35 || Tentang surat

3 2 0
                                    

Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.

*****

Biarkan rasa ini terus ada. Entah untuk nanti, atau selamanya. Karena sumber bahagia akan terus menetap dihati tanpa ada pengganti.

--- Al

Biarkan tiap insan bahagia. Entah untuk nanti, atau selamanya. Setidaknya seseorang pernah bahagia sebelum semuanya berakhir.

--- Anara

*****
(bisa baca part 7 lagi kalau mau, biar inget)

Anara yang baru saja tiba menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk dikamarnya. Matanya terpejam saat mengingat sesuatu yang mengganjal dihatinya.

'surat waktu itu!'

Anara membuka laci nakasnya dan mencari kertas buku berisikan surat yang pernah Ia dapatkan waktu itu.

'112'

"Siapa ya?" Gumamnya pelan.

Seketika otak cantiknya terpikirkan sebuah nama yang terlintas. 'Al'

"Satu itu 'A' berarti dua belas itu 'L'?" Tanya Anara pada dirinya sendiri. Saat memastikan apakah huruf 'L' benar-benar terletak pada angka kedua belas, kedua sudut bibir gadis iti terangkat.

Anara mulai menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang yang sudah pasti menjadi alasannya sedang tersenyum saat ini.

"Kenapa sayang?"

"112, it's you, right?"

Seseorang dibalik telefon itu tersenyum. Ada bahagia yang dirasakan saat apa yang Ia ingikan terjadi. Anara mengetahuinya saat keduanya sudah saling terikat satu sama lain. Rasa permusuhan itu sudah tidak ada lagi sejak hari dimana keduanya memulai hubungan.

"Dari mana kamu tau?"

"Kodenya."

"I love you too, Al."

shit!

Ini tidak baik untuk kesehatan jatung Al. Habis ini Ia harus kedokter.

"Pardon me?"

"Gak ada siaran ulang!"

Sambungan terputus. Keduanya tersenyum memikirkan hubungan mereka sendiri. Dari awal dimana Anara yang selalu membalas kata-kata Al sampai muncul perdebatan, tidak ingin mengalah satu sama lain, dan sekarang terikat akan perasaan.

'Bahkan ketika aku tak bersamamu, bahagiaku masih tentang kamu'

*****

Alarm yang berbunyi pukul 05.30 membangunkan seorang gadis dari tidurnya. Pagi ini ada upacara diseluruh sekolah di Indonesia. Sesekali Ia tidak ingin bolos upacara demi menghargai jasa pahlawan. Jadilah Anara memilih bangun lebih awal agar dapat mengikuti upacara bendera.

Setelah bersiap-siap, Anara menuruni tangga satu persatu dan melihat cukup banyak sarapan pagi ini, terutama kedua orang tuanya ada disana. Beberapa minggu terakhir keduanya memiliki projek diluar kota. Mereka pun sudah meminta ijin pada Anara untuk pergi meninggalkannya beberapa minggu dan meminta Al untuk menjaga Anara.

Karena projeknya sudah selesai tepat waktu, Anita dan Prama memilih untuk segera pulang menemui anak gadis kesayangan mereka.

"Papa sama Mama kapan pulang?" Tanya Anara yang baru saja duduk dikursinya.

"Tadi malam sayang, kamu mau susu coklat?" Jawab Anita mengusap rambut anaknya. Rasanya baru kemarin Ia melahirkan Anara, merawatnya, dan sekarang sudah sebesar ini.

"Mau, Ma." Jawab Anara yang mulai mengoleskan selai coklat pada rotinya.

"Bentar lagi kamu kelas dua belas, mau kuliah dimana, hm?" Tanya Prama sambil menatap anak gadisnya.

"Nanti liat ya Pa, Anara pengen satu kampus sama Al soalnya."

"Al pintar sayang, dia bisa ikutin kemana aja kampus kamu."

"Jadi maksud papa, Anara gak pinter gitu?" Ngambek Anara bercanda. Ia tahu maksud papanya itu biarkan Al yang menyesuaikan dimana Anara memilih universitas. Tapi tetap saja semuanya perlu didiskusikan.

"Papa tau kamu mengerti maksud papa."

"Hehe, Anara tetep harus obrolin dulu pa sama Al."

"Dimanapun kamu mau, Papa sama mama gak akan maksa. Masa depan punya kamu, jadi semuanya hak kamu."

Anara suka dengan pemikiran seperti ini. Papanya sangat dewasa membuatnya tidak tertekan seperti kebanyakan orang diluar sana. Masa depan itu punya kita, orang lain gak berhak ngatur-ngatur kita mau kuliah dimana, nikah kapan, kerja atau terus kuliah. Itu privasi.

"Iya pa, siap." Balas Anara yang sudah selesai dengan sarapannya.

"Pa, Anara berangkat dulu ya." Pamit Anara saat mendengar bunyi motor dari luar. Ia menyalimi tangan kedua orang tuanya, kemudian melangkah keluar rumahnya.

"Morning sayang."

"Morning too, Al."

"Mama sama papa lagi di rumah?"

"Iya, semalam pulang."

"Aku sapa dulu, bentar."

Al melangkah melewati Anara masuk kedalam rumah gadis itu. Menyapa kedua orang tua Anara kemudian kembali keluar.

"Al."

"Hm?"

"Pakai matic yuk, bosen make ninja mulu." Ujar Anara memanyunkan bibirnya. Berharap dengan itu Al akan mengabulkan permintaannya.

"Jangan manyun gitu kalo di cium gak mau. Ayo pake matic. Mana kuncinya?" Anara langsung memberikan kunci motor maticnya yang biasanya Ia gunakan berkeliling kompleks Pada Al.

Al mulai menjalankan motornya saat dirasa Anara sudah duduk dengan nyaman dibelakangnya. Perjalanan kurang lebih 20 menit itu terasa singkat karena topik yang Anara berikan seakan tidak pernah habis.

Al mulai memarkirkan motor milik Anara dibarisan inti Bragos. Banyak yang menatapnya bingung. Seakan, 'sejak kapan Al jatuh miskin?' Namun tak urung, banyak juga yang memujinya karena katanya lebih berdamage saat menggunakan motor matic.

"AL!" Raka yang kebetulan baru sampai juga langsung menghampiri keduanya.

"Nape?"

"Saran gue, jangan percaya apapun dan dari siapapun selain Anara langsung hari ini."

*****

Jan lupa votenya gan! see u next part.

HATE OR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang