27 || Penyerangan dadakan

7 4 0
                                    

Cerita pertama gan, maaf ya kalo ada typo. kalau ada kesamaan tokoh ataupun alur, baca dulu sampai abis baru nyimpulin ya, thank you manis.

*****

Sekitar jam delapan malam, Anara keluar dari rumahnya menuju lapangan Skateboard sesuai dengan apa yang Ia janjikan dengan Raka. Namun sebelum menuju lapangan skateboard, Anara pergi menghampiri markas Stamrat yang sudah lama tidak Ia kunjungi lagi. Ia ingin memanggil sahabatnya, namun mencegah Bragos menunggu terlalu lama, Ia memilih untuk langsung ke lapangan skateboard saja.

Dengan kecepatan dan kelincahannya membawa motor kebanggannya itu, kurang dari tiga menit, Ia sudah sampai dilapangan Skateboard disusul seluruh anggota Stamrat dibelakangnya.

"Ini kita ngapain ya ibu negara?" Tanya Saka yang hanya ikut perintah Raka saja. Namun belum tau alasan utamanya apa.

"Nanti kalian tau kok. Ini udah semuanya dateng?" Jawab Anara yang langsung memberikan pertanyaannya kepada Raka dan dibalas anggukan oleh pria itu.

Dilain tempat, Al gelisah sendiri karena Ia terus menunggu Anara menghubunginya. Ia ngambek, tapi ia juga merindukan gadisnya. Demi menjaga imagenya, Ia memilih untuk menunggu Anara mengirimkannya pesan terlebih dahulu.

Saat mendengar notifikasi dari ponselnya, semangatnya meningkat mengira bahwa Anara yang memberikan kabar, rupanya pesan yang benar-benar memancing emosinya.

08227369xxxx
Lo gak dateng sekarang juga di markas Bragos, markas lo jadi abu.

Alfikra
ajg

Al langsung melangkahkan kakinya mengambil jaket Bragos dan kunci motornya. Ia berlari menuruni tangga dan langsung menghampiri motornya. Menyalakan motornya dan langsung menarik gas motornya dengan kecepatan penuh. Membelok-belokan motornya dengan lincah bahkan tidak memperdulikan para pengguna lain yang sudah mengumpatinya.

Al meneguk ludahnya kasar melihat lebih dari dua ratus orang berdiri didepan markasnya, sedangkan Ia hanya seorang diri. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa bisa lupa membawa ponselnya.

"Selamat datang untuk kekalahan Al. Maksud gue Bragos." Ejek Riko yang memimpin pasukannya.

Al menatap Riko sinis. Cara bermainnya terlalu curang. Al langsung mengambil helmnya dan menekan tombol merah kecil yang sengaja dibuat untuk mengantisipasi hal sedarurat ini.

Bunyi dering bahaya berbunyi pada ponsel Raka. Jantungnya berdegub kencang saat lambang mahkota yang ditunjukan ponselnya. Anara yang menyadari hal itu langsung menghampiri motornya dan menancapkan gas motornya tanpa memberikan aba-aba pada yang lainnya. Perasaan takut menghampiri dirinya. Kecemburuannya terhadap Al dan Sara tadi membuatnya lupa untuk menyuruh Al waspada. Firasatnya sejak tadi siang terbukti, ada yang tidak beres akan terjadi.

Tak memperdulikan pengguna jalan yang lain, Anara terus memacu motornya secepat mungkin menuju markas Bragos. Hatinya mengatakan Al dikepung disana. Ungkapan doa terus berharap Al bertahan sampai Ia ada disana. Anara melirik kaca spion motornya, Raka dan seluruh Anggota Bragos serta Stamrat mengikutinya. Walau jarak mereka terpaut cukup jauh, Anara tetap menancapkan gasnya. Tidak perduli Ia akan sampai duluan disana dan menghadapi ratusan orang berdua terlebih dahulu, yang penting Ia bisa cepat sampai.

Anara yang melihat ratusan orang berdiri didepan markas Bragos membunyikan kalksonnya. Ia tidak perduli akan menabrak orang sekalipun, intinya Ia harus membawa motornya sampai diseberang supaya tidak terpisah dari Al.

Tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan motornya, Anara terus melajukannya sampai anggota Raskal memilih minggir supaya nyawanya tetap aman. Anara yang melihat itu tersenyum sinis. 'Mental gitu doang? banci.' batinnya.

Anara menekan remnya kuat sampai ban belakangnya terangkat. Motornya hampir menabrak motor Al, namun dengan sigap, Ia membanting stang motornya hingga Anara memutar dengan ban belakang yang terangkat dan motornya langsung berhenti.

Al melototkan matanya pada Anara. Rem mendadak seperti itu bisa sangat berbahaya bila dilakukan dengan orang uang tidak provesional, namun Anara melakukannya seperti sebuah mainan balon tanpa beban.

Bahkan tak lama kemudian, bunyi ratusan motor memasuki daerah markas Bragos. Al yang melihat itu tersenyum senang. Bragos memang selalu bisa diandalkan.

"Jadi gimana Ko? Gue yang siap kalah untuk pertama kali atau lo yang akan kembali kalah setelah tidak pernah menang?" Tanya Al pada Riko yang menatap seluruh anggota Bragos tidak percaya. Ia sudah memantau markas Bragos itu kosong sejak satu jam yang lalu. Kenapa rencananya dan partnernya itu bisa gagal?

"SERANG WOI!!!" Teriak Riko tidak terima. Aksi baku hantam itu tidak bisa dihindari.

Anara yang masih memantau keadaan memutar otak kecilnya. 'Sialan, bahkan anggota Bragos dan Spamrat cuma sepertiganya.' Antisipasi supaya tetap aman kalau Raskal menambah pasukan mendadak harus ada. Ide cantik terlintas diotaknya.

Wellcome back Anara yang dulu.

Anara mengangkat ponselnya kemudian menelpon seseorang. Senyum liciknya menatap lautan manusia didekatnya. Akhirnya setelah sekian lama Ia harus kembali pada sifat aslinya.

Anara mulai menyerang musuh Bragos membantu Al satu persatu. Perlahan namun pasti, Anara dengan cepat meruntuhkan semua orang yang mencoba menyerangnya. Tendangan di dada tepat dekat jantung membuat pembulu darah pecah disana akan menjadi kelemahan besar tiap manusia.

Anara menarik tangan dua orang sekaligus, membantingnya ketanah kemudian menginjak dada mereka keras. Melumpuhkan kaki mereka dengan menendang lutut agar berlutut ditanah, kemudian menedang kepalanya agar berciuman dengan kerasnya aspal.

Suara motor bersahut-sahutan. Perkirannya benar, Raskal membawa pasukan cadangan. Tangannya semakin mengepal saat melihat siapa yang memimpin pasukan tersebut. Perkiraanya hari ini tidak ada yang meleset sedikitpun.

"Hai Anara."

*****

Jan lupa vote gan, see u next part!

HATE OR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang