11 - I want to be pregnant

24K 1.1K 6
                                        

Anye tersenyum miris. Tangannya menatap layar handphonenya yang menampilkan berita terbaru. Bukan berita gosip seperti biasanya. Itu adalah berita pertunangan Hardin.

Hardin....

Pria itu bertunangan.

Anye melirik gadis cantik yang ada disebelah Hardin. Ia ingat gadis itu, gadis yang bersama Hardin di pertemuan terakhir mereka. Anye sudah tahu itu adalah kekasih Hardin, tapi ia tidak menyangka Hardin serius dengan hubungan mereka.

Anye mengernyit saat merasakan nyeri di dadanya. 'Apa ia sakit jantung?' pikirnya aneh. Ah ini bukan sakit, ini sesak. Kembali ia berpikir 'apa dia Asma?'

Anye menggelengkan kepalanya. Tidak ia tidak memiliki penyakit apa pun, meski pola hidupnya buruk ia selalu rutin check kesehatan dan hasilnya selalu baik.

Anye tidak takut mati. Ia sudah siap mati sejak kecil. Tapi tidak mati dengan penyakit. Ia tinggal sendiri dan jauh dari keluarganya. Tidak ada yang akan tahu jika ia sakit... Dan tidak akan ada yang merawatnya.

"Meski sulit kau bisa mencoba membangun sebuah keluarga hangat. Setidaknya saat ajal menjemput kau pernah bersyukur pernah hidup di dunia ini."

Perkataan madam Marlin terlintas dikepalanya. Anye langsung menepis pemikiran itu dan menggelengkan kepalanya.

Kenapa ia berpikir seolah ia akan mati.

Anye kembali melihat berita itu. Kedua pasangan itu tampak sangat bahagia.

Anye tidak heran jika berita pertunangan Hardin menjadi topik utama semua berita. Pria itu sukses sebagai seorang model dan kini memiliki perusahaan agensi sendiri di usia muda. Pria yang beruntung.

Memikirkan pertunangan itu. Anye baru menyadari ia tidak diundang. Ada sedikit rasa kecewa di dirinya. Meski hubungan mereka sedikit buruk tapi mereka pernah menjadi sahabat....

Sahabat..., Ah, sepertinya hanya ia yang memiliki pemikiran itu.

"Apa yang kau lihat?"

Anye buru-buru menyembunyikan handphonenya. Meski setelahnya ia merasa aneh melakukan itu.

Daniella tertawa. "Kau kenapa?"

"Aku.... Baik." Jawab Anye gugup. Sial, kenapa ia harus gugup.

"Aku tidak menanyakan kabarmu." Daniella sekarang menatapnya dengan wajah jahilnya. "Kau merahasiakan sesuatu?" Matanya mencuri pandang pada handphone milik Anye.

Anye semakin menyembunyikannya handphonenya. Wajah gugupnya terlihat jelas.

Daniella semakin curiga. Gadis ini memang selalu tanpa ekspresi, tapi itu karena ia tidak pernah perduli pada semua hal. Tapi jika sampai segugup ini. Tentu saja hal itu pasti sesuatu yang besar hingga menarik perhatian Anye.

"Kau sakit?" Daniella bertanya dengan mata membulat.

"Tidak!" Jawab Anye tegas.

"Tidak... Kita harus ke dokter, semakin hari kulitmu semakin pucat. Tubuhmu pun semakin kurus. Oh, ya ampun hidungmu juga memerah. Tidak salah lagi kau sakit!" Daniella segera mencari tasnya. "Hari ini tidak usah bekerja aku akan meminta cuti untukmu." Putusnya sepihak.

"Apa yang sakit coba katakan padaku." Kata Daniella setelah keduanya masuk ke dalam mobil.

Anye memijat dahinya, pusing dengan tingkah Daniella. Wanita itu memang selalu bertingkah berlebihan. Seharusnya ia tadi meminta Arlin yang menjemputnya.

"Tidak perlu ke rumah sakit. Aku sungguh baik-baik saja." Ujarnya meyakinkan.

"Kau yakin?" Daniella masih menatap Anye dengan khawatir.

Emotion LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang