Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.
***
Sejak siang itu, Bundanya Al --Aluna terus memaksa Al untuk mempertemukan Anara dengannya. Rupa-rupanya Ibu satu anak itu sangat menyukai cita rasa dari masakan 'calon menantunya' kata Al.
Keesokan harinya, karena hari senin tanggal merah, Al berinisiatif mengajak Anara jalan-jalan. Itung-itung kencan pertama sebagai pacar, walaupun trial. 'Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada' Ujar Raka saat Al menceritakan kejadian mulai dari dirumah Anara sampai pada tingkah Bundanya.
"Lo mau bawa gue kemana sih, Al?" Teriak Anara yang resah karena Al terus saja berputar-putar melewati bank BRI - Indomaret - Cafenya Vaska - markas Bragos - dan kembali lagi seperti itu.
"Ikut aja." Merasa nada bosan dari ucapan yang dilontarkan gadis dibelakang punggungnya itu, Al memilih mengajak Anara ke taman di pegunungan, yang letaknya diujung kota. Tidak terlalu lama tapi, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.
15 menit menempuh perjalanan tanpa pembicaraan itu, Anara turun dari motor hitam yang disampingnya tertulis 'BRAGAS' dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam taman itu.
Cuaca pagi memberikan kesan sejuk dan embun yang membentu awan ditaman gunung itu sangat menawan. Anara bahkan tidak berhenti menarik kedua sudut bibirnya saat merasakan segarnya udara disana.
Al yang melihat itupun ikut tersenyum. Ada rasa bahagia dalam hatinya saat melihat Anara yang tersenyum lepas seperti itu.
"Lo suka?" Tanya Al memulai pembicaraan, Tanpa menatap lawan bicaranya.
"Suka Al. Bagus banget." Ujarnya bahagia. kemudian Anara mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan disana beberapa kali.
Dua remaja yang sedang membawa gitar itu melewati keduanya. Al yang melihat itu langsung memanggil keduanya. Memberikan tiga lembar uang kertas berwarna merah, kemudian meminjam Gitar itu.
"Pinjam ya, setengah jam lagi kalian bisa balik ambil ini." Ujarnya, dan dibalas anggukan mantap dari kedua remaja itu.
Al pun mulai memetik gitar yang di pinjamnya menjadi nada nada yang sangat sesuai dengan perasaan hati Anara saat ini.
Ku cari tahu tentangmu,
Tanggal dan tahun lahirmu,
Ku pelajari rasi bintang, menebak pribadimu.
Tokoh kartun favoritmu,
Dan warna kegemaranmu,
Ku telusuri dititik mana kita kan bertemu.
Bius aku,
Bius aku dengan tatapanmu,
Tatapanmu.
Misterimu,
Menyiksaku, tapi sungguh candu,
Sungguh candu.
'Lo cantik Nar, gua suka. " Batinnya
Lika liku labirinmu, takkan urungkan niatku,
betapa ku yakin kita berdua bisa menyatu.
jebak aku dalam labirinmu,
labirinmu.
tersesatku,
tersesatku di adiwarnamu.
pesonamu.
Anara Tersenyum, Berada didekat Al benar-benar membuat dirinya terasa aman. Bahkan hatinya pun ikut menghangat.
"Al?"
"Hm?"
"Lo pernah suka sama seseorang?" Anara meremas baju disampingnya kuat. Jantungnya berdetak sangat cepat saat pertanyaan yang entah terpikirkan dari mana tercetus begitu saja dari mulutnya.
"Pernah." Jawab Al menatap Anara sambil menarik kedua sudut bibirnya.
'Sama orang yang ada disamping gue. Orang yang sekarang gue tatap. Lo, Anara.' Lanjutnya dalam hati. Jujur, hatinya kelu untuk berbicara. Memang benar lirik yang tadi Ia nyanyikan. 'Menyiksaku tapi sungguh candu'.
"Orang yang lo suka pasti beruntung banget." Pipi Anara memanas. Entah kenapa hatinya mengatakan kalau Ia menyukai Al, sedangkan otaknya jelas jelas menentang hal itu.
Pintar, ceria, baik, tampan, manis, mandiri, tegas, devinisi terlalu sempurna untuk Anara. Walau awal pertemuan mereka dipenuhi dengan perdebatan sinis, tidak bisa dipungkiri Ia terbawa suasana dengan semua hal yang keduanya lakukan bersama.
"Kalo lo, gimana Nar?" Tanya Al membalikkan keadaan.
"Sama, gua juga pernah." Jawab Anara pasti. Hati dan mulutnya sepertinya benar-benar melawak perintah otak.
Al hanya tersenyum kemudian melanjutkan memainkan gitarnya. Tak lama kemudian dua remaja pemilik gitar itu datang untuk meminta gitarnya kembali. Sepertinya mereka ingin pulang.
Al dan Anara pun bangkit dari duduknya dan mengembalikan gitar itu. Berucap terima kasih kemudian melangkahkan kakinya kearah motor yang tadi keduanya naiki.
Al menjalankan motornya dengan Anara yang berpegangan pada ujung-ujung jaket yang Al kenakan.
"Lo mau makan gak?"
"Terserah aja."
Ide cemerlang terlintas diotaknya. Motornya mulai membelah jalanan menuju markasnya. Niatnya ingin mendekatkan Anara dengan Bragos. Biarlah nanti dia menggunakan go food untuk memesankan makanan, atau menyuruh anggota Bragos membeli nasi bungkus.
"Mau ke markas lo, Al?"
"Iya, lo mau kan?"
"Kan gue udah bilang terserah."
"Oke."
Al menambah kecepatan motornya, sejujurnya kalau bukan membawa seorang gadis dibelakangnya, Al pasti sudah menambahkan kecepatan motornya untuk ngeprank malaikat irazil. Walaupun Anara juga suka balapan, tapi tetap saja rasanya itu takut kalo nanti kenapa-napa.
Setibanya di markas Bragos, Al menggenggam tangan Anara memasuki markasnya. Beberapa anggota Bragos menatap Al horor.
'Bos suka cewek?' Tanya sebagian anggota Bragos dalam hati.
Raka yang menyadari kedatangan tamu berjalan menuju pintu utama, 'Mampus kan lo, udah gua bilangin, the power of Raka itu gak pernah boong!' Batinnya.
"Calon ibu negara ya Al?"
****
jangan lupa votenya brodi, see u next part.

KAMU SEDANG MEMBACA
HATE OR LOVE
Ficção Adolescente"Gue benci deh sama lo." "Iya, gue tau lo cinta sama gue." "HALU NAJIS!" Sepaket kisah penuh teka teki, takdir yang mempertemukan untuk sebuah perpisahan? atau takdir perpisahan dengan awal sebuah pertemuan yang indah? Kisah yang indah namun rumit...