Happy Reading^^
.
.
"Adik kamu sudah meninggal,"
Deg
Pernyataan itu begitu menusuk hati Randi. Lagi-lagi Randi terdiam. Rahangnya mengeras menahan tangisnya. Seluruh tubuhnya merasakan kaku.
"Dok, i-ini gak bener kan?" Tanya Randi memastikan.
Dokter itu menundukkan kepalanya.
"Dokter pasti bohongkan? Adik saya masih hidup dok!"
"ALISA BELUM MATI DOKTER! DIA MASIH HIDUP! DIA GAK BAKALAN NINGGALIN ABANGNYA! DIA GAK MUNGKIN NINGGALIN ABANGNYA KAYAK GINI DOKTER!"
Randi berteriak begitu keras. Ia ingin menolak semua kenyataan ini. Namun rasanya tidak mungkin. Alisa telah pergi. Alisa memilih menyerah.
Randi menangis begitu histeris. Ia kemudian menatap dokter itu yang masih menunduk. Tiba-tiba, Randi mendekatinya lalu kedua tangannya itu menarik kerah baju dokter itu.
"KENAPA DOKTER GAK NYELAMETIN ADIK SAYA! KENAPA DOKTER BIARIN ADIK SAYA MATI GITU AJA! ADIK SAYA... DIA MENINGGAL GARA-GARA DOKTER KAN? INI SEMUA SALAH DOKTER!"
Laki-laki itu benar-benar kalap. Ia benar-benar kehilangan akal sehat nya hanya karna Alisa meninggal. Kakak mana yang rela adiknya meninggal secara tragis seperti ini? Kakak mana yang tak hancur ketika adiknya meninggalkannya?
Nesa panik ketika Randi tiba-tiba melakukan hal itu. Dengan cepat ia menarik Randi agar melepaskan cengkraman nya pada kerah dokter itu. Dibantu juga oleh beberapa staf lainnya.
"Sadar ran sadar! Kamu gak boleh kayak gini! Kamu gak boleh nyalahin orang sembarangan! Kamu kira dokter gak berusaha apa buat nyelametin Alisa?" Nesa menyeka air matanya yang sudah turun itu.
Gadis itu menangkup wajah Randi yang sudah basah karna air matanya itu.
"Ini bukan salah siapapun ran, gak ada yang salah disini. Ini semua sudah kehendak Tuhan. Jangan salahin siapapun."
"Kenapa Alisa harus ninggalin abangnya Nes? Kurang apa aku selama ini? Apa aku kurang baik, apa aku kurang perhatian? Terus selama ini yang aku lakuin buat Alisa itu apa namanya Nes? Apa aku Abang yang buruk buat dia sehingga dia milih meninggal gitu? Apa kurangnya aku Nes, apa? Hiks,"
Laki-laki itu menangis. Tubuhnya luruh dilantai begitu saja. Randi merasa tak ada tenaga untuk bangkit. Kekuatannya adalah Alisa. Dan kini Alisa memilih pergi meninggalkan semuanya, termasuk Randi.
Nesa kembali menangis melihat keadaan Randi yang begitu hancur. Gadis itu kemudian memeluknya. Mengusap kepalanya berkali kali.
"Kamu gak kurang apapun ran. Kamu Abang yang sempurna buat seluruh adik didunia ini. Alisa pasti bangga banget punya kakak laki-laki kayak kamu. Jadi stop bilang kayak gitu, Alisa pasti gak suka."
"Dia tau kalo dia gak suka abangnya kayak gini, tapi kenapa dia malah ngelakuin hal yang gak disukai abangnya? Kenapa Nes? Kenapa harus Alisa yang pergi? Kenapa gak aku a—"
"Sssttt,"
Nesa menyimpan telunjuknya itu pada bibir Randi.
"Jangan gitu, Ran."
"Alisa," gumam Randi.
Laki-laki itu bangkit. Ia memasuki ruangan operasi. Disana sudah menampakkan Alisa yang tak berdaya dengan berkulit pucat. Sedikit noda darah masih ada pada wajah gadis itu, namun tidak banyak karna tadi sempat dibersihkan terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Departure✓
Teen Fiction[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA] ⚠️TYPO BERTEBARAN⚠️ ______ Ini kisah tentang seorang gadis yang memiliki seorang tetangga baru yang bersebelahan dengan rumahnya dan kini menjadi kekasihnya. Hubungan keduanya memang mulus, Namun tragedi pembunuh...
