram. Bukan ini yang ia pikirkan. Apa begini cara memperlakukannya setelah ia mengatakan mencintai laki-laki itu. Bukankah ini...
