EXTRA PART

508 21 0
                                        


KARNA AKU NGERASA BELUM LENGKAP, JADI AKU TAMBAHIN PART EXTRA NYA YAA HEHE. SEBELUM MEMBACA, JANGAN LUPA FOLLOW AKUN SAYA😘

Happy Reading^^

.

.

Gadis itu duduk di atas kursi roda. Ia duduk di dekat jendela. Pandangannya kosong. Tak ada lagi semangat hidup Yang menyertainya. Sudah tiga bulan sejak kematian Randi. Sejak saat itu juga Nesa tidak pernah tersenyum.

Apalagi waktu itu Tia menyalahkan dirinya atas kematian kedua anaknya itu.

Pemakaman Randi sudah selesai. Semua orang yang berada disana mengenakan baju hitam. Begitupun dengan Nesa.

Gadis itu masih tak percaya bahwa Randi telah pergi. Ia, bersama dengan Astri dan juga Alfan datang ke makam Randi. Nesa menatap sendu gundukan tanah yang masih basah itu. Randi di kuburkan di sebelah adiknya, yaitu Alisa.

Rasanya Nesa ingin sekali duduk dan memeluk tempat peristirahatan terakhir Randi. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan apapun. Ingin makan saja harus disuapi Astri. Terkadang gadis itu berpikir bahwa dirinya hanyalah beban semua orang.

Apalagi ketika Astri sibuk, dan Nesa belum mandi, wanita itu selalu menyempatkan dirinya untuk mengurus Nesa. Tak ada kata lelah yang keluar dari mulut Astri. Mungkin ini memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang Tante.

Gadis itu mengeluarkan air matanya ketika Tia menangis histeris di sana. Di sampingnya, ada Adi yang terus berusaha menenangkannya.

"Abang...Kenapa kamu ninggalin kami? Padahal kemarin kamu udah janji sama mamah bakalan pulang dalam keadaan sehat. Tapi kenapa? Kenapa kamu bohongin mamah." Ucap Tia dengan histeris.

Bukan cuma Tia, Adi juga sama-sama merasa kehilangan. Namun laki-laki itu tak ingin terlihat lemah, setidaknya tidak di depan istrinya itu.

"Kamu tenang mah, jangan kayak gini. Kita harus tabah, mungkin ini ujian buat kita." Ujar Adi.

"Tapi gak harus juga ngambil kedua anak kita pah. Kita udah kehilangan Alisa, dan sekarang anak pertama kita juga pergi."

"Semuanya udah kehendak Tuhan. Semuanya hanya titipan. Yang namanya titipan, akhirnya juga pasti di ambil sama yang punya."

"Mamah gak siap pah. Mamah masih butuh mereka..."

Adi mengangguk. Ia tak menjawab lagi ucapan Tia. Yang dilakukannya yaitu mengusap punggung istrinya itu.

Tia kemudian mendongakkan kepalanya. Nesa berada di depan mereka. Gadis itu menangis. Namun tatapan Tia kini berubah menjadi tajam.

Wanita itu kemudian bangkit. Ia menghampiri Nesa lalu menamparnya dengan keras.

Plak

Semua orang disana terkejut dengan apa yang dilakukann Tia pada Nesa. Gadis itu meringis. Namun ia sendiri tak bisa mengusap pipinya agar lebih baik. Semuanya kaku.

Departure✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang